Aku masih tersentak saat orang-orang
kembali menanyakan kabar darimu. Terkadang aku masih bisa menjawab, banyak
tidak untuk sekarang. Banyak pertanyaan yang muncul, aku bingung. Aku mengikuti
saja perkembangan namamu.
Aku bersama ketidakpantasanku
berpikir, siapa aku? Kamu? Semuanya baik-baik saja bukan? Semoga. Bersama do’a
kuselipkan sedikit namamu. Terpikirkan untuk melupakan segalanya. Susah dan
lelah untuk mencoba.
Pembicaraan saat sore menjelang
senja. Tawa yang terpingkal-pingkal atau sunyi sepi obrolan yang kita buat,
ternyata banyak aku rindukan. Namamu masih saja sama. Berdendang riang
mengikuti irama hari-hariku. Dimana aku mulai berjalan. Berani menyelesaikan
satu tulisan dengan segala hal yang ingin aku buat.
Tentang nama dan suara. Obrolan yang
selalu dibuat, tidak selalu berakhir senyap dan indah. Hei pemilik suara
menenangkan! Apa kabarmu? Eits.. aku sudah menanyakan kabarmu waktu lalu. Kamu
baik. Senang aku membaca jawabanmu. Semoga selalu baik. Selalu aku ingin
menyapamu tapi pantaskah itu? Aku tidak mengerti apa maumu. Apakah aku baik
menyapamu? Aku hanya berpikir, kamu sahabatku yang selalu baik. Mengerti apa
yang akan aku lakukan dan membiarkan apapun yang ingin aku lakukan. Aku merasa
kehilangan sahabatku. Bukan karena sapaanmu sepanjang waktu. Tapi dirimu yang
tak berkabar. Aku mencoba sabar untuk menanti kabarmu sepanjang hari. Hampir
sepanjang waktu. Ah sudahlah.. kita sudah membicarakannya bukan? Aku pun sudah
mengakuinya padamu. Aku rindu. Ya. Aku masih rindu sampai saat aku menuliskan
ini.
Teringat obrolan panjang kita tentang
masa depan masing-masing. Mau dimanakah aku?, dimanakah kamu?, apa mauku,
maumu? Hingga hari ini, sangat berarti bagiku. Semuanya seakan terbuka dengan
mudah. I’m not alone. Tapi aku masih
bertahan disini. Masih berjalan beriringan. Aku baru saja menyelesaikan satu
draftku. Aku mengenal beberapa penulis novel dan cerpen yang membuat aku
tertarik untuk mengenal mereka. Seperti biasa, dari orang yang berharga. Abang.
Dia sepertinya mendukungku. Kadang obrolanku dengannya adalah tentang buku dan
tulisan. Entah kenapa aku iri dengannya. Tapi dia selalu banyak membantuku.
Namamu lagi. Kembali teringat. Meski
aku tidak mau. Sudahlah. Aku hanya ingin menantimu. Mungkin kabar dan keberadaanmu
disekitar. Hingga mata bertatap karena rindu itu ada. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar