5 Mei 2016

Pamit yang Tak Terucap

Jadi, aku belum bisa melanjutkan cerita si pemimpi kecil. Tapi segera setelah aku menghabiskan hariku yang melelahkan ini. Ini ada sedikit cerita dari dua bulan lalu.

-----

Dua delapan maret dua ribu enam belas, di mana seorang barista bertanya tentang kedatanganku yang sendiri. Aku hanya tersenyum menyeringai, pertanda aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku sekedara berucap, temanku sedang sibuk dengan kampusnya. Ketidaksanggupanku untuk tidak menutup segala kejadian yang ada di sekitarku. Aku memesan segelas es carmelito, sama sekali bukan kesukaanku, hanya merasa rindu akan temanku itu. Terlalu manis bahkan tanpa tambahan gula, seperti biasa aku tambahkan di es vanilla latteku.

Segelas es carmelito di sampingku tak segera habis masuk ke pencernaan, dia seakan menggoda kesendirianku. Mengapa kamu sendiri, mengapa aku bisa bersamamu hari ini, mengapa kamu mengabaikan es lattemu, mengapa aku? Semua pertanyaan tersebut seakan muncul dari balik manis dan dinginnya ia. Tanpa bisa kujawab. Kuputuskan untuk menuliskan ini seakan suatu waktu aku menemukan jawabannya.

Kembali ke dua delapan maret dua ribu enam belas, di mana café yang sudah lama tak kunjungi ini, sepi. Sang barista tersenyum, menanyakan pesananku, menyebut harga pesananku, dan mengatakan bagaimana aku harus menunggu pesananku. Senyum dan perkataannya mengantarkanku kembali ke beberapa waktu lalu, di mana aku tidak sendiri dan duduk dengan tidak hanya diam. Bagaimana perasaanmu di kala cuaca sedang dingin begini? Ingin aku tanyakan padanya. Ya, cuaca sangat dingin sekali, menurutku, tapi aku tetap jatuh pada segelas es carmelito. Kukatakan, aku rindu padanya.

Obrolanku hanya sebatas pesan masuk yang tak kunjung datang bersama kehadiran akan sosok seseorang. Café ini cukup jauh dari jangkauanku, tapi kukatakan, aku hanya ingin datang menenangkan pikiran dan menyelesaikan tugasku. Aku pun hanya ingin datang ke sini, untuk kenyamanan yang café ini berikan. Aku hanya ingin mengenang masa kenangan yang baik. Aku tak segera membuka catatanku dan menyelesaikan tugasku, aku hanya ingin mengenang dengan jiwaku yang kurasa sudah mulai tersakiti. Bukan aku merasa disakiti, aku pun tak mengharap pamrih, tapi tak bisakah membaca sedikit lelahku akan kesendirian yang tak berujung ini?

Kukatakan, aku cukup berterima kasih kepadamu yang sudah cukup baik mendengarkan ceritaku dan keluhanku. Entah siapapun kamu. Kuucapkan juga maaf, beribu maaf, jika aku selalu mengganggumu dengan kehadiran dan permasalahanku.

Terima kasih atas kehadiranmu, aku pamit dulu. Sampai jumpa. J


2 komentar:

  1. isi artikelnya dalem banget dan bikin baper :(


    #SalamBlogger

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh jangan sampe baper ya :D

      terima kasih sudah berkunjung #salamblogger

      Hapus