Sebuah indah dan rasa.
Indah diciptakan.
Rasa dihadirkan.
Begitu saja indah datang ketika rasa hadir.
Begitu saja indah datang ketika rasa hadir.
Rasa yang tak selalu pantas.
Begini kah rasa itu?
Rasa yang indah.
Hanya cukup aku.
Aku yang menantimu sejenak lalu.
Kemudian meninggalkanmu.
Selangkah demi selangkah.
Hingga tak hadir langkah lainnya.
Aku bersandar disatu sisinya.
Menanti sosokmu.
Aku masih bersandar.
Menertawakan kebodohan lainnya.
Layaknya ombak yang terus besar.
Seraya menertawakan aku dan dia.
Apa kau ikut menertawakan?
Ombak itu indah.
Tak indah jika mereka mengenaiku.
Basah. Dingin.
Aku masih tampak lelah mengingat itu.
Tapi ombak itu tidak.
Selalu berulang.
Aku selalu mengaguminya.
Menertawai.
Ah. Sudahlah.
Aku tidak peduli dengannya.
Hei!
Ada Dia yang menemaniku.
Masih karena mbak intan :)
foto oleh : Bowo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar