25 Agustus 2013

Maaf, Curhat!

Selamat pagi, siang, sore, dan malam teman-teman yang baca blog ini. Terima kasih sudah mampir. Beberapa hari yang lalu, aku baru mulai ikutan proyek #AjakanMenulis dari follower twitter @Warung_Blogger. Proyek ini berjalan sampai tanggal 31 Agustus 2013.

Untuk topik kali ini, aku sama sekali gak ada ide apa yang mau ditulis. Tiba-tiba mentok aja, mungkin karena lagi sedih. Kenapa sedih? anggap saja ini hanya alasanku saja. Karena ini #AjakanMenulis apa saja, maka ini aja yang mau aku tulis. 

@reinypaulus: lagi bahagia aja, gak pernah tau. apalagi kalo lagi sedih. gimana tau kalo lagi butuh semangat? #mikirsemikirmikirnya terima kasih.

Tweet ini untuk seorang yang jauh sekali di sana. Semoga dia selalu baik dan tetap bahagia. Aku rasa, aku mulai marah dan agak sedikit kesal padanya. Itu saja.

24 Agustus 2013

#4 Kamu yang Tidak Tahu

***

Katamu, kamu menungguku. Aku memang datang terlambat, maafkan aku. Jam 8 lewat aku baru tiba dan aku sudah tidak bisa menemuimu lagi. Aku kebingungan saat itu, aku tidak bisa menemukanmu dan menghubungimu. Maafkan aku. Aku mencarimu di semua sudut stasiun. Aku tetap tidak menemukanmu. Aku duduk di ruang tunggu dan sempat menanyakan ke petugas stasiun, apa keretamu sudah datang. Ternyata tidak ada kereta dari kotamu pagi ini. Aku semakin bingung pagi itu, aku menuju sebuah warung dan memesan segelas teh dan memakan sebungkus roti. Memikirkanmu membuatku lupa sarapan. 

 "Jemput siapa mbak?" tanya si bapak penjual. 

"Temen cowok saya, pak. Dia bilang, keretanya tiba pagi. Ternyata gak ada," ujarku sambil mengingatmu. 

"Ciri-cirinya gimana mbak? Soalnya tadi ada mas-mas yang nunggu temennya jemput," tanya si bapak lagi.

"Hemm.. Dia tinggi, kulitnya sawo matang, pake kacamata, biasanya pake ransel juga pak," jelasku.

"Oh. Hampir mirip sih mbak. Tadi masnya bilang mau ke toilet. Tunggu sini aja, itu gelas tehnya masih ada," pinta si bapak sambil menunjuk ke sebuah gelas. Berdebar jantungku saat mendengar penjelasan bapak penjual.

Aku menantimu, menikmati teh dan rotiku. 5 menit berlalu.

"Pak, ini tehnya berapa ya? Sama roti juga tadi."

Tiba-tiba ada suara yang mengejutkanku, tapi aku seperti mengenal suara itu. Aku memalingkan wajahku dari jalanan ke sumber suara. Suaraku tercekat saat melihat siapa orang itu. Iko. Aku memandanginya saja, aku tidak bisa memanggilnya.

Mungkin merasa ada yang memandangimu, kamu menoleh ke arahku. Kamu tampak terkejut, tapi segera merubah ekspresimu lagi menjadi biasa saja. Aku bingung.

"Ya mbak? Kenapa? Kok ngeliatin saya terus dari tadi?" tanyamu. Aku langsung cemberut saat pertanyaan itu kamu lontarkan dan kamu langsung tertawa gembira dan memelukku.

"Maaf ya aku datengnya telat. Aku nyariin kamu terus dari tadi. Kamu gak ada dimana-mana," bisikku, masih dipeluknya.

"Iya, gak apa. Maafin aku juga yaa buat kamu nunggu lama," kamu.mendaratkan bibirmu di keningku. 

"Oh iya, aku harus pulang ke Jakarta siang ini juga. Aku gak bisa lama-lama menemuimu," katamu tampak kecewa dan menunjukkan tiket keretanya.

"Ha? Kok cepet? Oh iya, tadi kamu darimana sih? Kereta tadi pagi gak ada yang dari jakarta?" tanyaku mendesak.

"Aku ada urusan mendadak di kantor. Maaf yaa.. Aku dari Surabaya. Oh iya, aku lupa kasih tau kamu. Eh kita jalan yuk. Mau cari titipan mama," kamu menggandeng tanganku.

***

"Ini buat kamu," aku sodorkan kotak beludru warna merah itu padanya. Dia kaget dan bingung.

"Apa ini? Cincin?" kamu membukanya dan kaget.

"Iya. Aku mau ngelamar kamu jadi istri aku. Hahahaha," gelak tawamu pecah.

"Gak romantis banget sih kamu! Ehmm.. Aku selesai kuliah 1 tahun lagi nih. Kamu harus mau nunggu aku ya?" pintamu. Aku mengangguk.

"Makasih yaa.. Aku mau nunggu kamu. Sekarang kita makan dulu yuk, laper nih!!" kamu mencubit lenganku dan menggenggam kotak pemberian dariku. Aku tersenyum. Aku selalu merindukanmu. Senyummu terus menghiasi wajahmu hari itu. Terima kasih ya Tuhan. Aku tersenyum melihatmu.
***

Keretamu mulai meninggalkan kotaku. Beberapa jam saja aku bertemu denganmu, tapi aku lega. Kamu tidak akan pergi lagi. Sampai kapan pun, aku akan rindu. Terima kasih, kamu tidak pernah tahu. Aku selalu menunggumu.

***
Nina, terima kasih. Aku pulang dulu. Kamu tidak pernah tahu, aku selalu ada buat kamu.
 Pesan terkirim. Aku tersenyum, semoga kamu tidak apa-apa.

23 Agustus 2013

#3 Kamu yang Tidak Tahu

***

Pukul 6 pagi alarmku berbunyi. Aku terbangun, kaget. Aku beranjak dan bersiap-bersiap. Jam 7 kurang 15 menit aku sudah selesai. Beritaku sudah aku bawa bersamaan dengan catatan kuliahku. Waktunya berangkat dan menemui sang pujaan hati. Batinku.

Sepanjang perjalanan ke kampus, aku senang sekali. Terheran teman-teman melihatku hari ini. Aku tak menghiraukan mereka, aku lekas pergi ke tujuan selanjutnya setelah menyesaikan keperluan di kampus.

30 menit berlalu sejak pukul 7 pagi. Jogja macet sekali pagi ini. Entah apa yang terjadi, aku tak tahu. Aku hanya berharap aku tidak terlambat menemuimu. Pikiranku tentangmu memenuhi pikiranku. Aku terjebak lampu merah beberapa kali di keramaian pagi ini. Lampu merah berikutnya, aku ingin mengabarimu, handphoneku mati. Oh tidak! Bodoh sekali aku. 15 menit lagi. Motor di depanku, mengerem mendadak dan aku terjatuh. Beberapa orang menolong, membawaku menepi ke sebuah warung pinggir jalan. Aku sedikit kaget dan terburu-buru, ujarku pada orang yang bertanya. Aku tidak apa-apa, kakiku hanya agak kram karena tertimpa motor. 10 menit berlalu, aku teringat padamu.

***

Lelaki itu sudah menunggu. Dia tidak ada tujuan lain selain menunggu perempuan yang telah mendiami seluruh hatinya. Dia menikmati pagi itu dengan segelas teh hangat.

Sedangkan seorang perempuan di tempat lain, terburu-buru ingin menemui sang lelaki. Semoga tidak terlambat.

***

Bersambung.. (last episode)

22 Agustus 2013

#2 Kamu yang Tidak Tahu

*** 

Aku sedang dalam perjalanan ke tujuanku selanjutnya, Jogjakarta. Setelah beberapa hari lalu aku memutuskan untuk terbang ke Surabaya, bertemu beberapa teman. Jogjakarta menjadi kota yang selalu aku rindukan, selalu istimewa. Aku terlalu lama terjun dalam pekerjaanku disesaknya ibukota. Akhirnya aku mengambil cuti kerjaku. Rasa ingin menemukan sesuatu yang baru. 

Jakarta-Surabaya-Jogjakarta-Jakarta. Itu rute yang harus aku rencanakan. Saat aku meninggalkan Surabaya, aku ingin segera mengabari satu perempuan yang dulu selalu setia menungguku dengan sabar. Sayang, aku terlalu lelah dan aku terlelap setelah keretaku mulai meninggalkan Surabaya menuju Jogjakarta. 

Aku merasakan keretaku berhenti, aku terbangun. Benar saja, keretaku berhenti entah dimana. Gelap sekali. Aku meraih handphoneku, pukul 3 pagi. Aku segera mencari namamu dikontak handphoneku, Nina. Kirim pesan. 

Hei! Apa kabar dirimu? Masih pagi sekali yaa? Maafkan aku. Aku hanya ingin memberitahumu. Aku mau bertemu denganmu dan aku sedang di perjalanan menuju kotamu. Jam 8 pagi aku tunggu di stasiun tugu. Aku menantimu. Kamu mau kan? Aku tunggu kamu ya. :)

Pesan terkirim dan aku memandang isi kantong kemejaku. Kotak beludru merah itu masih ada. Aku tersenyum mengingat senyummu, kereta mulai berjalan lagi dan kamu membalas pesanku. Aku rindu padamu.

 *** 

Bersambung

21 Agustus 2013

Keno, Terima Kasih!

Sudah lama kita bertukar cerita lewat dunia maya. Sudah lama suaramu selalu menenangkanku, seperti suara ibu saat dulu aku di dongengkan olehnya setiap malam. Nyaman sekali. Sayang, kita belum bisa berjumpa. Belum saatnya dan kita selalu menyadari itu. Hingga hari itu, kita memutuskan memisahkan diri. Seperti amoeba saja. Tapi itulah keputusan kita sebenarnya. Ah.. aku mengingat hari itu lagi.

Aku mendatangi kotamu bulan kemarin. Aku bermaksud menemui dan mengucapkan terima kasih padamu secara langsung. Tapi ada yang menusuk hatiku. Aku mendapati namamu ada di sebuah undangan pernikahan. Namamu bersanding dengan nama yang tak pernah aku kenal dan tahu. Temanmu yang lain yang mengabariku tentang undanganmu itu. Kamu tahu kedatanganku.

Aku berencana datang ke acara pernikahanmu. Aku berangkat bersama teman-teman. Mereka menatapku kasihan. Aku ingin biasa saja. Sayang, sulit sekali ditutupi. Satu temanku memelukku selama perjalanan ke acaramu.

Sesampainya di sana, mereka menanyakan kabarku. Aku baik-baik saja. Aku tersenyum meyakinkan. Memang aku baik-baik saja. Aku tidak merasa bodoh. Inilah keputusan kita bukan? 

Aku melihatmu bersama perempuan yang cantik sekali dan kamu terlihat gagah dengan jas berwarna biru muda dan tuksedo yang kamu pakai. Kalian cocok sekali. Aku terharu, kamu tersenyum ramah menyalami semua tamu yang menghampirimu dan istrimu. Aku tidak bisa bertemu denganmu. Aku memutuskan untuk tidak menyalamimu, ini hari bahagiamu. Aku menuju tempat lain, memberikan secarik kertas kepada pembawa acara. Aku ingin pembawa acara itu membacakan pesan itu untukku. Tak lama, pembawa acara itu memberi pengumuman sebentar dan mengatakan bahwa ada pesan untuk kedua mempelai. Aku beranjak pergi dari acaramu.

Teruntuk Keno dan Ira,
Selamat untuk kalian. Semoga menjadi pasangan yang langgeng sampai hayat memisahkan kalian. Terima kasih untuk Keno, jaga istrimu dengan baik. Jaga juga cinta kalian yaa. Aku akan merindukan kalian. 
Keyra

#FF2in1 21 Agustus 2013
Tema: Yang Terlewatkan

Tentang Kana

#FF2in1 21 Agustus 2013
Tema: Kisah Romantis



Aku merindukanmu disini. Masihkah kamu mengingatku? Lelah sudah aku menantimu di sini. Aku ingat permintaanmu sore itu.

“Aku tidak bisa bersamamu seperti ini terus menerus. Aku harus pergi. Boleh kan?” pintamu sambil menatapku. Saat itu, aku masih saja diam menatap bunga pemberianmu.

“Aku pergi ya.. aku akan selalu sayang sama kamu. Sampai jumpa!” lalu kamu mencium keningku. Kemudian kamu pergi. Sampai tahun kelima, kamu tidak pernah menemuiku. Aku masih menantimu, itu saja
 
***

Seorang lelaki berumur 25 tahunan tergeletak di samping tempat tidurnya. Dia terjatuh. Seorang lagi menyadarinya, lalu berlari keluar. Tak berapa lama, masuk kembali ke kamar lelaki itu bersama beberapa orang. Mereka membawa lelaki itu keluar rumah, masuk kedalam mobil. Perjalanan menuju rumah sakit.

Seorang perempuan menanti di rumah, ia menyadari satu hal. Dia melihat kotak beludru pemberian ibunya dulu. Ini permintaan lelaki yang sekarang pingsan dan sedang dibawa  kerumah sakit. Lelaki itu mau memberikan pada gadis pujaannya. Kekasih yang ditinggalkannya dulu. Perempuan itu segera mencari nomor handphone di buku telepon. Dia menelepon seseorang. Setelah menelepon, perempuan itu pergi dan membawa kotak beludru itu.

***

Aku segera berangkat setelah mendapat kabar tentangmu. Entah dari siapa. Tampaknya aku lupa sesuatu. Aku hampir melupakan segalanya. Aku tersadar kembali, menyetop taksi di depan kantor. Aku khawatir. Aku sampai di tujuanku, mencari seseorang.

Aku melihat perempuan yang sudah lama tak jumpa. Dia memelukku dan menyerahkan kotak beludru merah, aku membukanya. Ada sebuah cincin sederhana dan sebuah kertas kecil.

Maafkan aku meninggalkanmu sore itu. Aku masih mencintaimu sampai saat ini dan selamanya. Aku ingin menikahimu tapi aku tidak bisa bersamamu. Maafkan aku. –Kana-

Aku berlari menuju ruanganmu. Kamu masih tersadar. Aku masih bisa masuk keruanganmu. Aku hanya bisa berbisik.

Terima kasih. Aku ingin menikah denganmu. Aku selalu mencintaimu. Maafkan aku.

***

Kamu kembali padaNya beberapa bulan setelah kita menikah. Terima kasih Kana.

#1 Kamu yang Tidak Tahu

Aku masih saja mengurai rindu itu untukmu. 

*** 

Aku terbangun, aku meraih handphoneku. Masih pukul 3 pagi dan artinya aku baru tertidur 2 jam. Iya, deadline beritaku harus aku serahkan jam 7 pagi ini ke redaksi. Aku mulai terlelap lagi tapi handphoneku berbunyi, menandakan ada sms masuk. Aku membukanya, tertera namamu. Iko. 

Hei! Apa kabar dirimu? Masih pagi sekali yaa? Maafkan aku. Aku hanya ingin memberitahumu. Aku mau bertemu denganmu dan aku sedang di perjalanan menuju kotamu. Jam 8 pagi aku tunggu di stasiun tugu. Aku menantimu. Kamu mau kan? Aku tunggu kamu ya. :) 

Tersentak aku membaca pesanmu. Sudah lama kamu tidak memberi kabar. Aku tidak pernah mencarimu, kamu yang mengatakan itu. Aku tidak boleh mencarimu. Biar kamu saja yang mengabariku. Aku cepat membaca pesanmu.

 Iya. Aku mau. Sampai jumpa. 

Pesan terkirim. Aku mulai mengantuk lagi dengan hati yang senang sekali. Besok pagi setelah ke kampus sebentar, aku akan bertemu denganmu. Aku terlelap. 

*** 


Bersambung

20 Agustus 2013

Segores Mimpi

Beberapa waktu lalu, kertas beserta mimpi-mimpiku masih terbentuk rapi berbentuk burung. Karena satu dan lain hal, aku mulai penasaran, apa saja yang sudah aku gapai dan sedang dilakukan. Aku membukanya satu persatu, menuliskan ulang setiap mimpiku dibuku. Melingkari mimpi yang sudah digapai bersama tanggalnya, bahkan aku menambahkan mimpi lainnya.

Senang sekali rasanya aku pernah menyimpan mimpi-mimpi ini rapi di burung-burung kertas ini. Satu persatu memulainya dan segera ingin menyelesaikannya. Usaha dan do'a coba aku lakukan. Semuanya indah dengan segala semangat dan dukungan semuanya. Sayang, aku tidak membawa buku berisi mimpi-mimpiku. Aku tidak bisa memperlihatkannya. Mungkin nanti.

Terima kasih atas mimpi-mimpi dan passion ini, Tuhan.

17 Agustus 2013

Pulang dan Pergi


Pulang tidak selalu tentang kepergian.
Menataplah keluar sebentar sebelum pergi.
Masih ada yang menanti kepulanganmu.

Pulang tidak selalu tentang berpisah.
Biarkan pergi menjadikan kita ada tempat kita pulang.
Hingga pesawat lepas landas,
masih ada yang mendoakanmu dari jauh.

Pulang tidak selalu tentang bertemu.
Akan ada tentang kehidupan dan kematian.
Akan ada kenangan baru tentang pertemuan
dan perpisahan.

Jangan takut untuk pulang dan pergi.
Biarkan mereka memaksa kita untuk jauh.
Kita akan tahu pada akhirnya
tentang pulang dan pergi itu.


Palembang, 10 maret 2013 

15 Agustus 2013

Senja Sama


Kadang senja tak menyapa kita saat dia menghadirkan kehangatan malam ini. Biarkan saja. Semua punya cara yang berbeda untuk menyapa dan merangkul. Sudah lama memang tidak menyapa dan banyak mengobrol. Dua hari ini dibuat kaget oleh dua orang. Satu, bahasan apa aja. Kadang rindu. Satu lagi tiba-tiba disodorkan pernyataan :

Heh kamu

Setor tulisan baru sini

Masa gak berkarya *emot marah*

Set dah orang ini. Jawaban aku adalah: 

He?

Enak ajee

Udah ada draftnya sih. Cuma mayeeesss

Iya mana?

Mau baca *emot orang marah banget*

Setelah dibuat kaget dan sedikit gerak lanjutin draft, eh ternyata belum buka blog aku. eit dah! Gantian emosi juga. Eeeerrrrr..
...

Hari ini, satu lainnya. Tetiba kirim pesan nagih pempek. Ehhmm.. belum, belum, belum. Ntar yaaaa! Sorenya ngobrol lagi. Dari cerpen sama fiksi. Ceritanya, aku abis jalan-jalan di blog orang dari satu account twitter blogger terpercaya. Terus kan bilang, nemu link yang kontennya bagus. Kirim link. Eh gak taunya beliau udah kenal, malah dikenalin kepenulis lainnya. Jiaaahhh.. tepok jidat deh. 

Tetiba, handphone berbunyi menandakan ada notifikasi. Dari twitter ternyata.

@arai_88: kak @mareretha, adek bongsor saya @reinypaulus kesengsem sama konten blognya tuh. :)

Hehehe.. tetiba aku kesengsem sendiri baca tweet si abang. @mareretha adalah yang punya link yang aku bilang bagus ke abang.

@mareretha: Hihihi, makasih :) RT @arai_88: kak mareretha, adek bongsor saya @reinypaulus kesengsem sama konten blognya tuh. :)

@mareretha: Ayo semangat! RT @reinypaulus: @arai_88 mareretha heehhee. Iya. Keren. Bikin ketagihan baca sama nulis.

Abis dapet semangat dan obrolan lagi sama si abang via whatsup, akhirnya jalan-jalan lagi ke dua blog yang direkomendasiin. Satu punya @mareretha dan satunya @noichil.

...

Akhirnya sekarang sudah hampir menyelesaikan deadline yang harusnya 2 hari lalu. Udah kayak apa aja. Hehe. Senengnyaaa... coretan dikertas sudah hampir penuh. Tinggal menambahkan beberapa halaman lagi. Mungkin redaksi bakal puyeng revisi tulisanku kali ini. Hahaha. Eh ini malah curhat coba! Udah ah.. mau lanjut nugas dulu. Terima kasih teruntuk yang punya akun @arai_88 dan @intanPusspa.