19 Januari 2017

Aku dan Logika

Aku, kamu, dan logika kita..

It's been a while since I wrote my last story. Aku pengen cerita. Cerita yang gak akan aku pernah tahu akan pada siapa aku ceritakan. 

Kamu. Kamu yang ada, pernah ada, dan sudah hilang entah kemana. Aku tidak pernah membenci seseorang, baik itu kamu ataupun dia. Kalo orang bilang aku itu terlalu baik, mungkin bukan tapi polos lebih tepatnya. Aku tak pernah bisa berkata, "what do u you want from me?" but I'll say, "it'll be okay, right?" Aku tak pernah sadar dan seakan tak sadar sampai hari ini. Hati ini masih tertutup karena bukanlah hal mudah untuk segera melupakan. Bahkan tak hanya satu, lebih. 


Ingin mengakhiri dan melupakan, but its hard to do. So, what should I do? Aku hanya selalu berpikir sendiri sampai hari ini. Sampai pada akhirnya ada yang bilang, "kamu baik-baik ya disana." tapi setelahnya pergi kemudian. Selalu begitu. And I said, "I will." by the way. 


Ini 2017, status tanpa pekerjaan, berada di rumah, yang seharusnya jadi tempat paling nyaman dan menyenangkan untuk ditinggalkan tapi itu hanya mimpi belaka, berjuang sendiri, dan terluka sendiri, dan bingung maunya apa. I ever said, "I will to do something in this year." I hope I can do that and more to do that. 


Tuhan selalu punya cara buat negur hambanya. Mungkin belum banyak yang tahu kalo aku pengen banget buat kembali ke daerah rantau. Daerah yang istimewa tapi memang begitu adanya. Sejenak cukup. Setelah tahu ada yang salah dan Tuhan kasih petunjuk, aku dapat hadiah kesempatan itu untuk kembali kesana. Semoga segera. But, I dont know when. Seperti halnya soal hati. Tuhan sudah menetapkan dengan siapa kita berjodoh. Maka menjadi seorang yang belum punya pasangan, tak menjadi perihal yang kelewat penting. Ketika kita meminta orang yang pantas dengan kriteria begini dan begitu, akan ada pertanyaan timbul : "Sudahkah aku sesuai dengan kriteria orang lain?" manusia tidak akan pernah merasa puas. Tapi memantaskan diri adalah pilihan pertama untuk dilakukan jika memang benar ingin mendapatkan pasangan yang pantas pula. Kalau menurutku, punya teman, sahabat, partner yang baik, banyak omong, dan setia adalah salah satu kesempatan yang gak akan pernah aku sia siakan. Daripada sahabat harus berakhir ke ikatan cinta terus menjalani hubungan pacaran kemudian putus? Habis sudah. Kali aja, jodoh kita diantara sahabat kita itu. Siapa tahu kan (ini mah ngarep re-).

Ingatlah satu hal, setiap orang punya cara, sifat, pikiran, kebiasaan, dan lain sebagainya berbeda beda. Jangan samakan semua, jangan saling menyalahkan, dan jangan lain menjatuhkan. Gunakan logika yang sesuai dengan fakta di lapangan. Berpikirlah sejenak sebelum logika itu diutarakan, jangan sampai menyakitkan orang lain. 

Nah, untuk kamu. Aku sudah terus memutuskan tapi ternyata keputusan itu belum mantap. But you're my best I ever had. Tawa, bicara, dan muka keselmu itu bikin rindu dan buat aku patuh. Rindu karena memang rindu dan patuh karena semua yang kamu katakan memang benar adanya. Jadi, yasudahlah. Aku cukup mundur beberapa langkah lagi dan benar-benar melupakan. 


Absurd story for first post in this year. By the way, HAPPY NEW YEAR 2017.



Love,
R