26 Oktober 2016

#7 Pemimpi Kecil : aku pulang

Tidak ada yang patut disalahkan dengan kepulangan ini. Sebuah kewajiban? Begitu aku sampaikan alasanku kepada temanku. Ada lagi yang bilang, bener nih buat permanen pulang? Ya bisa jadi, begitu jawabku tadi dan kemarin.

Ketika tiba-tiba banyak orang mengantarkan aku, ya katanya untuk perpisahan, walau aku gak tahu apa ini benar-benar kesempatan terakhir, aku tidak pernah bisa menjamin. Hanya ada sebuah perasaan ingin kembali dan akan kembali suatu saat nanti.

Memang benar, aku bukanlah orang yang dengan mudah menyampaikan perasaanku yang sebenarnya hancur berantakan, perasaan yang sedih sangat mendalam, perasaan terharu yang sangat, dan perasaan-perasaan lain yang tidak bisa aku ungkapankan. Hanyalah setitik air mata yang keluar dan itu pun berbarengan dengan tawa dan senyum, sebut saja itu palsu. Walau tidak sepenuhnya. Aku tidak ingin menangis dan aku juga tidak ingin melihat orang menangis karena aku. Bahkan orang lain bersedih karena aku pun, aku tidak mau.

Keputusan pergi ini, bukanlah hal mudah. Berat, seperti kukatakan sebelumnya. Bahkan aku lupa dalam menulis ini, harusnya aku menggunakan sudut pandang kedua. Si pemimpi kecil yang menjadi subjek utama. Tapi biarlah.

Satu persatu kenangan memang tak bisa kutuliskan bahkan untuk disebut pun rasanya sesak. Pelukan untuk dan dari seorang sahabat, yang biasanya tidak ingin sama sekali aku peluk, akhirnya pelukan itu ada. Untuk melepas rindu dan kepergian.

Satu persatu rasa bangga, bersalah, bahagia, sedih, kesal, marah, cinta, suka, dendam dan sebagainya berkumpul menjadi satu. Jujur, tidak ada penyesalan di sini. Hanya sesal akan sedih dan marah karena aku sebagai penyebabnya. Aku terima sebuah bunga yang tidak lagi segar, sebagai ungkapan kesedihanku katanya. Tapi terima kasih banyak ya teman.

Memang, tidak banyak yang bisa aku katakan. Maafkan semua kesalahan ku yang sengaja atau tidak, apabila sudah menyinggung, maafkan lah aku. Dan terima kasih banyak untuk semua nyaaa. Banyak sekali, bahkan aku tidak pernah bisa mengingat semuanya jika diminta untuk diurutkan. Sama, aku malas. Hanya dengan susunan kata-kata ini yang sebenarnya mengisahkan apa yang sedang aku pikirkan, yang ingin aku katakan. Kalian tau kan aku banyak bicara? Ya begitulah aku. Aku masih ingin menjadi diriku sendiri.

Ketika aku pergi, bukannya tidak berniat untuk kembali. Bahkan, aku minta tunggulah aku kembali menemuimu, suatu saat nanti. Dan tidak perlulah menungguku pergi lagi karena kerumahlah tempatku akan kembali.

Maaf dan terima kasih. Sampai jumpa lagi. Tenang, zaman sudah sangat maju. Klik call, semua beres. Cukup sekian, dariku. Sampai jumpa lagi.

Dari seseorang yang menyayangi kalian dan selalu ada untuk kalian, insya allah.
Reiny :)
Ditulis di pesawat yang sedang terbang di atas awan, yang sangat cerah. 09. 35 wib. 26 oktober 2016.

*maafkan tulisan ku yang terlalu banyak pemborosan kata dan tata bahasa yang hancur. Belum masuk redaksi sih. Hehe.

#6 Pemimpi Kecil : itu aku

The truth, si pemimpi kecil adalah aku dan aku juga yang menulis ini bersama hatiku. Aku menulis tentang diriku sendiri. Terlalu selfish bukan? Sebenarnya bukan itu alasannya, aku takut lupa dengan masa laluku, takut hilang. Bagaimana bisa? Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, ia, si pemimpi kecil, pernah melupakan masa lalunya yang kelam namun masa lalu yang lain juga ikut menghilang. Bisa begitu? Bisa. Semua itu terjadi padaku. Aku bahkan hampir tidak ingat semua ceritakan semasa di sekolah menengah atas. Jika kuurut, banyak sekali kenangan disana. Tapi sayang, ada satu bagian cerita yang tidak ingin aku kenang di masa depan dan aku berusaha melupakannya saat itu. Dan kenangan lain seakan hilang. Aku sudah untuk mengingatnya.

Alasan aku menulis tentang diriku sendiri karena aku ingin menghargai diriku sendiri. Bagaimana aku menjalani diriku sendiri sampai hari ini,  saat orang lain tidak pernah sadar kehadiranku.  Perjalananku ini tidak sendiri. Sebagai harapan, aku ingin kado ulang tahun ke 22 tahun ku adalah tulisan ku makin banyak dan ceritaku tetap berlanjut. Begitu, harapakku.
Banyak lagi yang ingin aku harapkan, aku ingin mendapatkan penghasilan sendiri, pekerjaan, dan kebahagiaan orang tuaku.

Aku tak ingin banyak membahas tentang harapan itu. Aku ingin mengulang masa lalu. Menceritakan tentang masa lalu. Biar suatu hari, ketika aku sudah lupa, aku bisa membuka lembaran ini kembali sebagai pengingat. Sebagai pemimpi kecil yang dilahirkan dari seorang ibu, diberi nama Reiny Handayani Paulus.

25 Oktober 2016

#5 Pemimpi Kecil : sudahkah ia dewasa?

"Yap, I need to go home," si kecil mulai berbicara.

----

Sebenarnya ia tidak benar-benar masih kecil, sebentar lagi ia menginjak umur 22 tahun.  Bukan lagi si kecil, ia sudah dewasa. Baik usia dan sifatnya - yang sudah kelewat dewasa kadang. Jadi, si pemimpi kecil mulai menyusun rencananya lagi. Ia mengalami kesalahan dengan tidak mempersiapkan tujuannya di masa depan dengan baik. Sebut saja ia masih berada di zona nyaman. Kukatakan itu berbahaya, benar saja.

Ia, gak pernah ingin lepas dari masa lalu nya dengan semuanya. Memang tidak banyak yang ingin dia lupakan, sayangnya semua memori terasa hilang atau karena hidupnya sudah hampir melewati angka 22 tahun? Benar saja, dia tidak tahu. Saat kutanya, ia tak mampu jawab. Kebiasaan, ujarku.

Jadi semenjak ia ingin melupakan sesuatu dari masa lalu, ia mulai menyusun banyak hal untuk menyusun rencananya di masa depan meski banyak kejutan-kejutan untuk menggapai nya. Benar saja, dia menyelesaikan nya dengan baik. Itu menurutku, entah yang lain. Tapi tak banyak perjalanan yang ia inginkan untuk dilupakan, banyak hal yang ingin dia ingat selamat empat tahun terakhir. Bayangkan, satu tahun lalu ia hampir tak mengenali dirinya. Berat badannya turun, karena ia makan sehat selama satu bulan, baguslah. Pipinya masih chubby dan gemas untuk dicubit. Sayang tidak dengan hati dan pikirannya, dia hancur.

Selama dua bulan setelah 15 September 2015 tampaknya, ia hanya mengerjakan tugasnya yang sempat ia titipkan sejenak. Walau harus terserang demam dan batuk serta flu yang tak kunjung sembuh, bahkan penelitian tiap minggu yang ia kerjakan, semua dia kerjakan. Untuk melupakan kejadian itu. Dia tidak ingin kembali mengingat tapi ia sadar, jika ia ingin melupakan lagi ia akan kehilangan kenangan yang lain. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia harus dipaksa ke dokter dan menemukan sebuah keajaiban, bahwa ia bisa menangis sejadi - jadinya setelah ke dokter dan bertemu orang lain, orang baru.

Orang baru itu banyak. Aku hanya ingin menjelaskan si pemimpi kecil yang mulai kehilangan arah ini. Dia mulai semangat lagi. Setahun terakhir, mengejar targetnya untuk segera selesai penelitian, selesai magang, dan selesai mata kuliah. Dia harus menyusun tugas akhir dan menyelesaikan majalah, Deadline terbesar nya di bidang non akademik bersama lembaga yang iya ikuti.

Banyak waktu untuk penelitian, satu bulan untuk magang, dua bulan untuk tugas akhir, dan sembilan bulan untuk Majalah. Juga ditambah ia masih harus ujian, karena ia masih ada mata kuliah. Semua ia lakukan bersamaan. Hatinya yang hancur, bahkan sangat, tak bisa berpura-pura di depan orang, apalagi untuk orang terdekat. Aku lewatkan lagi bagian ini. Begitulah ia dekat dengan orang lain walaupun harus malu dan mendengarkan sahabat terdekat nya marah.

Ia tidak ingin melupakan, ia ingin mengenangnya dengan kenangan yang baik lainnya. Ia tahu apa yang butuh pengorbanan, apa yang harus diperjuangkan, dan apa yang harus ditinggalkan. Walau susah, she is trying now. Believe or not.

Lalu apa hubungannya tentang rumah? Maaf aku lupa, katanya dia harus pulang ke rumah. Aku mendukungnya walau aku tahu itu berat baginya. Begitulah dia. Tapi ia sudah siap. Semoga. Akan aku tanyakan lagi padanya. Ia terlihat tak terurus beberapa minggu ini, kurasa. Ia lelah karna kaburnya ia tak ingin pulang kerumah, waktu lalu. Besok lagi, katanya. Ia tak ingin cerita kembali, sedih dan mengantuk. Aku sudahi dulu tentang si kecil.

18 Oktober 2016

#4 Pemimpi Kecil : Ia Kuliah

Cerita di pemimpi kecil yang terlewatkan.

Setelah menjalani tugas sebagai siswa selama tiga tahun di SMA Kumbang, akhirnya dia melanjutkan kuliah di jogja - aku sudah katakan sebelumnya - di sebuah universitas islam dan swasta. Universitas Islam Indonesia dan kembali swasta. Si pemimpi kecil memutuskan ujian seleksi setelah gagal mengikuti dua ujian masuk ke dua universitas negeri dan atas tuntutan orang tua, dia tes dan lolos. Sebuah jurusan yang cukup aneh untuk seorang perempuan - tapi banyak perempuannya loh dia bilang - seperti dia, Teknik Kimia. 

Menyandang status mahasiswa, seringkali membuat dia melakukan banyak hal yang tidak pernah dilakukannya selama menjadi siswa. Apalagi berada dirantauan, seperti naik gunung, rapat dan pulang malam, naik kereta murah, dan lain sebagainya. Si pemimpi kecil menyalurkan hobinya dalam dunia tulis ke sebuah lembaga jurnalistik kampus. Sebut saja Lembaga Pers Mahasiswa PROFESI. Tetap menjadi dirinya yang apa adanya, ingin tahu banyak hal, dan peduli, ia menghabiskan hampir seluruh waktu senggangnya di lembaga itu. Tiga periode berurutan dari tahun 2013 sampai 2016, hingga ia lulus dan wisuda pun masih saja ia berkecimpung di lembaga itu karena sebuah tanggung jawab yang belum selesai. 

Terlalu banyak cerita si pemimpi di lembaga itu, bagaimana kuliahnya? Ia adalah mahasiswi yang biasa saja, kuliah ya kuliah. Mengerjakan tugas juga, ikut ujian, bukan termasuk mahasiswa cumlaude juga. Dia seseorang pemegang teguh jika ipk sudah 3 koma sekian, itu cukup. Dia tak terlalu pintar dan juga tidak terlalu bodoh juga. Si pemimpi kecil bukan siapa siapa di bagian akademik, tapi soal 'berita' perihal kampus, tanya dan diskusikan dengannya. Kenapa? Karena ia jurnalis kampus yang sah sebelum akhirnya ia resmi menjadi alumni kampus sejak 27 Agustus 2016 lalu. 

Selama kuliah juga, banyak kegiatan akademik yang menyenangkan dan juga tidak. Begitu katanya. Empat tahun tak terasa. 2012-2016, ia menepati janjinya untuk lulus tepat waktu walau tidak mencapai nilai ipk cumlaude. 

Aku ingin mengucapkan selamat untuk si pemimpi kecil, untuk kelulusannya, untuk kepribadian yang sudah lebih baik dari sebelumnya, untuk menghargai setiap cerita dalam hidupnya, dan selamat berbahagia. 


Nb: aku masih ingin menceritakan banyak hal dengan latar belakang kampus nya si pemimpi kecil. 

24 September 2016

Tentang Hati

Banyak pengertian tentang hati. Hati sebagai organ yang ada di tubuh manusia, sebagai bentuk kewaspadaan, ada juga hati sebagai tempat segala perasaan dan menyimpan perasaan itu. Ada 8 pengertian hati dari kamus besar bahasa indonesia. Yang mau ku bahas adalah hati sebagai tempat segala perasaan dan tempat menyimpannya. Ada apa dengan hati?

Begini, terlalu banyak orang di sekitar kurang pengertian dengan hati. Doi memang terlalu sensitif, tergantung sang pemilik menentukan. Bagaimana orang tersebut menyampaikan isi hatinya dengan sesama manusia maupun dengan benda mati. Aku pun sama, aku tak pernah benar-benar bisa mengungkapkan isi hati itu secara keseluruhan dengan keluarga, sahabat, maupun tuhan. Bukan aku gak mau, tapi aku gak bisa. Belum bisa. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis lagi dan lagi. Sekalian berdoa sama yang pemberi rasa dan yang penentu, untuk memberikan jalan yang terbaik.

Harusnya tulisan ini aku tuliskan semalam, sayangnya ispa kambuh kembali. Jadi ini agak melantur sedikit.

Hati lagi, sebenarnya ketika kita akan percaya dengan hati kita, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Kalau pun akan ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Hati memang sensitif sih. Seandainya doi bisa ngomong, doi pasti menunjukkan kejujuran sebenarnya. Sayang, mulut sang pemilik hati lah yang harus mengatakan ataupun menunjukkan. Tapi manusia diciptakan otak juga untuk berpikir. Kadang tidak terjadi sinkronisasi antara hati dan otak. Begitulah.

Kalau aku berbicara tentang hati, maka hati-hati lah dengan hati.
Selamat pagi, semoga segera sehat kembali.