Sret.. sret..sret.. sret.. sret..sret...
Suara itu makin terdengar
mendekat menuju kamarku. Tampaknya suara itu muncul dari pintu depan. Sejenak aku
berhenti melanjutkan tugas kuliahku, menebak siapa yang akan mengetuk pintu
kamarku.
Tok.. tok.. tok..
“Saraaahh...”
lantas aku berdiri menuju pintu. Siapa ini? Gerutuku dalam hati. Aku membukakan
pintu. Ada sesosok anak kecil dengan baju oren kesayangannya. Kali ini
rambutnya dikuncir kuda, poninya tergerai didepan keningnya. Aku tersenyum melihat
penampilannya hari ini, ada yang baru dari penampilannya. Sendal yang
dipakainya. Baru. Aku teringat kejadian beberapa hari lalu. Sejak kejadian itu
dia tidak pernah mengetuk kamarku lagi. Baru hari ini.
...
“Mamaaaaa..
Sira ikut ke pasar yaaa?? Sira bosen dirumah,” rengeknya kepada sang mama.
“Kamu dirumah
aja yaa sama kakak. Nanti Sira rewel, mama kan bisa repot.”
“Sira gak bakal
rewel kok ma. Ya ya ya?? Sira janji ma,” jawabnya cepat, memotong pembicaraan
sang mama. Sang mama tersenyum dan mengangguk setuju. Sira senang sekali. Sira dan
mama langsung berangkat ke pasar.
...
“Saraaaaahh...
Sira dari main layangan dilapangan,” jeritnya sambil sesegukan masuk kamarku. Aku
bingung melihatnya.
“Sendal Sira
hilaaaaaaaaaaang,” jelasnya lagi. Masih sesegukan.
“Kok bisa
sayang?” tanyaku.
“Tadi Sira
mainnya gak pake sendal, terus pas mau pulang sendalnya udah gak ada,” jawabnya
dengan polos. “Nanti mama marah sendalnya hilang, baru dibeli sama mama,” masih
dengan sesegukan dan air matanya mulai mengalir lagi.
“Sekarang Sira
pulang dulu aja ya. Nanti Sira dicariin mama. Sira harus jujur sama mama. Ya?”
ujarku dengan memegang pundaknya dan menghapus air matanya. Dia mulai berhenti
menangis. Ada rasa takut yang terlihat dari tatapan matanya, polos sekali. Sira
mengangguk kemudian memelukku dan meninggalkan kamarku.
...
“Sira sudah
dibeliin sendal lagi sama mama tapi cuma sendal jepit, Sarah. Sira maunya
sendal yang ada gambarnya. Lebih bagus, Sarah,” ucapnya saat aku mengajaknya masuk
dan duduk dikamarku. Aku tersenyum dan mengeluarkan satu bungkus cokelat yang
aku beli untuknya, memberikan cokelat itu ke Sira.
“Kata mama,
Sira gak dibolehin beli lagi sendal yang ada gambarnya. Nanti hilang lagi. Padahal
Sira udah janji sama mama kalo gak bakal hilang lagi,” jelasnya padaku sambil
menggenggam cokelat pemberianku.
Sret.. sret..sret.. sret.. sret..sret...
Dia duduk ditempat
tidurku, dengan sendalnya, dia memberikan efek suara saat dia berjalan. Mungkin
dia mulai suka, pikirku. Aku masih memperhatikan penampilannya.
“Sarah, Sira
gak mau sembarangan lagi kalo main dilapangan. Disana banyak anak-anak nakal. Kalo
mau main dilapangan lagi, Sira mau main sama kakak aja terus pake sendal aja. Kan
jelek, pasti gak diambil lagi,” ujarnya.
“Sira, kalo pun
sendalnya jelek, jaga yaa.. nanti kalo Sira bisa jaga sendalnya, pasti mama mau
beliin Sira sendal yang ada gambarnya,” saranku padanya. Dia tersenyum dan
mengangguk. Dia mulai membuka cokelatnya.
“Iya, Sira
janji. Makasih ya Saraaaaaah!” aku tersenyum. Kemudian melanjutkan tugas
kuliahku dan membiarkan Sira menikmati cokelatnya.
...
Sira kehilangan
sendalnya dan dimarahi oleh sang mama. Sendalnya masih baru dan dia bermain
dilapangan sendirian, tanpa ditemani sang kakak. Aku diberitahu sang mama, esok
harinya setelah Sira kehilangan sendalnya. Sepasang sendal jepit baru itu
adalah sendal yang kedua dalam satu bulan ini.
#Judulnya sama dengan Sepasang Sendal Jepit di blog bang arai. Beliau yang kasih ide untuk judul fiksi mini ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar