23 Agustus 2018

A little thinks : I’m not supposed to be home

Jadi ini tulisan satu tahun lalu dan akhirnya aku menemukan dia dalam folder yang tak pernah kusentuh setahun terakhir. Just read and enjoy it.

---


Beberapa waktu lalu, aku teringat akan sebuah janji. Janji ini berawal dari sebuah pertanyaan seorang supir taksi yang mengantarkanku dari adisucipto menuju jalan kaliurang. Kok taksi? Sebelum muncul perkembangan ojek online, aku adalah salah satu pengguna taksi setiap 3-4 kali per tahun dengan tujuan yang selalu sama. Jalan kaliurang – Adisucipto PP. Terus pertanyaan bapak supir apa?

Waktu itu, beliau akan mengantarkanku pulang ke kosan dari bandara, “Setelah kuliahnya selesai, bakal pulang kerumah atau cari kerja di rantau mbak?” tanya beliau dengan logat jawanya. Sempat tertegun, tapi kujawab, “Kayaknya saya pulang sih pak. Karena saya anak tengah dan adek saya laki-laki. Saya pengen nemenin orang tua di rumah. Toh disana juga banyak perusahaan (related dengan jurusanku),” jawabku tegas dan yang sebenarnya tak kupikirkan setelahnya. Tapi aku lupa apa jawaban dari bapak supir, yang kuingat aku pernah berkata seperti itu.

Banyak tahun berlalu, aku kembali merantau. Kali ini untuk bekerja dan sudah berjalan satu tahun. “I’m not supposed to be home,” itu yang terlintas dibenakku ketika teringat percakapan beberapa tahun yang lalu. Mungkin orang tuaku akan sedih kalau tahu apa yang terpikirkan olehku. Tapi aku sudah mencoba untuk tetap tinggal dan menemani mereka.

Di pertengahan tahun 2016, aku resmi menjadi seorang sarjana. Sarjana Teknik Kimia, impianku sejak lama. Tidak ada yang menuntutku untuk lulus tepat waktu, 3 tahun 9 bulan waktu yang kubutuhkan untuk tutup buku dan dinyatakan lulus. Agustus 2016, tali togaku berpindah. Disaat itulah aku resmi menjadi jobseeker (re: penggangguran). Mengisi waktu luang menunggu panggilan kerja dan wisuda kala itu, aku dan seorang teman baik membangun sebuah usaha. Usaha yang kami bangun karena hobi dan seorang teman lain menyarankan kami untuk membuka usaha ini. Walau tak berjalan lama, usaha ini membuatku punya uang jajan setiap bulannya, walau tak banyak. Akan kuceritakan lain waktu untuk lengkapnya.

Lalu di pertengahan September 2016, aku mulai mendapat tuntutan untuk segera kembali ke kampung halaman. Saat itu sedang semangat-semangatnya untuk mencari pekerjaan dan membangun usaha, mencari pelanggan dan supplier terbaik. Sebulan berlalu, awal Oktober tuntutan ini mulai gencar dibangun oleh orang tuaku. Padahal saat itu, aku sudah menjelaskan apa goal dan apa yang aku kerjakan. Akhirnya aku meminta kesempatan selama 2 minggu, karena bersamaan akan diadakan jobfair di pertengahan bulan dan meminta perpanjangan 1 minggu sambil menunggu panggilan kerja. Tapi apapun yang kulakuan saat itu, aku tetap harus kembali. Dengan berderai air mata, I was back home. Pamit dengan banyak orang, teman terbaik, sahabat tercinta, dan banyak lainnya. Dengan berat hati, dengan banyak pelukan dari orang terdekat, aku kembali, tanpa senyum merekah dan dengan langkah berat. Aku sudah rindu mereka meski aku masih di kota yang sama.

Sampai dirumah, ketika kenanganlah yang hanya tertinggal di rantau, aku makan dengan tidak selera. Aku membuka koper dan tas ransel, isinya penuh dengan hadiah perpisahan. Aku lantas menangis. Short story, aku sudah kembali ke rumah untuk selama dua minggu. Mulai banyak batasan-batasan yang dulu tak pernah berlaku ketika aku merantau. Dilarang sering keluar rumah, dibatasi ketika harus cari kerja diluar kota, tidak bisa berkunjung terlalu lama kerumah keluarga, dan banyak batasan lainnya. Aku banyak menangis di rumah. Semua yang kulakukan, walaupun itu sudah sebagaimana mestinya, tetap saja itu salah. Desember 2016, kurasa itulah puncaknya. Tidak butuh waktu yang lama untuk menyadari aku kehilangan konsentrasi, aku banyak melamun, aku sering sakit, akhirnya aku jadi pelupa, dan jadi bahan cemoohan lagi. Hingga seorang teman dekat mengundangku ke nikahannya sebagai panitia kecil dinikahannya. Acara di bulan maret 2017 dan akhirnya aku bertekad untuk bisa hadir di acaranya. Aku mulai mencari pekerjaan kembali, walau harus diterima di kampung halaman, aku mencobanya. Ya, I tried many times to applied and no one accepted me at that time. Dan puncak dari segalanya terjadi ketika aku harus berhadapan dengan kenyataan, bahwa aku benar-benar susah untuk kembali hidup dirantau. Saat itu, aku dilarang untuk melamar pekerjaan, dilarang untuk sakit, dibatasi untuk bertemu teman, dibatasi untuk berpergian, dan akhirnya aku mendapat cemoohan lagi. Aku sangat kecewa saat itu, kalau itu orang lain, mungkin akan kubiarkan saja. Tapi ini dilakukan oleh orang terdekatku.

Aku lahir dan besar dilingkungan yang keras selama 18 tahun dan akhirnya berpindah selama 4 tahun ke daerah rantau, membuatku banyak belajar. Banyak sekali. Aku bukan orang yang bisa menyombongkan diri, tapi kalau kata kebanyakan dari mereka, “Berpindah membuatku jadi sok lembut dan membuat orang tuaku susah,” dan aku tak pernah tahu apa yang terjadi didalam hidupku. Februari 2017, kulewati dengan banyak harapan. Aku katakan ingin liburan sejenak ke keluargaku, aku ingin mendatangi nikahan sahabatku. “Ngapain sih? Berapa lama? Emang sepenting itu kawanmu itu? Kamu udah gak peduli......?” begitu tanggapan beberapa orang. Yang kulakukan adalah mencari alasan kembali yang masuk akal dan meyakinkan mereka kembali (yes, aku menemukan jadwal pameran lowongan kerja yang wajib untuk didatangi). Walaupun pertanyaan itu terus berulang, aku coba untuk tegar kembali meski rasanya sesak dan kala itu, aku memesan tiket pesawat tanpa melihat ke belakang. Tujuanku sudah bulat. Aku ingin mulai mencari pekerjaan kembali, mendatangi acara nikahan temanku, dan mulai bekerja.

Usaha tidak membohongi hasil.

Aku kembali ke kota rantauku, yang kurindu, bertemu banyak teman dekat, makan makanan favorit, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan. Sebuah pencapaian yang bahkan tidak pernah mendapatkan pujian selama satu tahun ke belakang. Kalau kuingat percakapan yang kulakukan setiap hari dengan orang tuaku saat aku tes kerja, yang mereka ucap tidak selalu menenangkanku. Kenapa begitu? Karena mereka tahu, aku akan berpindah lagi jika aku diterima. Di pagi hari itu, interview terakhir dengan manajemen perusahaan dan aku menjadi peserta pertama pagi itu. Apa yang aku pelajari malam harinya sudah lenyap, aku malah banyak mengobrol dengan seorang teman. Interviewku cukup lama dan akhirnya aku diterima (re: sampai sekarang, I’m still here). Pesan mereka padaku saat itu adalah, “Setelah ini kamu telpon orang tuamu dan bilang ‘ma, aku lulus. Aku diterima kerja’,” aku hampir menangis saat itu dan yang kulakukan adalah melakukan pesan beliau tadi. Guess? No one answered my phone and not replied my message at that time. Padahal aku tahu, di jam aku menelepon mereka, mereka bisa mengangkat telpon atau membalas pesanku. Jeda yang cukup lama, aku menerima pesan yang tak tepat untuk disampaikan kepada orang yang penuh penantian.

You know, I did my best to be here. Dengan perbandingan 30:2000an sekian orang, aku menjadi salah satu orang dari 30 orang tadi. Dan menjadi seperti yang sekarang adalah perjalanan yang cukup panjang bagiku. Walaupun belum pernah ada pengakuan dan selalu ada tuntutan yang tidak pernah aku mengerti. Kadang kala aku butuh seorang kawan (calon) psikolog untuk menjadi tempat curhatku, kadang kucurahkan di secangkir es kopi, atau kepada seorang kawan untuk melihat dan menenangkanku saat aku mulai berderai air mata karena kekecewaanku.

Apa keluargaku tahu tentang ini dan mengerti? Tidak semua, hingga akhirnya aku benar-benar bertahan di tempatku yang sekarang. Mama mungki pernah menangis dan kecewa karena anak perempuannya yang satu ini selalu bisa membalas perkataannya dan mungkin juga menangis dengan apa yang dihadapi dan diterima anaknya yang keras kepala ini.

“Yes, I’m not supposed to be home and I wanna have life far away from home.”

That exactly that I’m thinking now. Aku membayar untuk tinggal dirumah dengan selalu kembali setiap 3 atau 4 bulan sekali ke rumah. Aku tidak ingin kecewa dan sakit lagi. Mentality disorder terlalu jahat daripada sakit tipusku kambuh.

Semua orang punya alasan untuk tinggal dan pergi. Yang kita dibutuhkan bukanlah larangan untuk seseorang tinggal dan pergi sesuai keinginan kita tapi pasti selalu ada alasan dibalik keputusan untuk tetap tinggal dan pergi. Andai aku ingat siapa bapak taksi yang menanyakan pertanyaanku di awal paragraf, aku ingin memberikan jawaban baru, dari seorang aku yang sudah mulai dewasa.

“Pak, saya ingin membahagiakan orang tua saya dengan sepenuh hati, dengan cinta yang tulus. Bukan karena paksaan dan penuh kekecewaan. Saya ingin menunjukkan kehadiran saya dengan senyum yang merekah dan penuh cerita-cerita yang tidak pernah mereka dengar sejak saya merantau 6 tahun lalu. Kalaupun mereka rindu, saya bisa pulang ke rumah ataupun mereka bisa mengunjungi saya.”


With love,
re.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar