-----
Dua delapan maret dua ribu enam
belas, di mana seorang barista bertanya tentang kedatanganku yang sendiri. Aku
hanya tersenyum menyeringai, pertanda aku tidak tahu apa yang harus aku katakan
padanya. Aku sekedara berucap, temanku sedang sibuk dengan kampusnya.
Ketidaksanggupanku untuk tidak menutup segala kejadian yang ada di sekitarku.
Aku memesan segelas es carmelito, sama sekali bukan kesukaanku, hanya merasa
rindu akan temanku itu. Terlalu manis bahkan tanpa tambahan gula, seperti biasa
aku tambahkan di es vanilla latteku.
Segelas es carmelito di sampingku
tak segera habis masuk ke pencernaan, dia seakan menggoda kesendirianku.
Mengapa kamu sendiri, mengapa aku bisa bersamamu hari ini, mengapa kamu
mengabaikan es lattemu, mengapa aku? Semua pertanyaan tersebut seakan muncul
dari balik manis dan dinginnya ia. Tanpa bisa kujawab. Kuputuskan untuk
menuliskan ini seakan suatu waktu aku menemukan jawabannya.
Kembali ke dua delapan maret dua
ribu enam belas, di mana café yang sudah lama tak kunjungi ini, sepi. Sang
barista tersenyum, menanyakan pesananku, menyebut harga pesananku, dan
mengatakan bagaimana aku harus menunggu pesananku. Senyum dan perkataannya
mengantarkanku kembali ke beberapa waktu lalu, di mana aku tidak sendiri dan
duduk dengan tidak hanya diam. Bagaimana perasaanmu di kala cuaca sedang dingin
begini? Ingin aku tanyakan padanya. Ya, cuaca sangat dingin sekali, menurutku,
tapi aku tetap jatuh pada segelas es carmelito. Kukatakan, aku rindu padanya.
Obrolanku hanya sebatas pesan
masuk yang tak kunjung datang bersama kehadiran akan sosok seseorang. Café ini
cukup jauh dari jangkauanku, tapi kukatakan, aku hanya ingin datang menenangkan
pikiran dan menyelesaikan tugasku. Aku pun hanya ingin datang ke sini, untuk
kenyamanan yang café ini berikan. Aku hanya ingin mengenang masa kenangan yang
baik. Aku tak segera membuka catatanku dan menyelesaikan tugasku, aku hanya
ingin mengenang dengan jiwaku yang kurasa sudah mulai tersakiti. Bukan aku
merasa disakiti, aku pun tak mengharap pamrih, tapi tak bisakah membaca sedikit
lelahku akan kesendirian yang tak berujung ini?
Kukatakan, aku cukup berterima
kasih kepadamu yang sudah cukup baik mendengarkan ceritaku dan keluhanku. Entah
siapapun kamu. Kuucapkan juga maaf, beribu maaf, jika aku selalu mengganggumu dengan
kehadiran dan permasalahanku.
Terima kasih atas kehadiranmu,
aku pamit dulu. Sampai jumpa. J
isi artikelnya dalem banget dan bikin baper :(
BalasHapus#SalamBlogger
duh jangan sampe baper ya :D
Hapusterima kasih sudah berkunjung #salamblogger