Saya diam ketika hendak bicara
Kamu bicara dengan lagak kasarmu
Apa kamu marah?
Saya hanya terhenyak ketika semua itu tidak terjadi
Hanya saja, kamu terkejut ketika kamu tahu,
Saya tak akan berbicara padamu
Tapi kepada kita di masa depan.
Akankah kita masih akan bersama?
10 Desember 2017
Kita dan Kata
Kita tak banyak berkata kala bertatap
Kita hanya saling bercerita tentang banyak jiwa
Jiwa yang selalu kita kagumi
Kita tak bicara tentang kita
Senyum kita tak terkendali ketika mata saling tatap
Lalu kembali berkata tentang jiwa lainnya
Kita tak rela berpisah ketika sudah waktunya
Kita hanya saling bicara dalam hati
Sudahkah saatnya?
Aku bertanya karena hatilah yang bertanya
Aku berkata karena rindulah yang berkata
Aku diam ketika mulut tak henti tersenyum
Karena aku bahagia.
10/12/17
Kita hanya saling bercerita tentang banyak jiwa
Jiwa yang selalu kita kagumi
Kita tak bicara tentang kita
Senyum kita tak terkendali ketika mata saling tatap
Lalu kembali berkata tentang jiwa lainnya
Kita tak rela berpisah ketika sudah waktunya
Kita hanya saling bicara dalam hati
Sudahkah saatnya?
Aku bertanya karena hatilah yang bertanya
Aku berkata karena rindulah yang berkata
Aku diam ketika mulut tak henti tersenyum
Karena aku bahagia.
10/12/17
9 Desember 2017
Diam dalam Dia
Dia bercerita dalam diamnya dia.
Dia sebuah nestapa yang hadir dalam kehangatan.
Kupikir dia hanya berkelana tanpa berniat tinggal.
Dia tinggal untuk waktu yang lama,
kemudian dia pergi berkelana kembali.
Dia bercerita dalam diamnya dia.
Dia adalah sebuah awal gejolak jiwa dalam dinginnya pagi.
Dia adalah awal dari perdebatan hati yang selalu ingin dia tinggal.
Tapi dia selalu punya jalan untuk selalu pergi
lalu kembali jika sudah saatnya.
Dia bercerita dalam diamnya dia,
dan kamu adalah yang mengerti dengan diamnya dia.
Tidak denganku.
09/12/17
Dia sebuah nestapa yang hadir dalam kehangatan.
Kupikir dia hanya berkelana tanpa berniat tinggal.
Dia tinggal untuk waktu yang lama,
kemudian dia pergi berkelana kembali.
Dia bercerita dalam diamnya dia.
Dia adalah sebuah awal gejolak jiwa dalam dinginnya pagi.
Dia adalah awal dari perdebatan hati yang selalu ingin dia tinggal.
Tapi dia selalu punya jalan untuk selalu pergi
lalu kembali jika sudah saatnya.
Dia bercerita dalam diamnya dia,
dan kamu adalah yang mengerti dengan diamnya dia.
Tidak denganku.
09/12/17
Langganan:
Komentar (Atom)