4 Juli 2013

(Masih) Dibalik Sebuah Nama


Aku masih tersentak saat orang-orang kembali menanyakan kabar darimu. Terkadang aku masih bisa menjawab, banyak tidak untuk sekarang. Banyak pertanyaan yang muncul, aku bingung. Aku mengikuti saja perkembangan namamu. 

Aku bersama ketidakpantasanku berpikir, siapa aku? Kamu? Semuanya baik-baik saja bukan? Semoga. Bersama do’a kuselipkan sedikit namamu. Terpikirkan untuk melupakan segalanya. Susah dan lelah untuk mencoba. 

Pembicaraan saat sore menjelang senja. Tawa yang terpingkal-pingkal atau sunyi sepi obrolan yang kita buat, ternyata banyak aku rindukan. Namamu masih saja sama. Berdendang riang mengikuti irama hari-hariku. Dimana aku mulai berjalan. Berani menyelesaikan satu tulisan dengan segala hal yang ingin aku buat. 

Tentang nama dan suara. Obrolan yang selalu dibuat, tidak selalu berakhir senyap dan indah. Hei pemilik suara menenangkan! Apa kabarmu? Eits.. aku sudah menanyakan kabarmu waktu lalu. Kamu baik. Senang aku membaca jawabanmu. Semoga selalu baik. Selalu aku ingin menyapamu tapi pantaskah itu? Aku tidak mengerti apa maumu. Apakah aku baik menyapamu? Aku hanya berpikir, kamu sahabatku yang selalu baik. Mengerti apa yang akan aku lakukan dan membiarkan apapun yang ingin aku lakukan. Aku merasa kehilangan sahabatku. Bukan karena sapaanmu sepanjang waktu. Tapi dirimu yang tak berkabar. Aku mencoba sabar untuk menanti kabarmu sepanjang hari. Hampir sepanjang waktu. Ah sudahlah.. kita sudah membicarakannya bukan? Aku pun sudah mengakuinya padamu. Aku rindu. Ya. Aku masih rindu sampai saat aku menuliskan ini. 

Teringat obrolan panjang kita tentang masa depan masing-masing. Mau dimanakah aku?, dimanakah kamu?, apa mauku, maumu? Hingga hari ini, sangat berarti bagiku. Semuanya seakan terbuka dengan mudah. I’m not alone. Tapi aku masih bertahan disini. Masih berjalan beriringan. Aku baru saja menyelesaikan satu draftku. Aku mengenal beberapa penulis novel dan cerpen yang membuat aku tertarik untuk mengenal mereka. Seperti biasa, dari orang yang berharga. Abang. Dia sepertinya mendukungku. Kadang obrolanku dengannya adalah tentang buku dan tulisan. Entah kenapa aku iri dengannya. Tapi dia selalu banyak membantuku.

Namamu lagi. Kembali teringat. Meski aku tidak mau. Sudahlah. Aku hanya ingin menantimu. Mungkin kabar dan keberadaanmu disekitar. Hingga mata bertatap karena rindu itu ada. Semoga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar