24 Agustus 2013

#4 Kamu yang Tidak Tahu

***

Katamu, kamu menungguku. Aku memang datang terlambat, maafkan aku. Jam 8 lewat aku baru tiba dan aku sudah tidak bisa menemuimu lagi. Aku kebingungan saat itu, aku tidak bisa menemukanmu dan menghubungimu. Maafkan aku. Aku mencarimu di semua sudut stasiun. Aku tetap tidak menemukanmu. Aku duduk di ruang tunggu dan sempat menanyakan ke petugas stasiun, apa keretamu sudah datang. Ternyata tidak ada kereta dari kotamu pagi ini. Aku semakin bingung pagi itu, aku menuju sebuah warung dan memesan segelas teh dan memakan sebungkus roti. Memikirkanmu membuatku lupa sarapan. 

 "Jemput siapa mbak?" tanya si bapak penjual. 

"Temen cowok saya, pak. Dia bilang, keretanya tiba pagi. Ternyata gak ada," ujarku sambil mengingatmu. 

"Ciri-cirinya gimana mbak? Soalnya tadi ada mas-mas yang nunggu temennya jemput," tanya si bapak lagi.

"Hemm.. Dia tinggi, kulitnya sawo matang, pake kacamata, biasanya pake ransel juga pak," jelasku.

"Oh. Hampir mirip sih mbak. Tadi masnya bilang mau ke toilet. Tunggu sini aja, itu gelas tehnya masih ada," pinta si bapak sambil menunjuk ke sebuah gelas. Berdebar jantungku saat mendengar penjelasan bapak penjual.

Aku menantimu, menikmati teh dan rotiku. 5 menit berlalu.

"Pak, ini tehnya berapa ya? Sama roti juga tadi."

Tiba-tiba ada suara yang mengejutkanku, tapi aku seperti mengenal suara itu. Aku memalingkan wajahku dari jalanan ke sumber suara. Suaraku tercekat saat melihat siapa orang itu. Iko. Aku memandanginya saja, aku tidak bisa memanggilnya.

Mungkin merasa ada yang memandangimu, kamu menoleh ke arahku. Kamu tampak terkejut, tapi segera merubah ekspresimu lagi menjadi biasa saja. Aku bingung.

"Ya mbak? Kenapa? Kok ngeliatin saya terus dari tadi?" tanyamu. Aku langsung cemberut saat pertanyaan itu kamu lontarkan dan kamu langsung tertawa gembira dan memelukku.

"Maaf ya aku datengnya telat. Aku nyariin kamu terus dari tadi. Kamu gak ada dimana-mana," bisikku, masih dipeluknya.

"Iya, gak apa. Maafin aku juga yaa buat kamu nunggu lama," kamu.mendaratkan bibirmu di keningku. 

"Oh iya, aku harus pulang ke Jakarta siang ini juga. Aku gak bisa lama-lama menemuimu," katamu tampak kecewa dan menunjukkan tiket keretanya.

"Ha? Kok cepet? Oh iya, tadi kamu darimana sih? Kereta tadi pagi gak ada yang dari jakarta?" tanyaku mendesak.

"Aku ada urusan mendadak di kantor. Maaf yaa.. Aku dari Surabaya. Oh iya, aku lupa kasih tau kamu. Eh kita jalan yuk. Mau cari titipan mama," kamu menggandeng tanganku.

***

"Ini buat kamu," aku sodorkan kotak beludru warna merah itu padanya. Dia kaget dan bingung.

"Apa ini? Cincin?" kamu membukanya dan kaget.

"Iya. Aku mau ngelamar kamu jadi istri aku. Hahahaha," gelak tawamu pecah.

"Gak romantis banget sih kamu! Ehmm.. Aku selesai kuliah 1 tahun lagi nih. Kamu harus mau nunggu aku ya?" pintamu. Aku mengangguk.

"Makasih yaa.. Aku mau nunggu kamu. Sekarang kita makan dulu yuk, laper nih!!" kamu mencubit lenganku dan menggenggam kotak pemberian dariku. Aku tersenyum. Aku selalu merindukanmu. Senyummu terus menghiasi wajahmu hari itu. Terima kasih ya Tuhan. Aku tersenyum melihatmu.
***

Keretamu mulai meninggalkan kotaku. Beberapa jam saja aku bertemu denganmu, tapi aku lega. Kamu tidak akan pergi lagi. Sampai kapan pun, aku akan rindu. Terima kasih, kamu tidak pernah tahu. Aku selalu menunggumu.

***
Nina, terima kasih. Aku pulang dulu. Kamu tidak pernah tahu, aku selalu ada buat kamu.
 Pesan terkirim. Aku tersenyum, semoga kamu tidak apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar