Hai Senja!
Apa kabarmu disana?
Semoga baik-baik saja. Layaknya aku yang selalu mendoakan dan merindukanmu.
Senja. Apakah kamu merindukan aku juga?
Aku takut kamu melupakan aku.
Aku berharap kamu menyapanya, Senja.
Sudah lama kamu tidak menyapanya. Walau sejenak.
Apakah kamu nyaman senja?
Tanpa senyum dan tawaannya, kamu mulai berubah Senja.
Warnamu tak secerah dan menarik perhatianku.
Atau kamu melupakannya Senja?
Jangan pernah Senja. Aku mohon.
Sapalah. Dia selalu menantimu, Senja. Aku juga.
Aku selalu suka kedatangannya di pagi hari, Senja.
Dan aku selalu menantimu setelah dia mulai menghilang, Senja.
Aku tegaskan, Senja. Dia juga menantikanmu.
Saat dia mulai menghilang dan digantikan olehmu, dia merindukanmu.
Dia berharap bisa bersanding denganmu, Senja.
Senja, aku dan dia selalu menantikan dan merindukanmu.
Senja, semoga kamu selalu baik.
Senja, sapalah dia yang selalu menghilang karena kehadiranmu.
Untuk merindukanmu.
4 Juli 2013
3 Juli 2013
#Lirik - Berlayar Denganku (SO7)
Edisi kali ini, pengen share lirik lagu aja..
hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani
cobaan bukan tuk ditakuti
cobaan harus kita hadapi
bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai
pilih perahu tidaklah mudah
kita tentu tak mau tenggelam
perahu ini milik kita
naiklah jangan pernah kau turun
bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai, menghadapi ombak badai
reff:
berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku
bersamaku engkau tak perlu ragu
tatap mataku maka kau kan tahu
semuanya kan baik saja
hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani
berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku [2x]
tatap mataku maka kau kan tahu
semuanya kan baik saja [2x]
Terima kasih :)
sumber: http://www.liriklagu.info/s/sheila-on-seven/sheila-on-7-berlayar-denganku.html
hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani
cobaan bukan tuk ditakuti
cobaan harus kita hadapi
bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai
pilih perahu tidaklah mudah
kita tentu tak mau tenggelam
perahu ini milik kita
naiklah jangan pernah kau turun
bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai, menghadapi ombak badai
reff:
berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku
bersamaku engkau tak perlu ragu
tatap mataku maka kau kan tahu
semuanya kan baik saja
hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani
berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku [2x]
tatap mataku maka kau kan tahu
semuanya kan baik saja [2x]
Terima kasih :)
sumber: http://www.liriklagu.info/s/sheila-on-seven/sheila-on-7-berlayar-denganku.html
25 Juni 2013
Aku (Masih).
Ada satu masa dan waktu yang terus berjalan. Kemudian, seketika berhenti. Aku juga ikut berhenti. Jenuh. Kembali rasa itu hadir seketika dan semaunya. Ujian semakin dekat. Tak kunjung sang jenuh beranjak dari sisiku. Aku bingung. Lelah yang terkadang berlebihan. Terkadang aku coba sandarkan rasa itu pada semua masa yang tak seharusnya. Aku biarkan saja.
Kembali aku rangkai kata-kata sampai hari ini. Tidak jenuh. Itu yang bisa aku lakukan. Hal yang sepertinya sepele tapi tidak bagiku. Ada rasa berbeda saat aku menggabungkan kata-kata menjadi sebuah kalimat, lalu menjadi banyak kalimat, menjadi sebuah paragraf. Paragraf-paragraf yang menjadi sebuah cerita. Cerita yang terkadang aku bingung apalagi temanya hari ini dan hari-hari selanjutnya.
Menulis tentang rindu, sosok, foto, apapun. Tampaknya tidak ada rasa lelah. Aku masih coba berjalan beriringan. Mencoba tanpa lelah dan paksaan. Ternyata tidak mudah. Semua butuh perjuangan dan semangat yang besar. Masih banyak yang belum aku mengerti dengan jalan yang coba aku jalani. Berhasil atau tidak. Aku tidak mengerti. Aku mulai lelah. Mata tak berkompromi malam ini. Mencoba mengistirahatkan mata dan badan yang lelah. Semoga tidak dengan doa dan semangat ini.
Selamat menikmati istirahat yang selalu dinanti.
23 Juni 2013
Aku dan Suara.
Suara itu. Aku rindu.
Bukan kedua bola mata yang menenangkan itu.
Belum berjumpa.
Kabar yang tak kunjung datang,
Aku hanya coba menanti saja.
Ada keyakinan tersendiri.
Mungkin bodoh.
Tapi itu aku, dengan segala keyakinan.
Hati. Seonggok daging yang merasakan.
Percakapan yang mengasyikkan, bukan?
Kadang sampai aku tertidur.
Atau aku tersenyum riang saat suara itu bernyanyi.
Saat tebak judul lagu.
Masa lalu yang selalu indah.
Selalu menanti kabarmu,
Hei pemilik suara menenangkan!
:)
Bukan kedua bola mata yang menenangkan itu.
Belum berjumpa.
Kabar yang tak kunjung datang,
Aku hanya coba menanti saja.
Ada keyakinan tersendiri.
Mungkin bodoh.
Tapi itu aku, dengan segala keyakinan.
Hati. Seonggok daging yang merasakan.
Percakapan yang mengasyikkan, bukan?
Kadang sampai aku tertidur.
Atau aku tersenyum riang saat suara itu bernyanyi.
Saat tebak judul lagu.
Masa lalu yang selalu indah.
Selalu menanti kabarmu,
Hei pemilik suara menenangkan!
:)
21 Juni 2013
Aku.
Sebuah indah dan rasa.
Indah diciptakan.
Rasa dihadirkan.
Begitu saja indah datang ketika rasa hadir.
Begitu saja indah datang ketika rasa hadir.
Rasa yang tak selalu pantas.
Begini kah rasa itu?
Rasa yang indah.
Hanya cukup aku.
Aku yang menantimu sejenak lalu.
Kemudian meninggalkanmu.
Selangkah demi selangkah.
Hingga tak hadir langkah lainnya.
Aku bersandar disatu sisinya.
Menanti sosokmu.
Aku masih bersandar.
Menertawakan kebodohan lainnya.
Layaknya ombak yang terus besar.
Seraya menertawakan aku dan dia.
Apa kau ikut menertawakan?
Ombak itu indah.
Tak indah jika mereka mengenaiku.
Basah. Dingin.
Aku masih tampak lelah mengingat itu.
Tapi ombak itu tidak.
Selalu berulang.
Aku selalu mengaguminya.
Menertawai.
Ah. Sudahlah.
Aku tidak peduli dengannya.
Hei!
Ada Dia yang menemaniku.
Masih karena mbak intan :)
foto oleh : Bowo
Langganan:
Postingan (Atom)