25 Juni 2013

Aku (Masih).

Ada satu masa dan waktu yang terus berjalan. Kemudian, seketika berhenti. Aku juga ikut berhenti. Jenuh. Kembali rasa itu hadir seketika dan semaunya. Ujian semakin dekat. Tak kunjung sang jenuh beranjak dari sisiku. Aku bingung. Lelah yang terkadang berlebihan. Terkadang aku coba sandarkan rasa itu pada semua masa yang tak seharusnya. Aku biarkan saja. 

Kembali aku rangkai kata-kata sampai hari ini. Tidak jenuh. Itu yang bisa aku lakukan. Hal yang sepertinya sepele tapi tidak bagiku. Ada rasa berbeda saat aku menggabungkan kata-kata menjadi sebuah kalimat, lalu menjadi banyak kalimat, menjadi sebuah paragraf. Paragraf-paragraf yang menjadi sebuah cerita. Cerita yang terkadang aku bingung apalagi temanya hari ini dan hari-hari selanjutnya. 

Menulis tentang rindu, sosok, foto, apapun. Tampaknya tidak ada rasa lelah. Aku masih coba berjalan beriringan. Mencoba tanpa lelah dan paksaan. Ternyata tidak mudah. Semua butuh perjuangan dan semangat yang besar. Masih banyak yang belum aku mengerti dengan jalan yang coba aku jalani. Berhasil atau tidak. Aku tidak mengerti. Aku mulai lelah. Mata tak berkompromi malam ini. Mencoba mengistirahatkan mata dan badan yang lelah. Semoga tidak dengan doa dan semangat ini.

Selamat menikmati istirahat yang selalu dinanti.

23 Juni 2013

Aku dan Suara.

Suara itu. Aku rindu.
Bukan kedua bola mata yang menenangkan itu.
Belum berjumpa.
Kabar yang tak kunjung datang,
Aku hanya coba menanti saja.
Ada keyakinan tersendiri.
Mungkin bodoh.
Tapi itu aku, dengan segala keyakinan.
Hati. Seonggok daging yang merasakan.
Percakapan yang mengasyikkan, bukan?
Kadang sampai aku tertidur.
Atau aku tersenyum riang saat suara itu bernyanyi.
Saat tebak judul lagu.

Masa lalu yang selalu indah.
Selalu menanti kabarmu,
Hei pemilik suara menenangkan!
:)
 

21 Juni 2013

Aku.

Sebuah indah dan rasa.
Indah diciptakan.
Rasa dihadirkan.
Begitu saja indah datang ketika rasa hadir.
Rasa yang tak selalu pantas.
Begini kah rasa itu?
Rasa yang indah.
Hanya cukup aku.
Aku yang menantimu sejenak lalu.
Kemudian meninggalkanmu.
Selangkah demi selangkah.
Hingga tak hadir langkah lainnya.
Aku bersandar disatu sisinya.
Menanti sosokmu.
Aku masih bersandar.
Menertawakan kebodohan lainnya.  


 Layaknya ombak yang terus besar.
Seraya menertawakan aku dan dia.
Apa kau ikut menertawakan?
Ombak itu indah.
Tak indah jika mereka mengenaiku. 
Basah. Dingin. 
Aku masih tampak lelah mengingat itu. 
Tapi ombak itu tidak. 
Selalu berulang. 
Aku selalu mengaguminya. 
Menertawai. 
Ah. Sudahlah. 
Aku tidak peduli dengannya. 
Hei!
Ada Dia yang menemaniku. 




Masih karena mbak intan :)
foto oleh : Bowo

20 Juni 2013

Hidup.

terkadang lelah.
tapi tidak membuat menyerah.
batu-batu yang aku temui ini.
mungkin mereka pernah terbawa ombak.
lalu kembali lagi.
tak tersusun rapi.
begitu seterusnya. mungkin
tapi membuat mata takjub melihat komposisi mereka.
komposisi? 
aku tak mengerti.
tapi bukankah susunan batu itu sudah ditentukan?
olehNya.
layaknya hidup.
semuanya sudah ditentukan.
jatuh dan bangun.
mungkin terkadang lelah. 
tapi tak menyurutkan sebuah rasa.
semangat.
tidak ada alasan untuk berhenti.
itu saja. 

nb: hasil cerita dari abang :)

19 Juni 2013

Masih.

sebuah nama. sebuah rasa. dua bola mata yang menenangkan. indah. tapi sejenak sayu untuk melihatnya.
aku duduk, coba menatap lagi. lelah. kemudian mundur. 
selangkah sudah. selangkah lagi hari ini.
hal yang bodoh bukan? aku terharu. membiarkan rasa itu menyinari.
ah, sudahlah. aku tidak menyerah. aku mundur.
aku menghilang? tidak. hanya mundur.
bukankah mudah menyampaikan sebuah rasa? mungkin juga tidak.
ya sudahlah..
layaknya batu-batu yang memecah ombak. masih sabar menanti kedatangan ombak. lebih besar.
terus memecah. tapi tidak akan selalu.
suatu waktu akan berbeda. hanya satu masa dan waktu.

nb: masih terinspirasi dari mbak intan :)

Tentang.





tentang sebuah nama dan rasa.
tentang nama dan mata.
hanya itu, ujarnya.
tentang satu keyakinan dan perasaan.
aku lagi.
mundurlah perlahan.
waktu akan terus berjalan.
berjalan bersama indahnya rasa yang tercipta.
berbicara.
rasa yang nyaman.
kemudian menjadi bahan tertawaan.
layaknya jejak yang ada.
tersapu oleh air laut yang datang.
dia menghilang.
air yang menenangkan.
bersyukurlah.
hidup bukan sebuah pengharapan.
berusaha.
ada aku yang selalu ada.

 nb: buat mbak tersayang :)
keep smile dear..

13 Juni 2013

Mas yang Banyak Mengajarkan ..



Hei! Malam kembali menyapa. Langit gelap sekali malam ini. Cukup menakutkan, tidak hujan juga.

Teringat seseorang, semacam rindu juga. Aku dan kakakku satu ini belum jumpa sekalipun tapi seakan sudah lama tak jumpa. Dia sedang kembali ke Indonesia dalam rangka liburan dan esok dia akan melangsungkan pernikahannya. Seorang muslimah yang sudah di khitbah kan, itu pun mereka belum jumpa. 

Dia yang sedang menjalankan beasiswanya ke sebuah negara impiannya itu, selalu menyempatkan diri untuk menyapa, mengobrol, mendengarkan ceritaku, sharing, dan hal lainnya. Suatu waktu pun kita pernah mengobrol serius sampai hal yang konyol. Ah.. betapa baiknya mas satu ini. 

Dia pernah bilang,

“Kita itu belum pernah ketemu ya dek, tapi mas tuh percaya banget sama kamu.”


Tercurahlah sebuah cerita. Serius kali itu. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Kakakku satu ini agak beda dari yang lainnya. Hmm.. entahlah. Aku juga bingung. Beliau banyak mengajarkan banyak hal. Banyak banget. Adekmu ini menggemaskan ya? Hehehe..

Huhuhuhuhuhu.. Selamat yaaa mas dan mbak... 


*pake terharu loh ini nulisnya*

12 Juni 2013

Obrolan Tak Terduga

Siang ini, tumben sekali. Seorang abang keren menyapa lewat WhatsApp.

Abang (B) : aheuy. blognya update terus.
Aku (A) : Hehehe. Iya dong. Bukannya abang :p
B : kerenlah (y). nah betul itu. jangan tiru abangnya.
A : sip sip.. Ngapain juga niru abangnya :p Blognya banyak, tapi gak update ;)
B : nah betul :)

11 Juni 2013

Dibalik Sebuah Nama

Hei.. Aku rindu! 

Hanya beberapa kata tak bermakna banyak aku sampaikan. Tidak dengan yang dirindukan. Sejak kata rindu itu terlontar, bukankah sudah jarang untuk bersapa? Senyum saja saat aku menuliskan ini dengan sedikit mengingat sebuah nama. Sedikit adil kah untuk mengingat nama tersebut?

Dulu, membayangkan namamu saja aku hanya bisa diam. Tidak sekarang, namamu banyak menjadi perhatian disekitarku. Mereka mencoba menggali, ada apa dengan namamu? Aku tidak diam lagi. Aku saja bingung. Bukankah sebuah nama selalu mempunyai arti sendiri? Aku lupa arti namamu sebenarnya, yang aku tahu hanya sebuah gugus bintang yang indah. Itu pun kalau aku tidak salah. Sampai saat ini, aku belum berani menyebutkan apa arti namaku. Hei! Aku saja hampir lupa untuk bertanya apa arti dari namaku. Mungkin suatu hari nanti, aku akan tahu. Aku mengikuti saja ritme dari namamu itu.

Ceritamu yang banyak itu, beberapa aku ingat. Suara yang menyebalkan itu. Obrolan yang serius tapi konyol. Ahh.. aku mengingatnya. Tidak pantas kan aku mengingat ini. 

Namamu, sejak hampir 2 minggu lalu, kembali lagi terdengar. Namamu banyak menyita perhatian orang banyak saat melihatku. Hei! Tak berkabar. Obrolan terakhir yang aku ingat, penasaran dengan kerusuhan di kotaku. Sampai hari ini, aku hanya tahu beberapa hal saja. Hingga tiba 2 hari setelahnya, pemilihan umum selanjutnya berlangsung. Golput lagi. Tidak ingin banyak tahu.

Taukah? Sampai minggu sore, sejak namamu disebut, orang-orang selalu memperhatikan dengan seksama. Hei! Mereka banyak tidak percaya. Sebenarnya aku punya cerita yang sedikit menguak masa lalu. Seorang tak berkabar muncul dengan tampang terkejut dan membuat terkejut juga. Mereka sedikit memojokkanku dan protes tentunya. Mereka juga mengingatkanku. Tapi lain lagi, dari seorang yang terus berkabar. Dia seakan meyakinkan satu hal. Satu hal yang belum pasti, tapi sedikit menarik perhatian. Walau dia dan sang teman selalu menggoda.

Hmm.. Sudahlah.. Kemarin aku pernah membuat cerita tentangmu, sekarang aku mencoba mengingat namamu terus. Menyalipkan sedikit namamu di setiap doaku. Sahabat, semoga dirimu baik disana. Sampai jumpa. 


Reiny 19:31 
11 juni 2013

10 Juni 2013

S.T - Sarjana Tulis :)

Terlontar sebuah pernyataan, 
"Aku mau jadi wartawan atau penulis aja put."
Terheran temanku satu itu mendengar ucapanku siang tadi. Erennita Putri atau biasa disapa Iput. Aku tersenyum tanda meyakinkan. 

Hei.. cukup aneh aku hari ini. Seakan meyakinkan satu keyakinan yang lama tersimpan. Malu untuk membongkarnya. Meyakinkan kembali.Ya.. Aku mau belajar. Mempertahankan keputusan yang sudah aku ambil. Mengerjakan semuanya lebih dari orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal. Bukankah semuanya akan baik saja? Insya Allah. Aku coba meyakinkan diri ini. Tak segan aku berkata untuk pindah jurusan. Ini agak lebih parah. Jauh memang dari satu keinginan dulu dan sekarang. Sedikit terinspirasi oleh Novel Trilogi A.Fuadi. 

Yaaa... Dua hal yang akan selalu aku perjuangkan. Tetap menulis dan kuliah di jurusan Teknik Kimia FTI UII. Insya Allah. Salahkah? Aku tidak berani menyimpulkan. Tapi aku lebih yakin untuk menjalaninya secara beriringan. 

TARGET : Mendapatkan prestasi dan hasil yang maksimal dari keduanya.

Tetap aneh mungkin. Hei.. Iput bilang, 
"Iya nanti kan dapet gelar S.T (Sarjana Tulis)."
Berpikirlah aku disana. Semua mengingatkan tanpa paksaan. Aku mau belajar lagi. Tetap untuk nulis dan menghasilkan karya yang baik dengan nilai yang selalu baik. Insya Allah.