Mari menulis sajalah. Tentang apa saja tidak akan masalah, buatku. Toh ini lebih baik daripada orang lain tahu tentang ini. Tapi bagaimana ya menceritakannya? Aku bertanya padamu, kamu pun bingung. Apalagi aku.
Bagaimana tentang sebuah cerita beberapa bulan lalu? Tapi aku jadi rindu. Tidak jadilah.
Lalu,
bagaimana kalau tentangmu? yang aku pun tak tahu kamu sedang apa dan dimana #janganpakejogetya.
Tentang kamu, di pulau seberang. Dulu, masih sangat mudah untuk menemuimu walau tak ada alasan untuk bertemu intens. Tapi bertemu dan mengobrol denganmu adalah hal yang paling baik, membuatku lebih baik tepatnya. Jika saja kamu menyadarinya, ya aku tertarik denganmu. Ya masih saja dengan sifatku. Semua tak mau aku paksakan, entah itu kapan dan apakah bisa, semua masih nyaman dengan hubungan sahabat seperti ini.
Aku lupakan sejenak. Seorang teman pernah bertanya, sesaat sebelum flight, "Sama dia udah ketemu mbak?". "Sudah, semalem dan itu pengen banget ketemu katanya dia," jawabku. Sesaat kemudian, kami berdua akhirnya tersenyum dan berpelukan.
Aku selalu tersanjung dengan sikap dan perkataannya. Kemungkinan karena memang umurnya yang dewasa dariku. Cause I really like to have big brother, so I decided to listen his words and followed his good habbit.
Udah ah gitu aja :)
20 Desember 2016
14 Desember 2016
Celoteh Ringan
Malam ini, masih belum terbaca apa yang harus kulakukan ke depan. Kuliah lagi kah atau tetap bekerja atau ingin berwirausaha? Entahlah.
Tapi pikiranku, yang sedikit egois, membiarkan aku berceloteh ringan dan berat yang hanya berhenti dikepala dan hatiku. Aku berbicara dengan diriku sendiri. Aku sedih, marah, senang, memaki, dan menangis dengan diriku sendiri. Berbahayakah aku? Entahlah.
Mereka bilang, aku tak sendiri, selain Tuhan yang selalu ada dan ditempat-Nya. Tapi aku tak merasa begitu. Atau hanya aku saja yang menghilang dan lupa caranya kembali? Entahlah.
Malam ini, aku mengembalikan sedikit ingatan ke beberapa hari lalu. Seorang mengatakan padaku, "Nulis lagi sih, nanti aku baca," yang ia sampaikan melalui pesan singkat. Aku membalasnya, "Tentang apa?" karena aku mulai lupa bagaimana merangkai kata -ini saja mulai lelah. "Tentang keceriaan, biar kamu ceria," balasnya. Kata-katanya cukup menohok perasaanku. Tentu saja, ia tiba-tiba mengatakan itu setelah aku bilang rindu padanya. Tentu saja kami tidak bisa bertemu dalam waktu dekat, karena jarak. Ia ingin menghibur diriku dengan cara yang tentu saja bisa aku lakukan. And I'm here.
Malam ini, sudah sejak (kurang lebih) 2 jam lalu, aku berkutat dengan situs blog ini dan blog sebelah. Aku membenahi apa yang berantakan dan mengganti yang sudah usang. Aku tahu, ini tak pernah membosankan. Hehehe, untung ia mengingatkanku. Bukan hanya ia saja sebenarnya.
Malam ini pun, aku menemukan beberapa tulisan temanku yang beredar di dunia maya. Tapi jujur saja, aku tak pernah mengaksesnya. Karena aku tidak tahu. Aku tergerak membangun sisi lainku yang sudah kutinggalkan, karena banyak orang dan banyak hal. Tapi jangan samakan tulisanku dengan mereka. Karena aku lupa caranya berdialog sebaik mereka.
Aku mulai melantur, maka aku sudahi saja celoteh ini. Selamat malam.
nb: Aku tambahkan situs temanku itu :)
1. Sepantar - tulisan seorang mantan pemimpin
2. Melawan Malas - tulisan seorang pemimpin
3. Saratalinga - tulisan calon pemimpin
4. En Negli Ge - tulisan calon pemimpin
Tapi pikiranku, yang sedikit egois, membiarkan aku berceloteh ringan dan berat yang hanya berhenti dikepala dan hatiku. Aku berbicara dengan diriku sendiri. Aku sedih, marah, senang, memaki, dan menangis dengan diriku sendiri. Berbahayakah aku? Entahlah.
Mereka bilang, aku tak sendiri, selain Tuhan yang selalu ada dan ditempat-Nya. Tapi aku tak merasa begitu. Atau hanya aku saja yang menghilang dan lupa caranya kembali? Entahlah.
Malam ini, aku mengembalikan sedikit ingatan ke beberapa hari lalu. Seorang mengatakan padaku, "Nulis lagi sih, nanti aku baca," yang ia sampaikan melalui pesan singkat. Aku membalasnya, "Tentang apa?" karena aku mulai lupa bagaimana merangkai kata -ini saja mulai lelah. "Tentang keceriaan, biar kamu ceria," balasnya. Kata-katanya cukup menohok perasaanku. Tentu saja, ia tiba-tiba mengatakan itu setelah aku bilang rindu padanya. Tentu saja kami tidak bisa bertemu dalam waktu dekat, karena jarak. Ia ingin menghibur diriku dengan cara yang tentu saja bisa aku lakukan. And I'm here.
Malam ini, sudah sejak (kurang lebih) 2 jam lalu, aku berkutat dengan situs blog ini dan blog sebelah. Aku membenahi apa yang berantakan dan mengganti yang sudah usang. Aku tahu, ini tak pernah membosankan. Hehehe, untung ia mengingatkanku. Bukan hanya ia saja sebenarnya.
Malam ini pun, aku menemukan beberapa tulisan temanku yang beredar di dunia maya. Tapi jujur saja, aku tak pernah mengaksesnya. Karena aku tidak tahu. Aku tergerak membangun sisi lainku yang sudah kutinggalkan, karena banyak orang dan banyak hal. Tapi jangan samakan tulisanku dengan mereka. Karena aku lupa caranya berdialog sebaik mereka.
Aku mulai melantur, maka aku sudahi saja celoteh ini. Selamat malam.
nb: Aku tambahkan situs temanku itu :)
1. Sepantar - tulisan seorang mantan pemimpin
2. Melawan Malas - tulisan seorang pemimpin
3. Saratalinga - tulisan calon pemimpin
4. En Negli Ge - tulisan calon pemimpin
9 Desember 2016
#9 Si Pemimpi Kecil : My Back Up~
My favourite person in this world!
Temen diskusi, temen curhat, partner kerja, partner berantem juga, pergi, jadi atasan-bawahan, temen ngopi, ah lainnya dah.
'emang reiny cewek? Bukan dia mah.'
'itu loh bajunya kok dibuka depan aku? / emang kamu peduli? Kamu juga kok yang liat ren. / iya juga sih.'
'ren, kalo ini inget gak gimana? / apa sih?'
'Jangan marah dulu ya, aku mau cerita -lalu ceritalah panjang lebar- jadi gimana ya? Berangkat gak? / ya pergilah. Kapan lagi loh / tapi yang aku tinggal gimana? Mau bantuin back up kah? / Iya mudah itu, nanti yang lain juga banyak. / -berangkat lah aku.'
dan pengen peluk mereka.
1 Desember 2016
First of December
It's been once month and I'm here again. I did everything and I really wanna tell them, 'please call me rei or re!'. I think it will be mood booster for me. Hahaha, forget it cause it will be in my dream.
By the way, Welcome in December guys. Hope this month make us happy till end this year!
so, whats happening to me? I don't know. I didn't nothing for real. I can't find Reiny like usual. Be a busy girl, moody person or like usual Reiny till October 26th, 2016. Its real me. Can I find her again? Yes, I hope.
So sorry for my words and anything did by me and thank you so much for having me. It will be great to see you again guys. Someday and somewhere, I have to meet you guys, like usual I did.
By the way, Welcome in December guys. Hope this month make us happy till end this year!
bye guys,
love you.
Rei :)
28 Oktober 2016
#8 Pemimpi Kecil : Orang Dibalik Si Kecil
aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasihku, mengucapkan kata maaf, mengucapkan selamat tinggal, dan mengucapkan 'aku pergi' kepada mereka ini. hanya sebagian kecil orang yang mengantarkan aku menjadi sesosok reiny, rei, re, mbak rein, reni, dan apapun panggilan itu hingga sekarang.
aku bukanlah orang yang pandai bercerita indah, dengan susunan kata yang pas atau dengan sikap yang baik. aku tidak pernah memikirkan bagaimana respek yang akan orang lain berikan padaku jika aku banyak bicara karena terkadang aku hanya ingin didengarkan. jika aku dimarahi, maka aku akan ngambek dan berhenti bicara atau akan pura-pura tidak peduli padahal aku peduli. memang, penyesalan selalu datang terakhir dan aku belajar untuk tidak terus-terusan menyesal dan terlalu peduli lagi,
aku jenis orang yang mudah paham dengan karakter orang lain, apalagi jika aku harus berhadapan dengannya untuk waktu yang lama. itu untuk pertahananku, jujur saja. karena aku harus bertahan di segala jenis lingkungan. karena kebiasaan 'pemahaman' itu, maka aku punya banyak kepribadian, aku bisa menjadi pendengar saja yang baik, bisa jadi cerewet, manja atau hanya menjadi angin lalu saja. aku berusaha untuk selalu jadi orang yang baik di mata orang lain.
maka dari itu, aku ingin menghargai diriku, orang lain, keluarga, dan banyak orang di sekitarku. Ini adalah sedikit orang yang berada disekitarku, membantuku menjadi pribadi seperti yang sekarang.
26 Oktober 2016
#7 Pemimpi Kecil : aku pulang
Tidak ada yang patut disalahkan dengan kepulangan ini. Sebuah kewajiban? Begitu aku sampaikan alasanku kepada temanku. Ada lagi yang bilang, bener nih buat permanen pulang? Ya bisa jadi, begitu jawabku tadi dan kemarin.
Ketika tiba-tiba banyak orang mengantarkan aku, ya katanya untuk perpisahan, walau aku gak tahu apa ini benar-benar kesempatan terakhir, aku tidak pernah bisa menjamin. Hanya ada sebuah perasaan ingin kembali dan akan kembali suatu saat nanti.
Memang benar, aku bukanlah orang yang dengan mudah menyampaikan perasaanku yang sebenarnya hancur berantakan, perasaan yang sedih sangat mendalam, perasaan terharu yang sangat, dan perasaan-perasaan lain yang tidak bisa aku ungkapankan. Hanyalah setitik air mata yang keluar dan itu pun berbarengan dengan tawa dan senyum, sebut saja itu palsu. Walau tidak sepenuhnya. Aku tidak ingin menangis dan aku juga tidak ingin melihat orang menangis karena aku. Bahkan orang lain bersedih karena aku pun, aku tidak mau.
Keputusan pergi ini, bukanlah hal mudah. Berat, seperti kukatakan sebelumnya. Bahkan aku lupa dalam menulis ini, harusnya aku menggunakan sudut pandang kedua. Si pemimpi kecil yang menjadi subjek utama. Tapi biarlah.
Satu persatu kenangan memang tak bisa kutuliskan bahkan untuk disebut pun rasanya sesak. Pelukan untuk dan dari seorang sahabat, yang biasanya tidak ingin sama sekali aku peluk, akhirnya pelukan itu ada. Untuk melepas rindu dan kepergian.
Satu persatu rasa bangga, bersalah, bahagia, sedih, kesal, marah, cinta, suka, dendam dan sebagainya berkumpul menjadi satu. Jujur, tidak ada penyesalan di sini. Hanya sesal akan sedih dan marah karena aku sebagai penyebabnya. Aku terima sebuah bunga yang tidak lagi segar, sebagai ungkapan kesedihanku katanya. Tapi terima kasih banyak ya teman.
Memang, tidak banyak yang bisa aku katakan. Maafkan semua kesalahan ku yang sengaja atau tidak, apabila sudah menyinggung, maafkan lah aku. Dan terima kasih banyak untuk semua nyaaa. Banyak sekali, bahkan aku tidak pernah bisa mengingat semuanya jika diminta untuk diurutkan. Sama, aku malas. Hanya dengan susunan kata-kata ini yang sebenarnya mengisahkan apa yang sedang aku pikirkan, yang ingin aku katakan. Kalian tau kan aku banyak bicara? Ya begitulah aku. Aku masih ingin menjadi diriku sendiri.
Ketika aku pergi, bukannya tidak berniat untuk kembali. Bahkan, aku minta tunggulah aku kembali menemuimu, suatu saat nanti. Dan tidak perlulah menungguku pergi lagi karena kerumahlah tempatku akan kembali.
Maaf dan terima kasih. Sampai jumpa lagi. Tenang, zaman sudah sangat maju. Klik call, semua beres. Cukup sekian, dariku. Sampai jumpa lagi.
Dari seseorang yang menyayangi kalian dan selalu ada untuk kalian, insya allah.
Reiny :)
Ditulis di pesawat yang sedang terbang di atas awan, yang sangat cerah. 09. 35 wib. 26 oktober 2016.
*maafkan tulisan ku yang terlalu banyak pemborosan kata dan tata bahasa yang hancur. Belum masuk redaksi sih. Hehe.
Ketika tiba-tiba banyak orang mengantarkan aku, ya katanya untuk perpisahan, walau aku gak tahu apa ini benar-benar kesempatan terakhir, aku tidak pernah bisa menjamin. Hanya ada sebuah perasaan ingin kembali dan akan kembali suatu saat nanti.
Memang benar, aku bukanlah orang yang dengan mudah menyampaikan perasaanku yang sebenarnya hancur berantakan, perasaan yang sedih sangat mendalam, perasaan terharu yang sangat, dan perasaan-perasaan lain yang tidak bisa aku ungkapankan. Hanyalah setitik air mata yang keluar dan itu pun berbarengan dengan tawa dan senyum, sebut saja itu palsu. Walau tidak sepenuhnya. Aku tidak ingin menangis dan aku juga tidak ingin melihat orang menangis karena aku. Bahkan orang lain bersedih karena aku pun, aku tidak mau.
Keputusan pergi ini, bukanlah hal mudah. Berat, seperti kukatakan sebelumnya. Bahkan aku lupa dalam menulis ini, harusnya aku menggunakan sudut pandang kedua. Si pemimpi kecil yang menjadi subjek utama. Tapi biarlah.
Satu persatu kenangan memang tak bisa kutuliskan bahkan untuk disebut pun rasanya sesak. Pelukan untuk dan dari seorang sahabat, yang biasanya tidak ingin sama sekali aku peluk, akhirnya pelukan itu ada. Untuk melepas rindu dan kepergian.
Satu persatu rasa bangga, bersalah, bahagia, sedih, kesal, marah, cinta, suka, dendam dan sebagainya berkumpul menjadi satu. Jujur, tidak ada penyesalan di sini. Hanya sesal akan sedih dan marah karena aku sebagai penyebabnya. Aku terima sebuah bunga yang tidak lagi segar, sebagai ungkapan kesedihanku katanya. Tapi terima kasih banyak ya teman.
Memang, tidak banyak yang bisa aku katakan. Maafkan semua kesalahan ku yang sengaja atau tidak, apabila sudah menyinggung, maafkan lah aku. Dan terima kasih banyak untuk semua nyaaa. Banyak sekali, bahkan aku tidak pernah bisa mengingat semuanya jika diminta untuk diurutkan. Sama, aku malas. Hanya dengan susunan kata-kata ini yang sebenarnya mengisahkan apa yang sedang aku pikirkan, yang ingin aku katakan. Kalian tau kan aku banyak bicara? Ya begitulah aku. Aku masih ingin menjadi diriku sendiri.
Ketika aku pergi, bukannya tidak berniat untuk kembali. Bahkan, aku minta tunggulah aku kembali menemuimu, suatu saat nanti. Dan tidak perlulah menungguku pergi lagi karena kerumahlah tempatku akan kembali.
Maaf dan terima kasih. Sampai jumpa lagi. Tenang, zaman sudah sangat maju. Klik call, semua beres. Cukup sekian, dariku. Sampai jumpa lagi.
Dari seseorang yang menyayangi kalian dan selalu ada untuk kalian, insya allah.
Reiny :)
Ditulis di pesawat yang sedang terbang di atas awan, yang sangat cerah. 09. 35 wib. 26 oktober 2016.
*maafkan tulisan ku yang terlalu banyak pemborosan kata dan tata bahasa yang hancur. Belum masuk redaksi sih. Hehe.
#6 Pemimpi Kecil : itu aku
The truth, si pemimpi kecil adalah aku dan aku juga yang menulis ini bersama hatiku. Aku menulis tentang diriku sendiri. Terlalu selfish bukan? Sebenarnya bukan itu alasannya, aku takut lupa dengan masa laluku, takut hilang. Bagaimana bisa? Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, ia, si pemimpi kecil, pernah melupakan masa lalunya yang kelam namun masa lalu yang lain juga ikut menghilang. Bisa begitu? Bisa. Semua itu terjadi padaku. Aku bahkan hampir tidak ingat semua ceritakan semasa di sekolah menengah atas. Jika kuurut, banyak sekali kenangan disana. Tapi sayang, ada satu bagian cerita yang tidak ingin aku kenang di masa depan dan aku berusaha melupakannya saat itu. Dan kenangan lain seakan hilang. Aku sudah untuk mengingatnya.
Alasan aku menulis tentang diriku sendiri karena aku ingin menghargai diriku sendiri. Bagaimana aku menjalani diriku sendiri sampai hari ini, saat orang lain tidak pernah sadar kehadiranku. Perjalananku ini tidak sendiri. Sebagai harapan, aku ingin kado ulang tahun ke 22 tahun ku adalah tulisan ku makin banyak dan ceritaku tetap berlanjut. Begitu, harapakku.
Banyak lagi yang ingin aku harapkan, aku ingin mendapatkan penghasilan sendiri, pekerjaan, dan kebahagiaan orang tuaku.
Aku tak ingin banyak membahas tentang harapan itu. Aku ingin mengulang masa lalu. Menceritakan tentang masa lalu. Biar suatu hari, ketika aku sudah lupa, aku bisa membuka lembaran ini kembali sebagai pengingat. Sebagai pemimpi kecil yang dilahirkan dari seorang ibu, diberi nama Reiny Handayani Paulus.
Alasan aku menulis tentang diriku sendiri karena aku ingin menghargai diriku sendiri. Bagaimana aku menjalani diriku sendiri sampai hari ini, saat orang lain tidak pernah sadar kehadiranku. Perjalananku ini tidak sendiri. Sebagai harapan, aku ingin kado ulang tahun ke 22 tahun ku adalah tulisan ku makin banyak dan ceritaku tetap berlanjut. Begitu, harapakku.
Banyak lagi yang ingin aku harapkan, aku ingin mendapatkan penghasilan sendiri, pekerjaan, dan kebahagiaan orang tuaku.
Aku tak ingin banyak membahas tentang harapan itu. Aku ingin mengulang masa lalu. Menceritakan tentang masa lalu. Biar suatu hari, ketika aku sudah lupa, aku bisa membuka lembaran ini kembali sebagai pengingat. Sebagai pemimpi kecil yang dilahirkan dari seorang ibu, diberi nama Reiny Handayani Paulus.
25 Oktober 2016
#5 Pemimpi Kecil : sudahkah ia dewasa?
"Yap, I need to go home," si kecil mulai berbicara.
----
Sebenarnya ia tidak benar-benar masih kecil, sebentar lagi ia menginjak umur 22 tahun. Bukan lagi si kecil, ia sudah dewasa. Baik usia dan sifatnya - yang sudah kelewat dewasa kadang. Jadi, si pemimpi kecil mulai menyusun rencananya lagi. Ia mengalami kesalahan dengan tidak mempersiapkan tujuannya di masa depan dengan baik. Sebut saja ia masih berada di zona nyaman. Kukatakan itu berbahaya, benar saja.
Ia, gak pernah ingin lepas dari masa lalu nya dengan semuanya. Memang tidak banyak yang ingin dia lupakan, sayangnya semua memori terasa hilang atau karena hidupnya sudah hampir melewati angka 22 tahun? Benar saja, dia tidak tahu. Saat kutanya, ia tak mampu jawab. Kebiasaan, ujarku.
Jadi semenjak ia ingin melupakan sesuatu dari masa lalu, ia mulai menyusun banyak hal untuk menyusun rencananya di masa depan meski banyak kejutan-kejutan untuk menggapai nya. Benar saja, dia menyelesaikan nya dengan baik. Itu menurutku, entah yang lain. Tapi tak banyak perjalanan yang ia inginkan untuk dilupakan, banyak hal yang ingin dia ingat selamat empat tahun terakhir. Bayangkan, satu tahun lalu ia hampir tak mengenali dirinya. Berat badannya turun, karena ia makan sehat selama satu bulan, baguslah. Pipinya masih chubby dan gemas untuk dicubit. Sayang tidak dengan hati dan pikirannya, dia hancur.
Selama dua bulan setelah 15 September 2015 tampaknya, ia hanya mengerjakan tugasnya yang sempat ia titipkan sejenak. Walau harus terserang demam dan batuk serta flu yang tak kunjung sembuh, bahkan penelitian tiap minggu yang ia kerjakan, semua dia kerjakan. Untuk melupakan kejadian itu. Dia tidak ingin kembali mengingat tapi ia sadar, jika ia ingin melupakan lagi ia akan kehilangan kenangan yang lain. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia harus dipaksa ke dokter dan menemukan sebuah keajaiban, bahwa ia bisa menangis sejadi - jadinya setelah ke dokter dan bertemu orang lain, orang baru.
Orang baru itu banyak. Aku hanya ingin menjelaskan si pemimpi kecil yang mulai kehilangan arah ini. Dia mulai semangat lagi. Setahun terakhir, mengejar targetnya untuk segera selesai penelitian, selesai magang, dan selesai mata kuliah. Dia harus menyusun tugas akhir dan menyelesaikan majalah, Deadline terbesar nya di bidang non akademik bersama lembaga yang iya ikuti.
Banyak waktu untuk penelitian, satu bulan untuk magang, dua bulan untuk tugas akhir, dan sembilan bulan untuk Majalah. Juga ditambah ia masih harus ujian, karena ia masih ada mata kuliah. Semua ia lakukan bersamaan. Hatinya yang hancur, bahkan sangat, tak bisa berpura-pura di depan orang, apalagi untuk orang terdekat. Aku lewatkan lagi bagian ini. Begitulah ia dekat dengan orang lain walaupun harus malu dan mendengarkan sahabat terdekat nya marah.
Ia tidak ingin melupakan, ia ingin mengenangnya dengan kenangan yang baik lainnya. Ia tahu apa yang butuh pengorbanan, apa yang harus diperjuangkan, dan apa yang harus ditinggalkan. Walau susah, she is trying now. Believe or not.
Lalu apa hubungannya tentang rumah? Maaf aku lupa, katanya dia harus pulang ke rumah. Aku mendukungnya walau aku tahu itu berat baginya. Begitulah dia. Tapi ia sudah siap. Semoga. Akan aku tanyakan lagi padanya. Ia terlihat tak terurus beberapa minggu ini, kurasa. Ia lelah karna kaburnya ia tak ingin pulang kerumah, waktu lalu. Besok lagi, katanya. Ia tak ingin cerita kembali, sedih dan mengantuk. Aku sudahi dulu tentang si kecil.
----
Sebenarnya ia tidak benar-benar masih kecil, sebentar lagi ia menginjak umur 22 tahun. Bukan lagi si kecil, ia sudah dewasa. Baik usia dan sifatnya - yang sudah kelewat dewasa kadang. Jadi, si pemimpi kecil mulai menyusun rencananya lagi. Ia mengalami kesalahan dengan tidak mempersiapkan tujuannya di masa depan dengan baik. Sebut saja ia masih berada di zona nyaman. Kukatakan itu berbahaya, benar saja.
Ia, gak pernah ingin lepas dari masa lalu nya dengan semuanya. Memang tidak banyak yang ingin dia lupakan, sayangnya semua memori terasa hilang atau karena hidupnya sudah hampir melewati angka 22 tahun? Benar saja, dia tidak tahu. Saat kutanya, ia tak mampu jawab. Kebiasaan, ujarku.
Jadi semenjak ia ingin melupakan sesuatu dari masa lalu, ia mulai menyusun banyak hal untuk menyusun rencananya di masa depan meski banyak kejutan-kejutan untuk menggapai nya. Benar saja, dia menyelesaikan nya dengan baik. Itu menurutku, entah yang lain. Tapi tak banyak perjalanan yang ia inginkan untuk dilupakan, banyak hal yang ingin dia ingat selamat empat tahun terakhir. Bayangkan, satu tahun lalu ia hampir tak mengenali dirinya. Berat badannya turun, karena ia makan sehat selama satu bulan, baguslah. Pipinya masih chubby dan gemas untuk dicubit. Sayang tidak dengan hati dan pikirannya, dia hancur.
Selama dua bulan setelah 15 September 2015 tampaknya, ia hanya mengerjakan tugasnya yang sempat ia titipkan sejenak. Walau harus terserang demam dan batuk serta flu yang tak kunjung sembuh, bahkan penelitian tiap minggu yang ia kerjakan, semua dia kerjakan. Untuk melupakan kejadian itu. Dia tidak ingin kembali mengingat tapi ia sadar, jika ia ingin melupakan lagi ia akan kehilangan kenangan yang lain. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia harus dipaksa ke dokter dan menemukan sebuah keajaiban, bahwa ia bisa menangis sejadi - jadinya setelah ke dokter dan bertemu orang lain, orang baru.
Orang baru itu banyak. Aku hanya ingin menjelaskan si pemimpi kecil yang mulai kehilangan arah ini. Dia mulai semangat lagi. Setahun terakhir, mengejar targetnya untuk segera selesai penelitian, selesai magang, dan selesai mata kuliah. Dia harus menyusun tugas akhir dan menyelesaikan majalah, Deadline terbesar nya di bidang non akademik bersama lembaga yang iya ikuti.
Banyak waktu untuk penelitian, satu bulan untuk magang, dua bulan untuk tugas akhir, dan sembilan bulan untuk Majalah. Juga ditambah ia masih harus ujian, karena ia masih ada mata kuliah. Semua ia lakukan bersamaan. Hatinya yang hancur, bahkan sangat, tak bisa berpura-pura di depan orang, apalagi untuk orang terdekat. Aku lewatkan lagi bagian ini. Begitulah ia dekat dengan orang lain walaupun harus malu dan mendengarkan sahabat terdekat nya marah.
Ia tidak ingin melupakan, ia ingin mengenangnya dengan kenangan yang baik lainnya. Ia tahu apa yang butuh pengorbanan, apa yang harus diperjuangkan, dan apa yang harus ditinggalkan. Walau susah, she is trying now. Believe or not.
Lalu apa hubungannya tentang rumah? Maaf aku lupa, katanya dia harus pulang ke rumah. Aku mendukungnya walau aku tahu itu berat baginya. Begitulah dia. Tapi ia sudah siap. Semoga. Akan aku tanyakan lagi padanya. Ia terlihat tak terurus beberapa minggu ini, kurasa. Ia lelah karna kaburnya ia tak ingin pulang kerumah, waktu lalu. Besok lagi, katanya. Ia tak ingin cerita kembali, sedih dan mengantuk. Aku sudahi dulu tentang si kecil.
18 Oktober 2016
#4 Pemimpi Kecil : Ia Kuliah
Cerita di pemimpi kecil yang terlewatkan.
Setelah menjalani tugas sebagai siswa selama tiga tahun di SMA Kumbang, akhirnya dia melanjutkan kuliah di jogja - aku sudah katakan sebelumnya - di sebuah universitas islam dan swasta. Universitas Islam Indonesia dan kembali swasta. Si pemimpi kecil memutuskan ujian seleksi setelah gagal mengikuti dua ujian masuk ke dua universitas negeri dan atas tuntutan orang tua, dia tes dan lolos. Sebuah jurusan yang cukup aneh untuk seorang perempuan - tapi banyak perempuannya loh dia bilang - seperti dia, Teknik Kimia.
Menyandang status mahasiswa, seringkali membuat dia melakukan banyak hal yang tidak pernah dilakukannya selama menjadi siswa. Apalagi berada dirantauan, seperti naik gunung, rapat dan pulang malam, naik kereta murah, dan lain sebagainya. Si pemimpi kecil menyalurkan hobinya dalam dunia tulis ke sebuah lembaga jurnalistik kampus. Sebut saja Lembaga Pers Mahasiswa PROFESI. Tetap menjadi dirinya yang apa adanya, ingin tahu banyak hal, dan peduli, ia menghabiskan hampir seluruh waktu senggangnya di lembaga itu. Tiga periode berurutan dari tahun 2013 sampai 2016, hingga ia lulus dan wisuda pun masih saja ia berkecimpung di lembaga itu karena sebuah tanggung jawab yang belum selesai.
Terlalu banyak cerita si pemimpi di lembaga itu, bagaimana kuliahnya? Ia adalah mahasiswi yang biasa saja, kuliah ya kuliah. Mengerjakan tugas juga, ikut ujian, bukan termasuk mahasiswa cumlaude juga. Dia seseorang pemegang teguh jika ipk sudah 3 koma sekian, itu cukup. Dia tak terlalu pintar dan juga tidak terlalu bodoh juga. Si pemimpi kecil bukan siapa siapa di bagian akademik, tapi soal 'berita' perihal kampus, tanya dan diskusikan dengannya. Kenapa? Karena ia jurnalis kampus yang sah sebelum akhirnya ia resmi menjadi alumni kampus sejak 27 Agustus 2016 lalu.
Selama kuliah juga, banyak kegiatan akademik yang menyenangkan dan juga tidak. Begitu katanya. Empat tahun tak terasa. 2012-2016, ia menepati janjinya untuk lulus tepat waktu walau tidak mencapai nilai ipk cumlaude.
Aku ingin mengucapkan selamat untuk si pemimpi kecil, untuk kelulusannya, untuk kepribadian yang sudah lebih baik dari sebelumnya, untuk menghargai setiap cerita dalam hidupnya, dan selamat berbahagia.
Nb: aku masih ingin menceritakan banyak hal dengan latar belakang kampus nya si pemimpi kecil.
24 September 2016
Tentang Hati
Banyak pengertian tentang hati. Hati sebagai organ yang ada di tubuh manusia, sebagai bentuk kewaspadaan, ada juga hati sebagai tempat segala perasaan dan menyimpan perasaan itu. Ada 8 pengertian hati dari kamus besar bahasa indonesia. Yang mau ku bahas adalah hati sebagai tempat segala perasaan dan tempat menyimpannya. Ada apa dengan hati?
Begini, terlalu banyak orang di sekitar kurang pengertian dengan hati. Doi memang terlalu sensitif, tergantung sang pemilik menentukan. Bagaimana orang tersebut menyampaikan isi hatinya dengan sesama manusia maupun dengan benda mati. Aku pun sama, aku tak pernah benar-benar bisa mengungkapkan isi hati itu secara keseluruhan dengan keluarga, sahabat, maupun tuhan. Bukan aku gak mau, tapi aku gak bisa. Belum bisa. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis lagi dan lagi. Sekalian berdoa sama yang pemberi rasa dan yang penentu, untuk memberikan jalan yang terbaik.
Harusnya tulisan ini aku tuliskan semalam, sayangnya ispa kambuh kembali. Jadi ini agak melantur sedikit.
Hati lagi, sebenarnya ketika kita akan percaya dengan hati kita, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Kalau pun akan ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Hati memang sensitif sih. Seandainya doi bisa ngomong, doi pasti menunjukkan kejujuran sebenarnya. Sayang, mulut sang pemilik hati lah yang harus mengatakan ataupun menunjukkan. Tapi manusia diciptakan otak juga untuk berpikir. Kadang tidak terjadi sinkronisasi antara hati dan otak. Begitulah.
Kalau aku berbicara tentang hati, maka hati-hati lah dengan hati.
Selamat pagi, semoga segera sehat kembali.
Begini, terlalu banyak orang di sekitar kurang pengertian dengan hati. Doi memang terlalu sensitif, tergantung sang pemilik menentukan. Bagaimana orang tersebut menyampaikan isi hatinya dengan sesama manusia maupun dengan benda mati. Aku pun sama, aku tak pernah benar-benar bisa mengungkapkan isi hati itu secara keseluruhan dengan keluarga, sahabat, maupun tuhan. Bukan aku gak mau, tapi aku gak bisa. Belum bisa. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis lagi dan lagi. Sekalian berdoa sama yang pemberi rasa dan yang penentu, untuk memberikan jalan yang terbaik.
Harusnya tulisan ini aku tuliskan semalam, sayangnya ispa kambuh kembali. Jadi ini agak melantur sedikit.
Hati lagi, sebenarnya ketika kita akan percaya dengan hati kita, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Kalau pun akan ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Hati memang sensitif sih. Seandainya doi bisa ngomong, doi pasti menunjukkan kejujuran sebenarnya. Sayang, mulut sang pemilik hati lah yang harus mengatakan ataupun menunjukkan. Tapi manusia diciptakan otak juga untuk berpikir. Kadang tidak terjadi sinkronisasi antara hati dan otak. Begitulah.
Kalau aku berbicara tentang hati, maka hati-hati lah dengan hati.
Selamat pagi, semoga segera sehat kembali.
22 September 2016
#3 Pemimpi Kecil : Menuntaskan Tanggung Jawab
Memang, cerita si pemimpi kecil harus berhenti waktu lalu. Bukan tidak bermaksud melanjutkan ya, tapi terlalu banyak waktu yang aku habiskan untuk beberapa prioritas. Akhirnya si pemimpi kecil menyelesaikan semua tahap pendidikannya. Dia sudah resmi menambahkan nama belakangnya dengan tambahan Sarjana Teknik. Ya, aku belum cerita. Si pemimpi kecil akhirnya masuk ke sebuah universitas swasta di Yogyakarta dan masuk di jurusan teknik. Menjadi perempuan yang kuat, mandiri, dan lebih dewasa lagi.
Sekarang, si pemimpi kecil akhirnya menjadi pemimpi besar yang tidak tahu akan bermimpi sampai mana dan kapan. Dia tetap bermimpi mewujudkan impian lain yang lebih besar. Statusnya berubah menjadi Job Seeker saat ini. Mau tidak mau, harus menjadi seorang pencari kerja. Walau harus menjalani banyak sekali rintangan, tapi dia harus tetap melanjutkan hidupnya. Mau kembali ke kampung halaman atau tetap merantau, seperti 4 tahun lalu dia datang ke jogja.
Mari kita doakan bersama, semoga si pemimpi kecil menjadi pemimpi besar. Amin.
Untuk cerita yang terlewat, akan aku ceritakan lain waktu.
Sekarang, si pemimpi kecil akhirnya menjadi pemimpi besar yang tidak tahu akan bermimpi sampai mana dan kapan. Dia tetap bermimpi mewujudkan impian lain yang lebih besar. Statusnya berubah menjadi Job Seeker saat ini. Mau tidak mau, harus menjadi seorang pencari kerja. Walau harus menjalani banyak sekali rintangan, tapi dia harus tetap melanjutkan hidupnya. Mau kembali ke kampung halaman atau tetap merantau, seperti 4 tahun lalu dia datang ke jogja.
Mari kita doakan bersama, semoga si pemimpi kecil menjadi pemimpi besar. Amin.
Untuk cerita yang terlewat, akan aku ceritakan lain waktu.
5 Mei 2016
#2 Pemimpi Kecil : Beranjak Dewasa
Pemimpi kecil kembali.
Ia tumbuh remaja bersama adik kecilnya yang tidak lagi kecil. Si adik kecil masuk sekolah yang sama kemudian mengikuti kelas percepatan. Awalnya, si pemimpi kecil sangat bahagia dengan keberadaan si adik di satu sekolah yang sama, SMPN8. Namun pada akhirnya, ia seakan marah, cemburu, dan iri dengan perlakuan orang tua dan kerabat terdekat. Si adik dilahirkan dengan kecerdasan yang melampaui pemimpi kecil ini. Tapi dengan begitulah kedewasaannya muncul. Bersamaan dengan hal itu pula, ia bertekad untuk banyak bermimpi dan memberikan prestasi dengan cara lain.
Duduk di bangku kelas 8 SMP, ia bermimpi untuk masuk melanjutkan sekolah keluar kota. Jogjakarta tujuannya, ia sudah jatuh cinta pada kota itu sejak lama bahkan hingga sekarang. Saat itu, mimpi seperti itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Mana mungkin dan bisa untuk bisa sampai disana dan bertahan hidup? Tapi entah apa alasannya, ia tetap bermimpi seperti itu.
Saat di jenjang pendidikan ini, ia pun tetap membangun hubungan yang baik dengan banyak orang. Guru, teman, sahabat, penjual makanan, tukang sapu, bahkan anak dari penjual makanan. Ditunjuk sebagai bagian dari pengurus kelas pun rasanya bahagia karena si pemimpi kecil diajarkan untuk menjadi pemimpin kelas yang tegas, sekretaris yang teliti dan perhatian, serta bendahara yang super pelit kalau soal pengeluaran. Bahkan ini sudah dimulai sejak di SD, hanya tak sedetail di SMP. Bersyukurnya ia, banyak teman dan guru baik yang membimbing ia bahkan setelah meninggalkan sekolah ini.
Di SMP ini, ia juga mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Pramuka. Praja Muda Karana. Si pemimpi kecil yang banyak mimpinya ini melanjutkan kegiatan yang ia lakoni sejak SD. Betapa bahagianya ia ketika bisa menjadi salah satu panitia Masa Orientasi Sekolah dan berlagak sebagai senior. Bukan untuk menghukum murid baru semaunya tapi karena bisa bolos kelas (dasar anak nakal). Di masa ini pun, ia mengenal yang namanya cinta monyet. Seorang sahabat menarik perhatian dirinya, menyapanya riang setiap waktu dan bermain bersama. Tapi karena sifat pemalunya, ia menyimpan rapat rasa itu. Hingga akhirnya, di hampir penghujung kelulusan, si pemimpi kecil menyampaikan isi hatinya. Cukup si sahabat yang tahu dan berakhir bahagia sebagai sahabat yang saling mengerti satu sama lain.
Tak hanya mimpi yang ia cita-citakan, banyak momen yang ia lewatkan dan buat bersama para sahabat dan guru. Ia membuat kesal seisi kelas karena sifat membangkang para teman, menonton bioskop usai sekolah, masuk dunia kecil jurnalistik sekolah, menjadi hobi lari, berkenalan dengan internet untuk pertama kalinya, sedih ketika harus ditinggalkan teman pindah sekolah dan berpulang, dan masih banyak lainnya. Kenangan akan inilah yang membuat pemimpi kecil ini tetap melanjutkan bermimpi, untuk membahagiakan banyak orang disekitarnya dan membantu orang untuk tetap bermimpi.
Setelah tiga tahun di sekolah ini pada akhirnya ia lulus dengan nilai yang baik dan mengantarkan ia masuk ke sekolah menengah swasta. Bukan karena ia pemalas, mimpinya lah yang membuat ia sampai di Sekolah Menengah Atas Kusuma Bangsa (SMA Kumbang). Sekolah swasta terbaik di kotanya, saat ia masuk sekolah di sana. Pemimpi kecil ini tetap ingin melanjutkan ke SMAN, sayangnya ia tidak bisa lulus di ujian masuk dan memutuskan untuk sekolah di luar kota. Tapi bersyukurnya ia, orang tuanya tidak memberikan izin untuk meninggalkan kota kelahiran. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di sekolah yang sangat berbeda dengan tiga sekolah sebelumnya. Tidak banyak orang, tapi banyak jenisnya. Ia sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari Kumbang, sampai saat ini.
to be continue..
#intermezzo
di sin se
di san se
di man man hat ku se
di sin se
di san se
di man man hat ku se
Diatas adalah lirik lagu yang pertama kali dikenalkan oleh seorang guru di SMPN8 setelah diajarkan lagu Mars sekolah. Si pemimpi kecil sangat suka lagu ini, sederhana tapi bermakna. Ini adalah lagu modifikasi dari sebuah lagu yang pernah ada.
Ia tumbuh remaja bersama adik kecilnya yang tidak lagi kecil. Si adik kecil masuk sekolah yang sama kemudian mengikuti kelas percepatan. Awalnya, si pemimpi kecil sangat bahagia dengan keberadaan si adik di satu sekolah yang sama, SMPN8. Namun pada akhirnya, ia seakan marah, cemburu, dan iri dengan perlakuan orang tua dan kerabat terdekat. Si adik dilahirkan dengan kecerdasan yang melampaui pemimpi kecil ini. Tapi dengan begitulah kedewasaannya muncul. Bersamaan dengan hal itu pula, ia bertekad untuk banyak bermimpi dan memberikan prestasi dengan cara lain.
Duduk di bangku kelas 8 SMP, ia bermimpi untuk masuk melanjutkan sekolah keluar kota. Jogjakarta tujuannya, ia sudah jatuh cinta pada kota itu sejak lama bahkan hingga sekarang. Saat itu, mimpi seperti itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Mana mungkin dan bisa untuk bisa sampai disana dan bertahan hidup? Tapi entah apa alasannya, ia tetap bermimpi seperti itu.
Saat di jenjang pendidikan ini, ia pun tetap membangun hubungan yang baik dengan banyak orang. Guru, teman, sahabat, penjual makanan, tukang sapu, bahkan anak dari penjual makanan. Ditunjuk sebagai bagian dari pengurus kelas pun rasanya bahagia karena si pemimpi kecil diajarkan untuk menjadi pemimpin kelas yang tegas, sekretaris yang teliti dan perhatian, serta bendahara yang super pelit kalau soal pengeluaran. Bahkan ini sudah dimulai sejak di SD, hanya tak sedetail di SMP. Bersyukurnya ia, banyak teman dan guru baik yang membimbing ia bahkan setelah meninggalkan sekolah ini.
Di SMP ini, ia juga mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Pramuka. Praja Muda Karana. Si pemimpi kecil yang banyak mimpinya ini melanjutkan kegiatan yang ia lakoni sejak SD. Betapa bahagianya ia ketika bisa menjadi salah satu panitia Masa Orientasi Sekolah dan berlagak sebagai senior. Bukan untuk menghukum murid baru semaunya tapi karena bisa bolos kelas (dasar anak nakal). Di masa ini pun, ia mengenal yang namanya cinta monyet. Seorang sahabat menarik perhatian dirinya, menyapanya riang setiap waktu dan bermain bersama. Tapi karena sifat pemalunya, ia menyimpan rapat rasa itu. Hingga akhirnya, di hampir penghujung kelulusan, si pemimpi kecil menyampaikan isi hatinya. Cukup si sahabat yang tahu dan berakhir bahagia sebagai sahabat yang saling mengerti satu sama lain.
Tak hanya mimpi yang ia cita-citakan, banyak momen yang ia lewatkan dan buat bersama para sahabat dan guru. Ia membuat kesal seisi kelas karena sifat membangkang para teman, menonton bioskop usai sekolah, masuk dunia kecil jurnalistik sekolah, menjadi hobi lari, berkenalan dengan internet untuk pertama kalinya, sedih ketika harus ditinggalkan teman pindah sekolah dan berpulang, dan masih banyak lainnya. Kenangan akan inilah yang membuat pemimpi kecil ini tetap melanjutkan bermimpi, untuk membahagiakan banyak orang disekitarnya dan membantu orang untuk tetap bermimpi.
Setelah tiga tahun di sekolah ini pada akhirnya ia lulus dengan nilai yang baik dan mengantarkan ia masuk ke sekolah menengah swasta. Bukan karena ia pemalas, mimpinya lah yang membuat ia sampai di Sekolah Menengah Atas Kusuma Bangsa (SMA Kumbang). Sekolah swasta terbaik di kotanya, saat ia masuk sekolah di sana. Pemimpi kecil ini tetap ingin melanjutkan ke SMAN, sayangnya ia tidak bisa lulus di ujian masuk dan memutuskan untuk sekolah di luar kota. Tapi bersyukurnya ia, orang tuanya tidak memberikan izin untuk meninggalkan kota kelahiran. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di sekolah yang sangat berbeda dengan tiga sekolah sebelumnya. Tidak banyak orang, tapi banyak jenisnya. Ia sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari Kumbang, sampai saat ini.
to be continue..
#intermezzo
di sin se
di san se
di man man hat ku se
di sin se
di san se
di man man hat ku se
Diatas adalah lirik lagu yang pertama kali dikenalkan oleh seorang guru di SMPN8 setelah diajarkan lagu Mars sekolah. Si pemimpi kecil sangat suka lagu ini, sederhana tapi bermakna. Ini adalah lagu modifikasi dari sebuah lagu yang pernah ada.
Pamit yang Tak Terucap
Jadi, aku belum bisa melanjutkan cerita si pemimpi kecil. Tapi segera setelah aku menghabiskan hariku yang melelahkan ini. Ini ada sedikit cerita dari dua bulan lalu.
-----
Dua delapan maret dua ribu enam
belas, di mana seorang barista bertanya tentang kedatanganku yang sendiri. Aku
hanya tersenyum menyeringai, pertanda aku tidak tahu apa yang harus aku katakan
padanya. Aku sekedara berucap, temanku sedang sibuk dengan kampusnya.
Ketidaksanggupanku untuk tidak menutup segala kejadian yang ada di sekitarku.
Aku memesan segelas es carmelito, sama sekali bukan kesukaanku, hanya merasa
rindu akan temanku itu. Terlalu manis bahkan tanpa tambahan gula, seperti biasa
aku tambahkan di es vanilla latteku.
Segelas es carmelito di sampingku
tak segera habis masuk ke pencernaan, dia seakan menggoda kesendirianku.
Mengapa kamu sendiri, mengapa aku bisa bersamamu hari ini, mengapa kamu
mengabaikan es lattemu, mengapa aku? Semua pertanyaan tersebut seakan muncul
dari balik manis dan dinginnya ia. Tanpa bisa kujawab. Kuputuskan untuk
menuliskan ini seakan suatu waktu aku menemukan jawabannya.
Kembali ke dua delapan maret dua
ribu enam belas, di mana café yang sudah lama tak kunjungi ini, sepi. Sang
barista tersenyum, menanyakan pesananku, menyebut harga pesananku, dan
mengatakan bagaimana aku harus menunggu pesananku. Senyum dan perkataannya
mengantarkanku kembali ke beberapa waktu lalu, di mana aku tidak sendiri dan
duduk dengan tidak hanya diam. Bagaimana perasaanmu di kala cuaca sedang dingin
begini? Ingin aku tanyakan padanya. Ya, cuaca sangat dingin sekali, menurutku,
tapi aku tetap jatuh pada segelas es carmelito. Kukatakan, aku rindu padanya.
Obrolanku hanya sebatas pesan
masuk yang tak kunjung datang bersama kehadiran akan sosok seseorang. Café ini
cukup jauh dari jangkauanku, tapi kukatakan, aku hanya ingin datang menenangkan
pikiran dan menyelesaikan tugasku. Aku pun hanya ingin datang ke sini, untuk
kenyamanan yang café ini berikan. Aku hanya ingin mengenang masa kenangan yang
baik. Aku tak segera membuka catatanku dan menyelesaikan tugasku, aku hanya
ingin mengenang dengan jiwaku yang kurasa sudah mulai tersakiti. Bukan aku
merasa disakiti, aku pun tak mengharap pamrih, tapi tak bisakah membaca sedikit
lelahku akan kesendirian yang tak berujung ini?
Kukatakan, aku cukup berterima
kasih kepadamu yang sudah cukup baik mendengarkan ceritaku dan keluhanku. Entah
siapapun kamu. Kuucapkan juga maaf, beribu maaf, jika aku selalu mengganggumu dengan
kehadiran dan permasalahanku.
Terima kasih atas kehadiranmu,
aku pamit dulu. Sampai jumpa. J
3 Mei 2016
#1 Pemimpi Kecil : Hingga Remaja
Hampir dua puluh dua tahun lalu, seorang pemimpi dilahirkan ke dunia. Tepat pada dua november 1994. Seorang pemimpi ini dilahirkan sebagai gadis kecil berkulit putih dengan mata sipitnya, yang sering disalahpahami sebagai keturunan chinese. Dia tumbuh sebagai gadis kecil yang lucu dan menggemaskan tapi ia sedikit tomboy.
Masuk umur lima tahun, ia dikenal sebagai preman kecil dari komplek depan (oh god, senakal itukah?). Tapi ya memang memang adanya, gadis itu tumbuh dengan dua orang kakak dan saat berumur satu tahun 4 bulan, seorang adik kecil lahir menggenapi keluarga bahagianya. Seorang pemimpi ini tumbuh dan besar di keluarga yang sederhana dan besar. Besar dalam artian banyak orang dan berbadan besar. Ia terlahir dengan berat 3,3 kilogram dengan panjang sekitar 50 cm.
Masuk umur lima tahun, ia dikenal sebagai preman kecil dari komplek depan (oh god, senakal itukah?). Tapi ya memang memang adanya, gadis itu tumbuh dengan dua orang kakak dan saat berumur satu tahun 4 bulan, seorang adik kecil lahir menggenapi keluarga bahagianya. Seorang pemimpi ini tumbuh dan besar di keluarga yang sederhana dan besar. Besar dalam artian banyak orang dan berbadan besar. Ia terlahir dengan berat 3,3 kilogram dengan panjang sekitar 50 cm.
Di umur lima tahun, ia masuk Taman Kanak-Kanak (TK) di dekat rumah. TK Dharma Wanita. Yang ia ingat, sejak saat itu, ia selalu berangkat ke sekolah dengan becak. Kendaraan roda tiga yang dikayuh seperti berkendara sepeda. Ia adalah seorang pemalu dengan banyak orang, tapi nakal sekali dengan teman sebayanya.
Gadis kecil ini tumbuh dengan baik, karena ia suka sekali minum susu. Ia tumbuh tinggi dengan badan gede. Orang bilang ia bongsor, memang. Begitulah pemimpi itu diciptakan. Saat berbaris upacara, hampir setiap waktu, ia akan ditempatkan dibagian paling belakang karena badannya yang terlampau tinggi. Saat di kelas pun sama, ia akan ditempatkan hampir dibelakang atau dibagian pinggir agar tidak menutupi papan tulis.
Pemimpi kecil ini pun melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia masuk di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 96. Masih sekitaran rumah, cukup berjalan kaki atau naik becak lagi. Banyak mimpi dan sifat yang terbentuk saat ia tumbuh dan bercengkerama dengan banyak orang lain lagi, Ia mulai mengikuti ekstrakulikuler, semacam olimpiade, dan sejenisnya. Pemimpi kecil ini kemudian membangun hubungan erat yang baik dengan banyak orang di sekolah ini, mulai dari teman, sahabat, guru maupun musuh. Hubungan baik yang pada akhirnya terjalan baik sampai sekarang.
Si pemimpi kecil kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya lagi, ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) yang cukup disegani. Untuk masuk kesana, si gadis kecil memulai ujian pertamanya. Ia persiapkan bersamaan dengan ujian akhir nasional. Kursi yang disediakan tak banyak, tapi peserta yang mengikuti sangat banyak waktu itu. Bersyukurnya ia, ia bisa melanjutkan mimpinya di sekolah ini. SMPN 8.
di sin se
di san se
di man man hat ku se
di sin se
di san se
di man man hat ku se
la la la la la la la la
la la la la la la la la
to be continue :)
Langganan:
Komentar (Atom)



