23 Juli 2013

Riri dan Coffee Cafe



“Keluar yuk! Ngopi?” ujar Riza padaku sore itu. Riza adalah teman kantor yang dekat denganku. Tanpa pemikiran panjang, aku mengangguk setuju. 

Aku bertemu Riza dilobby kantor. Kami berjalan kaki saja menuju kafe favorit kami karena hanya di sebelah kantor. Kafe ini punya sesuatu yang unik. Semua dibuat kecokelatan, diberi sedikit warna kehijauhan dibagian atasnya, terlihat manis, tenang, dan indah dipandang. Kafe ini menyiapkan berbagai macam jenis kopi. Ada menu cokelat hangat dan  berbagai makanan ringan. 

Cafe latte,” pesanku pada pelayan yang menghampiriku dan Riza.
“Eehhhhhmmmm.. Cappucino tanpa toping kayu manis,” pesan Riza dan pelayan tersenyum karena melihat kelakuan Riza yang terus membolak-balik daftar menu. Capuccino adalah favoritnya dan pelayan kafe itu sudah hapal pesanan Riza. Kami adalah pelanggan tetap Coffee Cafe. Setelah memastikan pesanan kami, pelayan meninggalkan meja kami, menyiapkan pesanan.

15 menit kemudian...........

Pelayan kembali menghampiri meja dan membawa 2 cangkir kopi. Tak lama, masuk seorang wanita. Dia memilih duduk didekat jendela, 2 meja dari pintu masuk. Pelayan segera menemui wanita itu. Tampaknya mereka akrab dan wanita itu memesan hot chocolate. Memang cuaca hari itu terlihat mendung. 

...

Hari itu aku pergi sendiri ke Coffee Cafe. Riza sedang keluar kota. Aku memilih menu cappucino hari itu. Tak lama aku duduk dan memesan, wanita yang aku lihat saat bersama Riza 2 hari lalu, dia kembali datang dan duduk tepat 2 meja dari pintu. Memesan hot chocolate lagi. Aku memperhatikannya dari kejauhan. Pesananku datang dan aku menikmatinya sambil menyelesaikan pekerjaanku.

Handphoneku bergetar.

Hei, besok ditunggu kedatangannya dirumah makan Rahmat yaa.. Deket SMA kita dulu. Jam 7 malam. Sekalian reunian. Reza

Aku tersenyum dan membalas sms Reza, aku akan datang.

...

Aku datang jam 7 dirumah makan Rahmat, ternyata sudah ramai disana. Aku banyak bertemu dengan teman-teman SMA dulu. Senang aku mengingat banyak hal tentang SMA, sudah lewat beberapa tahun lalu. Segera aku melangkah kakiku bertemu dengan Rahmat, sang pemilik rumah makan dan temanku. 

10 menit berlalu...

Acara pembukaan dimulai, aku melihat sesosok wanita. Wanita yang sama di kafe itu. Seingatku, Rahmat banyak mengundang teman-teman SMAnya. Aku menghampirinya dan mengajak mengobrol. 

“Hai,” aku mulai menyapanya.
“Ya?” jawabnya.
“Kamu sering ke Coffee Cafe kan? Temannya Rahmat?” tanyaku penasaran.
“Iya, kamu siapa?” tanyanya.
“Aku teman Rahmat juga dan sering ke kafe itu.”
“Oh... aku pernah melihatmu, kemarin sore. Aku Riri,” kemudian sambil mengingat.
“Riri kelas XII IPA 1? Aku Rino. Ingat?” tanyaku memastikan.
“Iya.. Rino.. Aku ingat! Kamu sibuk apa sekarang?” tanyanya lagi.
“Panjang ceritanya. Gimana kalo kita ngobrol di Coffee Cafe?” aku menawarkan.
“Ehhhmm.. boleh.. eh ini udah mulai acaranya. Lanjut nanti yuk.” Tersenyum aku dan mengangguk setuju.
...

Aku dan Riri adalah teman dekat dulu tapi karena ada satu masalah, kami tidak berkabar lagi. Baru sekarang, kami baru bertemu lagi hari ini. Dia pindah ke Yogyakarta selesai ujian SMA. Setelah pertemuan malam itu, Riri adalah teman ke Coffee Cafe saat Riza keluar kota atau kami pergi bertiga. Ah.. sudah lama aku rindu Riri. Dia memang tidak suka kopi. Dia pecinta cokelat. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar