“Keluar yuk! Ngopi?” ujar Riza
padaku sore itu. Riza adalah teman kantor yang dekat denganku. Tanpa pemikiran
panjang, aku mengangguk setuju.
Aku bertemu Riza dilobby kantor. Kami
berjalan kaki saja menuju kafe favorit kami karena hanya di sebelah kantor. Kafe ini
punya sesuatu yang unik. Semua dibuat kecokelatan, diberi sedikit warna
kehijauhan dibagian atasnya, terlihat manis, tenang, dan indah dipandang. Kafe ini
menyiapkan berbagai macam jenis kopi. Ada menu cokelat hangat dan berbagai makanan ringan.
“Cafe latte,” pesanku pada pelayan yang menghampiriku dan Riza.
“Eehhhhhmmmm.. Cappucino tanpa toping kayu manis,” pesan
Riza dan pelayan tersenyum karena melihat kelakuan Riza yang terus
membolak-balik daftar menu. Capuccino adalah favoritnya dan pelayan kafe itu sudah
hapal pesanan Riza. Kami adalah pelanggan tetap Coffee Cafe. Setelah memastikan pesanan kami, pelayan meninggalkan
meja kami, menyiapkan pesanan.
15 menit kemudian...........
Pelayan kembali menghampiri meja
dan membawa 2 cangkir kopi. Tak lama, masuk seorang wanita. Dia memilih duduk
didekat jendela, 2 meja dari pintu masuk. Pelayan segera menemui wanita itu. Tampaknya
mereka akrab dan wanita itu memesan hot
chocolate. Memang cuaca hari itu terlihat mendung.
...
Hari itu aku pergi sendiri ke Coffee Cafe. Riza sedang keluar kota. Aku
memilih menu cappucino hari itu. Tak lama
aku duduk dan memesan, wanita yang aku lihat saat bersama Riza 2 hari lalu, dia
kembali datang dan duduk tepat 2 meja dari pintu. Memesan hot chocolate lagi. Aku memperhatikannya dari kejauhan. Pesananku
datang dan aku menikmatinya sambil menyelesaikan pekerjaanku.
Handphoneku bergetar.
Hei, besok ditunggu kedatangannya dirumah makan Rahmat yaa.. Deket SMA
kita dulu. Jam 7 malam. Sekalian reunian. Reza
Aku tersenyum dan membalas sms
Reza, aku akan datang.
...
Aku datang jam 7 dirumah makan Rahmat,
ternyata sudah ramai disana. Aku banyak bertemu dengan teman-teman SMA dulu. Senang
aku mengingat banyak hal tentang SMA, sudah lewat beberapa tahun lalu. Segera aku
melangkah kakiku bertemu dengan Rahmat, sang pemilik rumah makan dan temanku.
10 menit berlalu...
Acara pembukaan dimulai, aku
melihat sesosok wanita. Wanita yang sama di kafe itu. Seingatku, Rahmat banyak
mengundang teman-teman SMAnya. Aku menghampirinya dan mengajak mengobrol.
“Hai,” aku mulai menyapanya.
“Ya?” jawabnya.
“Kamu sering ke Coffee Cafe kan? Temannya Rahmat?”
tanyaku penasaran.
“Iya, kamu siapa?” tanyanya.
“Aku teman Rahmat juga dan sering
ke kafe itu.”
“Oh... aku pernah melihatmu, kemarin
sore. Aku Riri,” kemudian sambil mengingat.
“Riri kelas XII IPA 1? Aku Rino. Ingat?”
tanyaku memastikan.
“Iya.. Rino.. Aku ingat! Kamu sibuk
apa sekarang?” tanyanya lagi.
“Panjang ceritanya. Gimana kalo
kita ngobrol di Coffee Cafe?” aku
menawarkan.
“Ehhhmm.. boleh.. eh ini udah
mulai acaranya. Lanjut nanti yuk.” Tersenyum aku dan mengangguk setuju.
...
Aku dan Riri adalah teman dekat
dulu tapi karena ada satu masalah, kami tidak berkabar lagi. Baru sekarang,
kami baru bertemu lagi hari ini. Dia pindah ke Yogyakarta selesai ujian SMA. Setelah
pertemuan malam itu, Riri adalah teman ke Coffee
Cafe saat Riza keluar kota atau kami pergi bertiga. Ah.. sudah lama aku
rindu Riri. Dia memang tidak suka kopi. Dia pecinta cokelat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar