Ketika tiba-tiba banyak orang mengantarkan aku, ya katanya untuk perpisahan, walau aku gak tahu apa ini benar-benar kesempatan terakhir, aku tidak pernah bisa menjamin. Hanya ada sebuah perasaan ingin kembali dan akan kembali suatu saat nanti.
Memang benar, aku bukanlah orang yang dengan mudah menyampaikan perasaanku yang sebenarnya hancur berantakan, perasaan yang sedih sangat mendalam, perasaan terharu yang sangat, dan perasaan-perasaan lain yang tidak bisa aku ungkapankan. Hanyalah setitik air mata yang keluar dan itu pun berbarengan dengan tawa dan senyum, sebut saja itu palsu. Walau tidak sepenuhnya. Aku tidak ingin menangis dan aku juga tidak ingin melihat orang menangis karena aku. Bahkan orang lain bersedih karena aku pun, aku tidak mau.
Keputusan pergi ini, bukanlah hal mudah. Berat, seperti kukatakan sebelumnya. Bahkan aku lupa dalam menulis ini, harusnya aku menggunakan sudut pandang kedua. Si pemimpi kecil yang menjadi subjek utama. Tapi biarlah.
Satu persatu kenangan memang tak bisa kutuliskan bahkan untuk disebut pun rasanya sesak. Pelukan untuk dan dari seorang sahabat, yang biasanya tidak ingin sama sekali aku peluk, akhirnya pelukan itu ada. Untuk melepas rindu dan kepergian.
Satu persatu rasa bangga, bersalah, bahagia, sedih, kesal, marah, cinta, suka, dendam dan sebagainya berkumpul menjadi satu. Jujur, tidak ada penyesalan di sini. Hanya sesal akan sedih dan marah karena aku sebagai penyebabnya. Aku terima sebuah bunga yang tidak lagi segar, sebagai ungkapan kesedihanku katanya. Tapi terima kasih banyak ya teman.
Memang, tidak banyak yang bisa aku katakan. Maafkan semua kesalahan ku yang sengaja atau tidak, apabila sudah menyinggung, maafkan lah aku. Dan terima kasih banyak untuk semua nyaaa. Banyak sekali, bahkan aku tidak pernah bisa mengingat semuanya jika diminta untuk diurutkan. Sama, aku malas. Hanya dengan susunan kata-kata ini yang sebenarnya mengisahkan apa yang sedang aku pikirkan, yang ingin aku katakan. Kalian tau kan aku banyak bicara? Ya begitulah aku. Aku masih ingin menjadi diriku sendiri.
Ketika aku pergi, bukannya tidak berniat untuk kembali. Bahkan, aku minta tunggulah aku kembali menemuimu, suatu saat nanti. Dan tidak perlulah menungguku pergi lagi karena kerumahlah tempatku akan kembali.
Maaf dan terima kasih. Sampai jumpa lagi. Tenang, zaman sudah sangat maju. Klik call, semua beres. Cukup sekian, dariku. Sampai jumpa lagi.
Dari seseorang yang menyayangi kalian dan selalu ada untuk kalian, insya allah.
Reiny :)
Ditulis di pesawat yang sedang terbang di atas awan, yang sangat cerah. 09. 35 wib. 26 oktober 2016.
*maafkan tulisan ku yang terlalu banyak pemborosan kata dan tata bahasa yang hancur. Belum masuk redaksi sih. Hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar