28 Juli 2013

Aku Ada Cerita Senja

Senja aku mau cerita.
Senja, aku tidak mengerti akan diriku sendiri.
Aku merasa terasingkan disini.
Dirumah sendiri, Senja.
Aku lelah.
Aku kehilangan semangatku disini.
Aku hanya bisa tersenyum, Senja.
Aku butuh dirimu dan dirinya.
Aku rindu.

Selamat malam, Senja.
Aku rindu padamu.

23 Juli 2013

Sepasang Sendal Jepit



Sret.. sret..sret.. sret.. sret..sret...

Suara itu makin terdengar mendekat menuju kamarku. Tampaknya suara itu muncul dari pintu depan. Sejenak aku berhenti melanjutkan tugas kuliahku, menebak siapa yang akan mengetuk pintu kamarku.

Tok.. tok.. tok..

“Saraaahh...” lantas aku berdiri menuju pintu. Siapa ini? Gerutuku dalam hati. Aku membukakan pintu. Ada sesosok anak kecil dengan baju oren kesayangannya. Kali ini rambutnya dikuncir kuda, poninya tergerai didepan keningnya. Aku tersenyum melihat penampilannya hari ini, ada yang baru dari penampilannya. Sendal yang dipakainya. Baru. Aku teringat kejadian beberapa hari lalu. Sejak kejadian itu dia tidak pernah mengetuk kamarku lagi. Baru hari ini.

...

“Mamaaaaa.. Sira ikut ke pasar yaaa?? Sira bosen dirumah,” rengeknya kepada sang mama.
“Kamu dirumah aja yaa sama kakak. Nanti Sira rewel, mama kan bisa repot.”
“Sira gak bakal rewel kok ma. Ya ya ya?? Sira janji ma,” jawabnya cepat, memotong pembicaraan sang mama. Sang mama tersenyum dan mengangguk setuju. Sira senang sekali. Sira dan mama langsung berangkat ke pasar.
 ...

“Saraaaaahh... Sira dari main layangan dilapangan,” jeritnya sambil sesegukan masuk kamarku. Aku bingung melihatnya.
“Sendal Sira hilaaaaaaaaaaang,” jelasnya lagi. Masih sesegukan.
“Kok bisa sayang?” tanyaku.
“Tadi Sira mainnya gak pake sendal, terus pas mau pulang sendalnya udah gak ada,” jawabnya dengan polos. “Nanti mama marah sendalnya hilang, baru dibeli sama mama,” masih dengan sesegukan dan air matanya mulai mengalir lagi.

“Sekarang Sira pulang dulu aja ya. Nanti Sira dicariin mama. Sira harus jujur sama mama. Ya?” ujarku dengan memegang pundaknya dan menghapus air matanya. Dia mulai berhenti menangis. Ada rasa takut yang terlihat dari tatapan matanya, polos sekali. Sira mengangguk kemudian memelukku dan meninggalkan kamarku.

...

“Sira sudah dibeliin sendal lagi sama mama tapi cuma sendal jepit, Sarah. Sira maunya sendal yang ada gambarnya. Lebih bagus, Sarah,” ucapnya saat aku mengajaknya masuk dan duduk dikamarku. Aku tersenyum dan mengeluarkan satu bungkus cokelat yang aku beli untuknya, memberikan cokelat itu ke Sira.

“Kata mama, Sira gak dibolehin beli lagi sendal yang ada gambarnya. Nanti hilang lagi. Padahal Sira udah janji sama mama kalo gak bakal hilang lagi,” jelasnya padaku sambil menggenggam cokelat pemberianku.

Sret.. sret..sret.. sret.. sret..sret...

Dia duduk ditempat tidurku, dengan sendalnya, dia memberikan efek suara saat dia berjalan. Mungkin dia mulai suka, pikirku. Aku masih memperhatikan penampilannya. 

“Sarah, Sira gak mau sembarangan lagi kalo main dilapangan. Disana banyak anak-anak nakal. Kalo mau main dilapangan lagi, Sira mau main sama kakak aja terus pake sendal aja. Kan jelek, pasti gak diambil lagi,” ujarnya.

“Sira, kalo pun sendalnya jelek, jaga yaa.. nanti kalo Sira bisa jaga sendalnya, pasti mama mau beliin Sira sendal yang ada gambarnya,” saranku padanya. Dia tersenyum dan mengangguk. Dia mulai membuka cokelatnya.

“Iya, Sira janji. Makasih ya Saraaaaaah!” aku tersenyum. Kemudian melanjutkan tugas kuliahku dan membiarkan Sira menikmati cokelatnya. 

...

Sira kehilangan sendalnya dan dimarahi oleh sang mama. Sendalnya masih baru dan dia bermain dilapangan sendirian, tanpa ditemani sang kakak. Aku diberitahu sang mama, esok harinya setelah Sira kehilangan sendalnya. Sepasang sendal jepit baru itu adalah sendal yang kedua dalam satu bulan ini.


#Judulnya sama dengan Sepasang Sendal Jepit di blog bang arai. Beliau yang kasih ide untuk judul fiksi mini ini.





Riri dan Coffee Cafe



“Keluar yuk! Ngopi?” ujar Riza padaku sore itu. Riza adalah teman kantor yang dekat denganku. Tanpa pemikiran panjang, aku mengangguk setuju. 

Aku bertemu Riza dilobby kantor. Kami berjalan kaki saja menuju kafe favorit kami karena hanya di sebelah kantor. Kafe ini punya sesuatu yang unik. Semua dibuat kecokelatan, diberi sedikit warna kehijauhan dibagian atasnya, terlihat manis, tenang, dan indah dipandang. Kafe ini menyiapkan berbagai macam jenis kopi. Ada menu cokelat hangat dan  berbagai makanan ringan. 

Cafe latte,” pesanku pada pelayan yang menghampiriku dan Riza.
“Eehhhhhmmmm.. Cappucino tanpa toping kayu manis,” pesan Riza dan pelayan tersenyum karena melihat kelakuan Riza yang terus membolak-balik daftar menu. Capuccino adalah favoritnya dan pelayan kafe itu sudah hapal pesanan Riza. Kami adalah pelanggan tetap Coffee Cafe. Setelah memastikan pesanan kami, pelayan meninggalkan meja kami, menyiapkan pesanan.

15 menit kemudian...........

Pelayan kembali menghampiri meja dan membawa 2 cangkir kopi. Tak lama, masuk seorang wanita. Dia memilih duduk didekat jendela, 2 meja dari pintu masuk. Pelayan segera menemui wanita itu. Tampaknya mereka akrab dan wanita itu memesan hot chocolate. Memang cuaca hari itu terlihat mendung. 

...

Hari itu aku pergi sendiri ke Coffee Cafe. Riza sedang keluar kota. Aku memilih menu cappucino hari itu. Tak lama aku duduk dan memesan, wanita yang aku lihat saat bersama Riza 2 hari lalu, dia kembali datang dan duduk tepat 2 meja dari pintu. Memesan hot chocolate lagi. Aku memperhatikannya dari kejauhan. Pesananku datang dan aku menikmatinya sambil menyelesaikan pekerjaanku.

Handphoneku bergetar.

Hei, besok ditunggu kedatangannya dirumah makan Rahmat yaa.. Deket SMA kita dulu. Jam 7 malam. Sekalian reunian. Reza

Aku tersenyum dan membalas sms Reza, aku akan datang.

...

Aku datang jam 7 dirumah makan Rahmat, ternyata sudah ramai disana. Aku banyak bertemu dengan teman-teman SMA dulu. Senang aku mengingat banyak hal tentang SMA, sudah lewat beberapa tahun lalu. Segera aku melangkah kakiku bertemu dengan Rahmat, sang pemilik rumah makan dan temanku. 

10 menit berlalu...

Acara pembukaan dimulai, aku melihat sesosok wanita. Wanita yang sama di kafe itu. Seingatku, Rahmat banyak mengundang teman-teman SMAnya. Aku menghampirinya dan mengajak mengobrol. 

“Hai,” aku mulai menyapanya.
“Ya?” jawabnya.
“Kamu sering ke Coffee Cafe kan? Temannya Rahmat?” tanyaku penasaran.
“Iya, kamu siapa?” tanyanya.
“Aku teman Rahmat juga dan sering ke kafe itu.”
“Oh... aku pernah melihatmu, kemarin sore. Aku Riri,” kemudian sambil mengingat.
“Riri kelas XII IPA 1? Aku Rino. Ingat?” tanyaku memastikan.
“Iya.. Rino.. Aku ingat! Kamu sibuk apa sekarang?” tanyanya lagi.
“Panjang ceritanya. Gimana kalo kita ngobrol di Coffee Cafe?” aku menawarkan.
“Ehhhmm.. boleh.. eh ini udah mulai acaranya. Lanjut nanti yuk.” Tersenyum aku dan mengangguk setuju.
...

Aku dan Riri adalah teman dekat dulu tapi karena ada satu masalah, kami tidak berkabar lagi. Baru sekarang, kami baru bertemu lagi hari ini. Dia pindah ke Yogyakarta selesai ujian SMA. Setelah pertemuan malam itu, Riri adalah teman ke Coffee Cafe saat Riza keluar kota atau kami pergi bertiga. Ah.. sudah lama aku rindu Riri. Dia memang tidak suka kopi. Dia pecinta cokelat. 





20 Juli 2013

Aku dan Pulang



Hari itu, pagi mulai menyapa. Ingin aku segera menyapamu kembali. Tapi aku berpikir berulang kali dan hatiku berkata tidak. Semua berlalu begitu saja. Aku tidak nyaman. Aku tahu, sosokmu tidak pergi selamanya. Hanya sebentar. Ada sedikit keyakinan dengan penjelasanmu.
...
Hari ini menunjukkan tanggal 20 juli 2013. Mendekati hari H untuk pulang. Sudah rindu dengan suasana rumah puasa dirumah. Aku tahu. Berbeda. Tidak perlu diungkit kembali.
Seselesainya ujian terakhirku hari ini, aku melangkah keluar ruangan dengan satu harapan. Aku sudah melaksanakan semuanya dengan kemampuan yang kupunya, aku berharap semuanya mendapat hasil maksimal. Aku melangkah keluar ruangan dengan jeritan di dalam hati, aku lega. Sudah 9 hari aku menjalani ujian akhir semester (UAS) genap ini. Alhamdulillah. Berjalan cukup lancar.
Aku ingin cepat bergegas kembali ke kosan. Menyiapkan dan menata semua barang-barang dan keperluan yang akan dibawa pulang kerumah. Baju, oleh-oleh, dan, berbagai jenisnya. Serta membereskan kamar yang entah sebelumnya bisa disebut kamar atau tidak. Berantakan, tak beraturan. Semua ada dimana-mana. Tapi sekarang semua sudah berfungsi kembali dan berada di tempat yang semestinya, pikirku. Aku rindu.
...
Tanggal 6 juli 2013. Aku ingat kembali pagi itu. Tidak dengan menyapamu, aku menekan nomor handphone kakakku. Mengobrol dengan mama. Mengobrol beberapa hal yang semestinya sudah ada keputusan akhir. Akhirnya tersambung dan mengobrol panjang lebar dengan mama dan berujung dengan kepulanganku saat liburan, juga menuju hari raya. Dengan berdebat sana sini, diputuskan aku disuruh mencari tiket pulang hari itu juga. Selesai percakapan ditutup, bergegas aku mencari info dan menginfokannya ke kakakku untuk disampaikan ke mama. Berbagai pilihan yang aku pilih, akhirnya mendapat keputusan. Aku akan pulang kerumah.  Saat itu juga, aku disuruh memesan tiket. Bergegas mandi dan bersiap-siap. Berangkat ke agen tiket, tiket sudah ditangan. Pulang ke rumah.
...
Kemarin, 19 juli 2013, satu sahabatku berulang tahun. Dia tahu kalau kita tidak akan memberikan kejutan padanya. Aku bersama sahabat lain, diundang buka bersama dirumahnya. Sebenarnya bukan diundang, tapi kami minta diundang. Dia menawarkan kami untuk makan dirumahnya atau makan diluar, sontak kami menjawab dengan kompak, “Di rumah aja!”. Tidak hanya minta diundang, kami juga memesan makanan yang harus disediakan. Semur ayam, sambal tempe goreng teri, sambal terasi, tumis kangkung, kolak pisang, perkedel jagung, buah, sirup nata de coco rasa melon, dan kurma adalah menu yang tersedia. Itu menu yang kami pilih. Tertawa aku membayangkan saat sahabatku satu ini, Oggy, menyampaikan ke mamanya soal permintaan kami dan kaget saat semuanya tersedia di meja makan.
Sekarang aku bepikir, aku akan bertemu keluargaku dan berpisah dengan sahabat-sahabatku sementara saja. Kami tampaknya sudah punya rencana masing-masing. Mungkin  aku akan meminta mereka menceritakan liburan semester genap ini. Layaknya waktu disekolah dasar dulu. Menyenangkan. Berbagi. Itu saja tujuanku. Bukankah menyenangkan?
...
Aku masih bersenandung senang saat mendapat kabar darimu. Dirimu masih menjadi sosok yang berasal dari khayalanku. Aku masih dengan gembira menceritakan sosokmu, tapi aku malu. Semoga dirimu selalu bahagia. Aku juga akan tetap bahagia.
Kotaku adalah rumah, tempat aku pulang dan bahagia itu sederhana bukan?



Note:
Tema tulisan ini adalah sederhana. Hasil curhatan dengan sang abang gara-gara gak ada ide nulis. Setelah mentok gak ada ide, akhirnya beliau memberi tema ini dan akhirnya selesai juga.

11 Juli 2013

Ramadhan di Rantau


Jika kuperhatikan, sudah satu minggu konten televisi dijejali dengan iklan seputar Ramadhan. Rasanya setahun kali ini lebih cepat berlalu. Ramadhan sudah kian di pelupuk mata, mendekat seiring aroma wewangian khas kesehariannya semakin terasa di panca indera. Bulan yang satu ini memang sangat dinanti kedatangannya oleh setiap muslim di dunia tidak terkecuali aku. Satu bulan penuh berkah tanpa kurang keistimewaan di setiap detiknya. Adalah hal yang wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakan puasa sedari waktu imsak sampai adzan maghrib berkumandang. Dan itu selama satu bulan penuh lamanya.


Siapa tak rindu dengan Ramadhan? Setiap harinya ada kenangan seindah mutiara terpatri dalam hati. Jika sudah seperti itu, momen hari pertamalah yang akan selalu dirindukan. Bagaimana tidak? Memulai Ramadhan dengan berangkat tarawih bersama satu rombongan bagai pasukan perang lengkap  beserta atribut dan papa sebagai panglima. Sahur pun tak kalah menarik, selalu ada rengekan kemalasan milikku juga adik jika dibangunkan oleh sang wanita perkasa, mama. Maka membatalkan puasa adalah paling berkesan dari semuanya, di mana penyakit lemah, letih, lesu, dan lunglaiku tiba-tiba hilang dalam hitungan detik tatkala kumandang adzan maghrib menggema.

Kini, kepalaku dipenuhi rindu menggebu akan sisa-sisa ingatan tentang Ramadhan di kampung halaman. Bukan cuma aku, siapa pun yang sedang menjejak di tanah rantau untuk menimba ilmu ataupun mencari nafkah mulai menatap nanar masa lalu.

Ini tahun keduaku menjalani Ramadhan di perantauan jauh dari keluargaku bahkan kamar kesayanganku. Tak ada yang salah disini, toh aku sudah memilih. Jadi jika hatiku sangat merana karena kerinduan yang teramat sangat pada keluarga, itu adalah buah dari pilihan.

Bagiku, Ramadhan adalah saat dimana aku bisa duduk satu meja bersama semua bagian keluargaku, manakala sahur atau berbuka. Ini tentang kebersamaan sederhana penuh makna, nikmat dan terasa istimewa. Ada ritual menyiapkan hidangan penuh aroma menusuk penciuman, rapalan do’a ketika hendak memulai santap masakan sampai membersihkan perlengkapan makan kembali seperti semula semuanya dilakukan bersama.

.     .     .

Aku ingat, pagi itu hari masih sangat gelap. Jauh sebelum ayam jantan di sekitar rumah berkokok dengan nyaring dan perkasa, mama sudah bangun. Tak ada trik jitu supaya bisa bangun sepagi itu, hanya insting tajam seorang perempuan untuk menyiapkan santapan sahur bagi keluarga. Rasa malas menggelayut di pelupuk mata berwujud makhluk bernama kantuk. Susah payah kami bisa sampai meja makan yang dipenuhi ragam masakan hasil racikan mama. Bermula dengan do’a yang dipimpin papa, kami mulai santap sahur. Sayup kudengar celotehan menghiasi meja makan dengan riang mulai dari bahasan tentang kegiatan nanti siang sampai menu berbuka puasa. Selalu menyenangkan.

Santap sahur usai. Adakala dimana kami langsung berpencar ke masing-masing ruangan untuk persiapkan keperluan beraktifitas atau sekedar berkumpul menghangatkan ruang keluarga menikmati acara pagi. Imsak diberitakan, tak lama setelah itu adzan subuh berkumandang. Kami beranjak mengambil wudlu dilanjut shalat berjama’ah. Tak ada hal indah melebihi satu pagi yang dilalui secara bersama-sama satu keluarga.

Waktu ashar merupakan saat dimana orang ramai turun ke pasar kaget yang ada hampir di setiap sudut jalan. Pasar dadakan ini tumpah jika Ramadhan tiba, menu yang ditawarkan hampir sama, sajian manis untuk membatalkan puasa. Pandanganku beredar cepat melihat sekeliling, ada yang sedang mencari minuman manis dan menyegarkan juga makanan dengan harga murah sampai berharga lumayan. Tapi santapan yang paling dinanti selama Ramadhan adalah kolak pisang dengan bonus beberapa buah kolang-kaling. Itu baru disebut makanan paling nikmat sedunia, tentunya diracik oleh mama dengan penuh cinta untuk semua anggota.

Berbeda dengan bulan-bulan biasa, Ramadhan merupakan waktu dimana aku bisa melakukan ragam kegiatan bersama-sama lebih sering dari biasanya. Bayangkan, mulai dari mata terbuka sampai tertutup yang kutemui adalah utuhnya keluarga. Terasa istimewa ketika itu dilalui selama satu bulan lamanya.

Ada hal lain yang tak kalah menyenangkan, berbuka puasa bersama keluarga besar. Bayangkan saja bagaimana ramainya jika satu marga keluarga tumplek dalam satu acara. Aku selalu menikmati momen ini, berpakaian rapi sedari rumah sambil membawa makanan, menatap lekat jalanan yang penuh sesak dengan para pencari ta’jil. Kali ini macet seolah hal yang bisa aku tolelir hingga sampai di rumah nenek. Riuhnya perbincangan menghiasi pendengaran, bisa kurasakan bahwa sudah ramai sanak saudaraku di dalam sana. Ada satu menu spesial di sana, satu panci kolak durian didampingi ketan yang tentunya siap diserbu setiap orang. Siapa lagi yang menyiapkan kalau bukan nenek tercinta memenuhi permintaan kami cucu-cucunya.

Ramadhan sudah hampir di ujungnya. Syawal kian mendekat, pertanda hari raya akan segera tiba. Persiapan dilakukan untuk menyambut Idul Fitri  juga mudik. Tradisi untuk kembali ke kampung halaman bersilaturahmi dengan handai taulan. Kata mudik mungkin untuk disematkan pada mereka yang sedang di rantau. Tidak bagi keluargaku. Kota ini adalah rumah.

Aku hanya bersiap untuk menyambut kedatangan hari raya dengan segala kemegahannya. Kegiatan utama menjelang Idul Fitri adalah menemani mama berburu beragam kue-kue untuk memenuhi toples kaca yang sudah dibersihkan hingga mengilap dan tampak cantik.

Ini masih Ramadhan, namun sudah mencapai penghujung. Kehangatan masih terasa bahkan semakin besar jika mengingat akan segera berpisah dengannya dan berganti raya. Aktifitasnya masih sama, dimulai santap sahur sampai tarawih bersama. Hanya saja kini sudah sampai di penghujung dan hendak berganti takbir. Kesibukan mama masih sama, meracik hidangan buatku dan keluarga, hanya saja sudah berganti jenis karena hendak raya.

.     .     .

Ramadhanku tak lagi sama,  menu-menu khas yang biasa dihidangkan mama berganti dengan makanan seadanya cukup untuk mengganjal perut. Ramadhanku tak lagi sama, celotehan riang diiringi canda tawa menanti imsak berganti dengan tukar pesan dan kabar di ponsel untuk membunuh rindu ala kadarnya. Ramadhanku tak lagi sama memang, tapi hangatnya masih bisa kurasakan. Rindu Ramadhan di kampung halaman.
 
 
*Tulisan ini kolaborasi dengan seorang abang yang tiba-tiba ngajak nulis bareng - abang arai - Setelah draft kasar dan di bereskan olehnya, dicek ulang, jadilah ini :") terima kasih bang. semangat buat mbak intan
 
check this out :  Ramadhan di Rantau

4 Juli 2013

(Masih) Dibalik Sebuah Nama


Aku masih tersentak saat orang-orang kembali menanyakan kabar darimu. Terkadang aku masih bisa menjawab, banyak tidak untuk sekarang. Banyak pertanyaan yang muncul, aku bingung. Aku mengikuti saja perkembangan namamu. 

Aku bersama ketidakpantasanku berpikir, siapa aku? Kamu? Semuanya baik-baik saja bukan? Semoga. Bersama do’a kuselipkan sedikit namamu. Terpikirkan untuk melupakan segalanya. Susah dan lelah untuk mencoba. 

Pembicaraan saat sore menjelang senja. Tawa yang terpingkal-pingkal atau sunyi sepi obrolan yang kita buat, ternyata banyak aku rindukan. Namamu masih saja sama. Berdendang riang mengikuti irama hari-hariku. Dimana aku mulai berjalan. Berani menyelesaikan satu tulisan dengan segala hal yang ingin aku buat. 

Tentang nama dan suara. Obrolan yang selalu dibuat, tidak selalu berakhir senyap dan indah. Hei pemilik suara menenangkan! Apa kabarmu? Eits.. aku sudah menanyakan kabarmu waktu lalu. Kamu baik. Senang aku membaca jawabanmu. Semoga selalu baik. Selalu aku ingin menyapamu tapi pantaskah itu? Aku tidak mengerti apa maumu. Apakah aku baik menyapamu? Aku hanya berpikir, kamu sahabatku yang selalu baik. Mengerti apa yang akan aku lakukan dan membiarkan apapun yang ingin aku lakukan. Aku merasa kehilangan sahabatku. Bukan karena sapaanmu sepanjang waktu. Tapi dirimu yang tak berkabar. Aku mencoba sabar untuk menanti kabarmu sepanjang hari. Hampir sepanjang waktu. Ah sudahlah.. kita sudah membicarakannya bukan? Aku pun sudah mengakuinya padamu. Aku rindu. Ya. Aku masih rindu sampai saat aku menuliskan ini. 

Teringat obrolan panjang kita tentang masa depan masing-masing. Mau dimanakah aku?, dimanakah kamu?, apa mauku, maumu? Hingga hari ini, sangat berarti bagiku. Semuanya seakan terbuka dengan mudah. I’m not alone. Tapi aku masih bertahan disini. Masih berjalan beriringan. Aku baru saja menyelesaikan satu draftku. Aku mengenal beberapa penulis novel dan cerpen yang membuat aku tertarik untuk mengenal mereka. Seperti biasa, dari orang yang berharga. Abang. Dia sepertinya mendukungku. Kadang obrolanku dengannya adalah tentang buku dan tulisan. Entah kenapa aku iri dengannya. Tapi dia selalu banyak membantuku.

Namamu lagi. Kembali teringat. Meski aku tidak mau. Sudahlah. Aku hanya ingin menantimu. Mungkin kabar dan keberadaanmu disekitar. Hingga mata bertatap karena rindu itu ada. Semoga.