"Yap, I need to go home," si kecil mulai berbicara.
----
Sebenarnya ia tidak benar-benar masih kecil, sebentar lagi ia menginjak umur 22 tahun. Bukan lagi si kecil, ia sudah dewasa. Baik usia dan sifatnya - yang sudah kelewat dewasa kadang. Jadi, si pemimpi kecil mulai menyusun rencananya lagi. Ia mengalami kesalahan dengan tidak mempersiapkan tujuannya di masa depan dengan baik. Sebut saja ia masih berada di zona nyaman. Kukatakan itu berbahaya, benar saja.
Ia, gak pernah ingin lepas dari masa lalu nya dengan semuanya. Memang tidak banyak yang ingin dia lupakan, sayangnya semua memori terasa hilang atau karena hidupnya sudah hampir melewati angka 22 tahun? Benar saja, dia tidak tahu. Saat kutanya, ia tak mampu jawab. Kebiasaan, ujarku.
Jadi semenjak ia ingin melupakan sesuatu dari masa lalu, ia mulai menyusun banyak hal untuk menyusun rencananya di masa depan meski banyak kejutan-kejutan untuk menggapai nya. Benar saja, dia menyelesaikan nya dengan baik. Itu menurutku, entah yang lain. Tapi tak banyak perjalanan yang ia inginkan untuk dilupakan, banyak hal yang ingin dia ingat selamat empat tahun terakhir. Bayangkan, satu tahun lalu ia hampir tak mengenali dirinya. Berat badannya turun, karena ia makan sehat selama satu bulan, baguslah. Pipinya masih chubby dan gemas untuk dicubit. Sayang tidak dengan hati dan pikirannya, dia hancur.
Selama dua bulan setelah 15 September 2015 tampaknya, ia hanya mengerjakan tugasnya yang sempat ia titipkan sejenak. Walau harus terserang demam dan batuk serta flu yang tak kunjung sembuh, bahkan penelitian tiap minggu yang ia kerjakan, semua dia kerjakan. Untuk melupakan kejadian itu. Dia tidak ingin kembali mengingat tapi ia sadar, jika ia ingin melupakan lagi ia akan kehilangan kenangan yang lain. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia harus dipaksa ke dokter dan menemukan sebuah keajaiban, bahwa ia bisa menangis sejadi - jadinya setelah ke dokter dan bertemu orang lain, orang baru.
Orang baru itu banyak. Aku hanya ingin menjelaskan si pemimpi kecil yang mulai kehilangan arah ini. Dia mulai semangat lagi. Setahun terakhir, mengejar targetnya untuk segera selesai penelitian, selesai magang, dan selesai mata kuliah. Dia harus menyusun tugas akhir dan menyelesaikan majalah, Deadline terbesar nya di bidang non akademik bersama lembaga yang iya ikuti.
Banyak waktu untuk penelitian, satu bulan untuk magang, dua bulan untuk tugas akhir, dan sembilan bulan untuk Majalah. Juga ditambah ia masih harus ujian, karena ia masih ada mata kuliah. Semua ia lakukan bersamaan. Hatinya yang hancur, bahkan sangat, tak bisa berpura-pura di depan orang, apalagi untuk orang terdekat. Aku lewatkan lagi bagian ini. Begitulah ia dekat dengan orang lain walaupun harus malu dan mendengarkan sahabat terdekat nya marah.
Ia tidak ingin melupakan, ia ingin mengenangnya dengan kenangan yang baik lainnya. Ia tahu apa yang butuh pengorbanan, apa yang harus diperjuangkan, dan apa yang harus ditinggalkan. Walau susah, she is trying now. Believe or not.
Lalu apa hubungannya tentang rumah? Maaf aku lupa, katanya dia harus pulang ke rumah. Aku mendukungnya walau aku tahu itu berat baginya. Begitulah dia. Tapi ia sudah siap. Semoga. Akan aku tanyakan lagi padanya. Ia terlihat tak terurus beberapa minggu ini, kurasa. Ia lelah karna kaburnya ia tak ingin pulang kerumah, waktu lalu. Besok lagi, katanya. Ia tak ingin cerita kembali, sedih dan mengantuk. Aku sudahi dulu tentang si kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar