9 November 2018

Find an Answer



Ketakutan dari sebuah perjalanan bukan lagi bagaimana perjalanan ini dimulai, tapi kemana dan bagaimana perjalanan ini akan berakhir.

--

Tiba-tiba sebuah keraguan muncul di saat bersamaan dengan tiga orang kawan yang siap-siap berpindah dan berlabuh ke pekerjaan baru. Untuk aku, yang kuanggap seorang yang mandiri dan tidak takut untuk berjalan sendiri, akhirnya menjadi ragu sendiri. Ditambah lagi akan sebuah perdebatan panjang dengan diriku sendiri sejak beberapa bulan belakangan ini, apakah harus lanjut atau berhenti saja. Aku belum paham kemana aku berjalan, kupikir aku baik-baik saja ketika semua orang bersiap pergi dan pindah suatu waktu. Ternyata tidak juga, sebenarnya tidak salah untuk tetap tinggal, tapi aku punya janji dengan diriku sendiri. Aku siap pergi tapi aku belum tahu harus kemana. Jauh atau dekat, sendiri atau bersama, dan apa tujuan untuk tetap tinggal dan begitu pula kenapa harus pergi.

AKU BELUM BISA MENEMUKAN JAWABANNYA.

Sekitar agustus lalu, seorang kawan sempat bertanya, “Kamu yakin siap pergi untuk kuliah lagi atau ini hanya solusi jangka pendek yang kamu pikirkan dan aman untuk kamu lakukan? emosi sesaat bukan?” cukup menyita pikiranku sampai saat ini. Memang ini hanyalah emosi sesaat yang kupikir, bisalah jadi cara untuk ‘melarikan diri’ sejenak. Tapi aku belum kepikiran kemana aku harus berjalan selanjutnya.

Dan lima hari terakhir menjadi hari yang cukup lelah, badan mulai nolak untuk berkegiatan tapi mesti kerja dan report sana sini. Ini pun sudah mengambil satu hari untuk istirahat dan ini masih menjadi sebuah kekhawatiran orang tua di rumah. Setelah sekian lama, bisa bolak balik klinik dua kali dalam seminggu. Pertanyaan untuk pergi dan tinggal pun muncul dalam lima hari ini. Aku ingin memutuskan untuk berhenti sejenak tapi aku belum menemukan apapun yang ingin kulakukan selain menulis ini. Lain cerita dengan yang aku katakan dengan seorang kawan dua hari lalu. Kukatakan padanya untuk membuat Do List yang ingin dia kerjakan sekarang dan dia capai. Ternyata aku masih sama dengannya.

Kalau ditanya apa yang aku pikirkan sekarang, aku memikirkan apa yang harus aku kerjakan hari senin ini. Berada di lingkungan kerja yang cukup keras dan harus berjalan sendiri untuk semua hal yang harus aku kerjakan. Aku yang bekerja sesuai logika, hampir selalu tidak terima ketika harus bekerja yang bukanlah tugasku tapi menjadi kesalahanku ketika itu tidak berjalan baik atau sekadar mengerjakan tugas yang memang tugasku tapi tetap menjadi kesalahanku sendiri karena tidak bisa memenuhi masuk akalnya orang lain. Bekerja dibawah banyak tekanan – bukan lagi bekerja dibawah tekanan – dari banyak atasan yang sulit untuk berkomunikasi satu sama lain, itu ribetnya tidak bisa diungkapkan. Leader satu minta A, satu lagi minta B, satu lagi minta C, dan lain lagi minta DEFGHIJxxxZ dalam waktu bersamaan. Compliment? Jangan tanya, tetap saja jadi sasaran empuk kalo ada kesalahan.

Ini menjadi salah satu ketakutanku untuk tetap tinggal. Tentu saja, namanya juga kerja ya selalu ada tantangan. Tapi tidak dengan mentalku.

Keraguan dan ketakutan ini belum pergi sampai saat ini, entah dari mana awalnya berasal. Banyak resiko yang harus kutanggung dan tentu saja ini bukanlah harapan orang tuaku, mereka ingin aku tetap tinggal. Toh ini kerja.

Ketakutan yang kurasakan ini membuat aku jauh melangkah meninggalkan orang-orang yang aku sayang. Aku merasa cukup untuk melihat mereka dari jauh, merasa aman ketika tahu mereka ada untukku ketika aku hanya butuh menyapa, dan merasa tetap ada ketika mereka siap merangkulku ketika aku berada dekat. Banyak orang yang kutinggalkan, tanpa kabar, tanpa sapa, dan apapun itu. Aku ingin menjauh pergi karena takut kehilangan mereka dengan arti sebenarnya.

--

Apa yang harus kutuliskan untuk ending cerita ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar