5 Mei 2016

#2 Pemimpi Kecil : Beranjak Dewasa

Pemimpi kecil kembali.

Ia tumbuh remaja bersama adik kecilnya yang tidak lagi kecil. Si adik kecil masuk sekolah yang sama kemudian mengikuti kelas percepatan. Awalnya, si pemimpi kecil sangat bahagia dengan keberadaan si adik di satu sekolah yang sama, SMPN8. Namun pada akhirnya, ia seakan marah, cemburu, dan iri dengan perlakuan orang tua dan kerabat terdekat. Si adik dilahirkan dengan kecerdasan yang melampaui pemimpi kecil ini. Tapi dengan begitulah kedewasaannya muncul. Bersamaan dengan hal itu pula, ia bertekad untuk banyak bermimpi dan memberikan prestasi dengan cara lain.

Duduk di bangku kelas 8 SMP, ia bermimpi untuk masuk melanjutkan sekolah keluar kota. Jogjakarta tujuannya, ia sudah jatuh cinta pada kota itu sejak lama bahkan hingga sekarang. Saat itu, mimpi seperti itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Mana mungkin dan bisa untuk bisa sampai disana dan bertahan hidup? Tapi entah apa alasannya, ia tetap bermimpi seperti itu.

Saat di jenjang pendidikan ini, ia pun tetap membangun hubungan yang baik dengan banyak orang. Guru, teman, sahabat, penjual makanan, tukang sapu, bahkan anak dari penjual makanan. Ditunjuk sebagai bagian dari pengurus kelas pun rasanya bahagia karena si pemimpi kecil diajarkan untuk menjadi pemimpin kelas yang tegas, sekretaris yang teliti dan perhatian, serta bendahara yang super pelit kalau soal pengeluaran. Bahkan ini sudah dimulai sejak di SD, hanya tak sedetail di SMP. Bersyukurnya ia, banyak teman dan guru baik yang membimbing ia bahkan setelah meninggalkan sekolah ini.

Di SMP ini, ia juga mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Pramuka. Praja Muda Karana. Si pemimpi kecil yang banyak mimpinya ini melanjutkan kegiatan yang ia lakoni sejak SD. Betapa bahagianya ia ketika bisa menjadi salah satu panitia Masa Orientasi Sekolah dan berlagak sebagai senior. Bukan untuk menghukum murid baru semaunya tapi karena bisa bolos kelas (dasar anak nakal). Di masa ini pun, ia mengenal yang namanya cinta monyet. Seorang sahabat menarik perhatian dirinya, menyapanya riang setiap waktu dan bermain bersama. Tapi karena sifat pemalunya, ia menyimpan rapat rasa itu. Hingga akhirnya, di hampir penghujung kelulusan, si pemimpi kecil menyampaikan isi hatinya. Cukup si sahabat yang tahu dan berakhir bahagia sebagai sahabat yang saling mengerti satu sama lain.

Tak hanya mimpi yang ia cita-citakan, banyak momen yang ia lewatkan dan buat bersama para sahabat dan guru. Ia membuat kesal seisi kelas karena sifat membangkang para teman, menonton bioskop usai sekolah, masuk dunia kecil jurnalistik sekolah, menjadi hobi lari, berkenalan dengan internet untuk pertama kalinya, sedih ketika harus ditinggalkan teman pindah sekolah dan berpulang, dan masih banyak lainnya. Kenangan akan inilah yang membuat pemimpi kecil ini tetap melanjutkan bermimpi, untuk membahagiakan banyak orang disekitarnya dan membantu orang untuk tetap bermimpi.

Setelah tiga tahun di sekolah ini pada akhirnya ia lulus dengan nilai yang baik dan mengantarkan ia masuk ke sekolah menengah swasta. Bukan karena ia pemalas, mimpinya lah yang membuat ia sampai di Sekolah Menengah Atas Kusuma Bangsa (SMA Kumbang). Sekolah swasta terbaik di kotanya, saat ia masuk sekolah di sana. Pemimpi kecil ini tetap ingin melanjutkan ke SMAN, sayangnya ia tidak bisa lulus di ujian masuk dan memutuskan untuk sekolah di luar kota. Tapi bersyukurnya ia, orang tuanya tidak memberikan izin untuk meninggalkan kota kelahiran. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di sekolah yang sangat berbeda dengan tiga sekolah sebelumnya. Tidak banyak orang, tapi banyak jenisnya. Ia sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari Kumbang, sampai saat ini.



to be continue..

#intermezzo
di sin se
di san se
di man man hat ku se

di sin se
di san se
di man man hat ku se

Diatas adalah lirik lagu yang pertama kali dikenalkan oleh seorang guru di SMPN8 setelah diajarkan lagu Mars sekolah. Si pemimpi kecil sangat suka lagu ini, sederhana tapi bermakna. Ini adalah lagu modifikasi dari sebuah lagu yang pernah ada.

Pamit yang Tak Terucap

Jadi, aku belum bisa melanjutkan cerita si pemimpi kecil. Tapi segera setelah aku menghabiskan hariku yang melelahkan ini. Ini ada sedikit cerita dari dua bulan lalu.

-----

Dua delapan maret dua ribu enam belas, di mana seorang barista bertanya tentang kedatanganku yang sendiri. Aku hanya tersenyum menyeringai, pertanda aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku sekedara berucap, temanku sedang sibuk dengan kampusnya. Ketidaksanggupanku untuk tidak menutup segala kejadian yang ada di sekitarku. Aku memesan segelas es carmelito, sama sekali bukan kesukaanku, hanya merasa rindu akan temanku itu. Terlalu manis bahkan tanpa tambahan gula, seperti biasa aku tambahkan di es vanilla latteku.

Segelas es carmelito di sampingku tak segera habis masuk ke pencernaan, dia seakan menggoda kesendirianku. Mengapa kamu sendiri, mengapa aku bisa bersamamu hari ini, mengapa kamu mengabaikan es lattemu, mengapa aku? Semua pertanyaan tersebut seakan muncul dari balik manis dan dinginnya ia. Tanpa bisa kujawab. Kuputuskan untuk menuliskan ini seakan suatu waktu aku menemukan jawabannya.

Kembali ke dua delapan maret dua ribu enam belas, di mana café yang sudah lama tak kunjungi ini, sepi. Sang barista tersenyum, menanyakan pesananku, menyebut harga pesananku, dan mengatakan bagaimana aku harus menunggu pesananku. Senyum dan perkataannya mengantarkanku kembali ke beberapa waktu lalu, di mana aku tidak sendiri dan duduk dengan tidak hanya diam. Bagaimana perasaanmu di kala cuaca sedang dingin begini? Ingin aku tanyakan padanya. Ya, cuaca sangat dingin sekali, menurutku, tapi aku tetap jatuh pada segelas es carmelito. Kukatakan, aku rindu padanya.

Obrolanku hanya sebatas pesan masuk yang tak kunjung datang bersama kehadiran akan sosok seseorang. Café ini cukup jauh dari jangkauanku, tapi kukatakan, aku hanya ingin datang menenangkan pikiran dan menyelesaikan tugasku. Aku pun hanya ingin datang ke sini, untuk kenyamanan yang café ini berikan. Aku hanya ingin mengenang masa kenangan yang baik. Aku tak segera membuka catatanku dan menyelesaikan tugasku, aku hanya ingin mengenang dengan jiwaku yang kurasa sudah mulai tersakiti. Bukan aku merasa disakiti, aku pun tak mengharap pamrih, tapi tak bisakah membaca sedikit lelahku akan kesendirian yang tak berujung ini?

Kukatakan, aku cukup berterima kasih kepadamu yang sudah cukup baik mendengarkan ceritaku dan keluhanku. Entah siapapun kamu. Kuucapkan juga maaf, beribu maaf, jika aku selalu mengganggumu dengan kehadiran dan permasalahanku.

Terima kasih atas kehadiranmu, aku pamit dulu. Sampai jumpa. J


3 Mei 2016

#1 Pemimpi Kecil : Hingga Remaja

Hampir dua puluh dua tahun lalu, seorang pemimpi dilahirkan ke dunia. Tepat pada dua november 1994. Seorang pemimpi ini dilahirkan sebagai gadis kecil berkulit putih dengan mata sipitnya, yang sering disalahpahami sebagai keturunan chinese. Dia tumbuh sebagai gadis kecil yang lucu dan menggemaskan tapi ia sedikit tomboy.

Masuk umur lima tahun, ia dikenal sebagai preman kecil dari komplek depan (oh god, senakal itukah?). Tapi ya memang memang adanya, gadis itu tumbuh dengan dua orang kakak dan saat berumur satu tahun 4 bulan, seorang adik kecil lahir menggenapi keluarga bahagianya. Seorang pemimpi ini tumbuh dan besar di keluarga yang sederhana dan besar. Besar dalam artian banyak orang dan berbadan besar. Ia terlahir dengan berat 3,3 kilogram dengan panjang sekitar 50 cm.

Di umur lima tahun, ia masuk Taman Kanak-Kanak (TK) di dekat rumah. TK Dharma Wanita. Yang ia ingat, sejak saat itu, ia selalu berangkat ke sekolah dengan becak. Kendaraan roda tiga yang dikayuh seperti berkendara sepeda. Ia adalah seorang pemalu dengan banyak orang, tapi nakal sekali dengan teman sebayanya.

Gadis kecil ini tumbuh dengan baik, karena ia suka sekali minum susu. Ia tumbuh tinggi dengan badan gede. Orang bilang ia bongsor, memang. Begitulah pemimpi itu diciptakan. Saat berbaris upacara, hampir setiap waktu, ia akan ditempatkan dibagian paling belakang karena badannya yang terlampau tinggi. Saat di kelas pun sama, ia akan ditempatkan hampir dibelakang atau dibagian pinggir agar tidak menutupi papan tulis.

Pemimpi kecil ini pun melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia masuk di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 96. Masih sekitaran rumah, cukup berjalan kaki atau naik becak lagi. Banyak mimpi dan sifat yang terbentuk saat ia tumbuh dan bercengkerama dengan banyak orang lain lagi, Ia mulai mengikuti ekstrakulikuler, semacam olimpiade, dan sejenisnya. Pemimpi kecil ini kemudian membangun hubungan erat yang baik dengan banyak orang di sekolah ini, mulai dari teman, sahabat, guru maupun musuh. Hubungan baik yang pada akhirnya terjalan baik sampai sekarang.

Si pemimpi kecil kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya lagi, ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) yang cukup disegani. Untuk masuk kesana, si gadis kecil memulai ujian pertamanya. Ia persiapkan bersamaan dengan ujian akhir nasional. Kursi yang disediakan tak banyak, tapi peserta yang mengikuti sangat banyak waktu itu. Bersyukurnya ia, ia bisa melanjutkan mimpinya di sekolah ini. SMPN 8. 

di sin se
di san se
di man man hat ku se

di sin se
di san se
di man man hat ku se

la la la la la la la la
la la la la la la la la


to be continue :)