23 Juli 2013

Sepasang Sendal Jepit



Sret.. sret..sret.. sret.. sret..sret...

Suara itu makin terdengar mendekat menuju kamarku. Tampaknya suara itu muncul dari pintu depan. Sejenak aku berhenti melanjutkan tugas kuliahku, menebak siapa yang akan mengetuk pintu kamarku.

Tok.. tok.. tok..

“Saraaahh...” lantas aku berdiri menuju pintu. Siapa ini? Gerutuku dalam hati. Aku membukakan pintu. Ada sesosok anak kecil dengan baju oren kesayangannya. Kali ini rambutnya dikuncir kuda, poninya tergerai didepan keningnya. Aku tersenyum melihat penampilannya hari ini, ada yang baru dari penampilannya. Sendal yang dipakainya. Baru. Aku teringat kejadian beberapa hari lalu. Sejak kejadian itu dia tidak pernah mengetuk kamarku lagi. Baru hari ini.

...

“Mamaaaaa.. Sira ikut ke pasar yaaa?? Sira bosen dirumah,” rengeknya kepada sang mama.
“Kamu dirumah aja yaa sama kakak. Nanti Sira rewel, mama kan bisa repot.”
“Sira gak bakal rewel kok ma. Ya ya ya?? Sira janji ma,” jawabnya cepat, memotong pembicaraan sang mama. Sang mama tersenyum dan mengangguk setuju. Sira senang sekali. Sira dan mama langsung berangkat ke pasar.
 ...

“Saraaaaahh... Sira dari main layangan dilapangan,” jeritnya sambil sesegukan masuk kamarku. Aku bingung melihatnya.
“Sendal Sira hilaaaaaaaaaaang,” jelasnya lagi. Masih sesegukan.
“Kok bisa sayang?” tanyaku.
“Tadi Sira mainnya gak pake sendal, terus pas mau pulang sendalnya udah gak ada,” jawabnya dengan polos. “Nanti mama marah sendalnya hilang, baru dibeli sama mama,” masih dengan sesegukan dan air matanya mulai mengalir lagi.

“Sekarang Sira pulang dulu aja ya. Nanti Sira dicariin mama. Sira harus jujur sama mama. Ya?” ujarku dengan memegang pundaknya dan menghapus air matanya. Dia mulai berhenti menangis. Ada rasa takut yang terlihat dari tatapan matanya, polos sekali. Sira mengangguk kemudian memelukku dan meninggalkan kamarku.

...

“Sira sudah dibeliin sendal lagi sama mama tapi cuma sendal jepit, Sarah. Sira maunya sendal yang ada gambarnya. Lebih bagus, Sarah,” ucapnya saat aku mengajaknya masuk dan duduk dikamarku. Aku tersenyum dan mengeluarkan satu bungkus cokelat yang aku beli untuknya, memberikan cokelat itu ke Sira.

“Kata mama, Sira gak dibolehin beli lagi sendal yang ada gambarnya. Nanti hilang lagi. Padahal Sira udah janji sama mama kalo gak bakal hilang lagi,” jelasnya padaku sambil menggenggam cokelat pemberianku.

Sret.. sret..sret.. sret.. sret..sret...

Dia duduk ditempat tidurku, dengan sendalnya, dia memberikan efek suara saat dia berjalan. Mungkin dia mulai suka, pikirku. Aku masih memperhatikan penampilannya. 

“Sarah, Sira gak mau sembarangan lagi kalo main dilapangan. Disana banyak anak-anak nakal. Kalo mau main dilapangan lagi, Sira mau main sama kakak aja terus pake sendal aja. Kan jelek, pasti gak diambil lagi,” ujarnya.

“Sira, kalo pun sendalnya jelek, jaga yaa.. nanti kalo Sira bisa jaga sendalnya, pasti mama mau beliin Sira sendal yang ada gambarnya,” saranku padanya. Dia tersenyum dan mengangguk. Dia mulai membuka cokelatnya.

“Iya, Sira janji. Makasih ya Saraaaaaah!” aku tersenyum. Kemudian melanjutkan tugas kuliahku dan membiarkan Sira menikmati cokelatnya. 

...

Sira kehilangan sendalnya dan dimarahi oleh sang mama. Sendalnya masih baru dan dia bermain dilapangan sendirian, tanpa ditemani sang kakak. Aku diberitahu sang mama, esok harinya setelah Sira kehilangan sendalnya. Sepasang sendal jepit baru itu adalah sendal yang kedua dalam satu bulan ini.


#Judulnya sama dengan Sepasang Sendal Jepit di blog bang arai. Beliau yang kasih ide untuk judul fiksi mini ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar