13 Februari 2019

Kabarmu?


Jika ada yang bertanya kabar, selalu kujawab dengan, ‘aku baik’ tanpa berharap ada pertanyaan lanjutan. Aku tak bisa berbasa basi seperti ; bertanya kabar, sibuk apa atau sekadar bertanya gimana kerjaan?, karena aku tak suka ditanya seperti itu. Kalau ditanya, akan kujawab seadanya terkadang. Ini hal yang berlaku untuk orang baru yang kutemui.

How was your day?

Bukannya itu jawaban yang meleahkan bahkan menyebalkan? Aku harus mengulik apa yang aku kerjakan seharian. Moodku akan tetap baik jika yang terjadi hari itu adalah hal-hal yang baik, tapi jika tidak, ingin sekali kulalui saja dengan senyuman tapi terkadang hari yang tidak baik itu ada.
Aku ingin banyak belajar lagi tentang basa basi itu, seakan aku belajar jadi peduli. Padahal aku jadi sok peduli dan egois, agar aku ditanya kembali.

Sekarang 2019, belum ada yang nanya, ‘kapan kamu nulis lagi?’ tapi pertanyaan sudah berganti menjadi, ‘kapan mau nikah?’ kemudian aku menyeringai.

Tuntunannya berubah, dulu yang perlu aku lakukan adalah sekolah yang rajin, lulus kuliah tepat waktu, dapet kerja, kemudian pertanyaan selanjutnya ditanyakan perihal pasangan dan naik pelaminan. Padahal semuanya butuh proses. Dari taman kanak-kanak sampai lulus sekolah menengah butuh waktu 12 tahun dan butuh 4 tahun untuk lulus kuliah, walaupun dapat diskon waktu itu. Lulus di 3 tahun dan 8 bulan tapi butuh 6 bulan untuk dapat kerja. Apakah orang lain tidak butuh semua proses itu? Memang aku yang menjalani semua rangkaian yang berlangsung lama itu dan semuanya menyenangkan. Kemudian sekiranya sudah memenuhi siklus hidup seperti ini, haruskah aku juga terus-terusan melanjutkan siklus selanjutnya? Yang kupikir, tidak akan membuat aku puas dengan siklus yang kulakukan saat ini.

Sudahkah aku bertanya apa mauku? Belum. Yang ingin aku lakukan adalah aku ingin terus berjalan saja seperti ini, tanpa perlu peduli apa yang orang lain katakan.

Sudah susah aku menulis sepanjang ini, semua terasa membosankan, bagiku.


Hi re,
Kamu selalu jadi yang terbaik. Jangan lelah. Bersemangatlah dengan pilihan yang kamu pilih.

Re, 2019

9 November 2018

Find an Answer



Ketakutan dari sebuah perjalanan bukan lagi bagaimana perjalanan ini dimulai, tapi kemana dan bagaimana perjalanan ini akan berakhir.

--

Tiba-tiba sebuah keraguan muncul di saat bersamaan dengan tiga orang kawan yang siap-siap berpindah dan berlabuh ke pekerjaan baru. Untuk aku, yang kuanggap seorang yang mandiri dan tidak takut untuk berjalan sendiri, akhirnya menjadi ragu sendiri. Ditambah lagi akan sebuah perdebatan panjang dengan diriku sendiri sejak beberapa bulan belakangan ini, apakah harus lanjut atau berhenti saja. Aku belum paham kemana aku berjalan, kupikir aku baik-baik saja ketika semua orang bersiap pergi dan pindah suatu waktu. Ternyata tidak juga, sebenarnya tidak salah untuk tetap tinggal, tapi aku punya janji dengan diriku sendiri. Aku siap pergi tapi aku belum tahu harus kemana. Jauh atau dekat, sendiri atau bersama, dan apa tujuan untuk tetap tinggal dan begitu pula kenapa harus pergi.

AKU BELUM BISA MENEMUKAN JAWABANNYA.

Sekitar agustus lalu, seorang kawan sempat bertanya, “Kamu yakin siap pergi untuk kuliah lagi atau ini hanya solusi jangka pendek yang kamu pikirkan dan aman untuk kamu lakukan? emosi sesaat bukan?” cukup menyita pikiranku sampai saat ini. Memang ini hanyalah emosi sesaat yang kupikir, bisalah jadi cara untuk ‘melarikan diri’ sejenak. Tapi aku belum kepikiran kemana aku harus berjalan selanjutnya.

Dan lima hari terakhir menjadi hari yang cukup lelah, badan mulai nolak untuk berkegiatan tapi mesti kerja dan report sana sini. Ini pun sudah mengambil satu hari untuk istirahat dan ini masih menjadi sebuah kekhawatiran orang tua di rumah. Setelah sekian lama, bisa bolak balik klinik dua kali dalam seminggu. Pertanyaan untuk pergi dan tinggal pun muncul dalam lima hari ini. Aku ingin memutuskan untuk berhenti sejenak tapi aku belum menemukan apapun yang ingin kulakukan selain menulis ini. Lain cerita dengan yang aku katakan dengan seorang kawan dua hari lalu. Kukatakan padanya untuk membuat Do List yang ingin dia kerjakan sekarang dan dia capai. Ternyata aku masih sama dengannya.

Kalau ditanya apa yang aku pikirkan sekarang, aku memikirkan apa yang harus aku kerjakan hari senin ini. Berada di lingkungan kerja yang cukup keras dan harus berjalan sendiri untuk semua hal yang harus aku kerjakan. Aku yang bekerja sesuai logika, hampir selalu tidak terima ketika harus bekerja yang bukanlah tugasku tapi menjadi kesalahanku ketika itu tidak berjalan baik atau sekadar mengerjakan tugas yang memang tugasku tapi tetap menjadi kesalahanku sendiri karena tidak bisa memenuhi masuk akalnya orang lain. Bekerja dibawah banyak tekanan – bukan lagi bekerja dibawah tekanan – dari banyak atasan yang sulit untuk berkomunikasi satu sama lain, itu ribetnya tidak bisa diungkapkan. Leader satu minta A, satu lagi minta B, satu lagi minta C, dan lain lagi minta DEFGHIJxxxZ dalam waktu bersamaan. Compliment? Jangan tanya, tetap saja jadi sasaran empuk kalo ada kesalahan.

Ini menjadi salah satu ketakutanku untuk tetap tinggal. Tentu saja, namanya juga kerja ya selalu ada tantangan. Tapi tidak dengan mentalku.

Keraguan dan ketakutan ini belum pergi sampai saat ini, entah dari mana awalnya berasal. Banyak resiko yang harus kutanggung dan tentu saja ini bukanlah harapan orang tuaku, mereka ingin aku tetap tinggal. Toh ini kerja.

Ketakutan yang kurasakan ini membuat aku jauh melangkah meninggalkan orang-orang yang aku sayang. Aku merasa cukup untuk melihat mereka dari jauh, merasa aman ketika tahu mereka ada untukku ketika aku hanya butuh menyapa, dan merasa tetap ada ketika mereka siap merangkulku ketika aku berada dekat. Banyak orang yang kutinggalkan, tanpa kabar, tanpa sapa, dan apapun itu. Aku ingin menjauh pergi karena takut kehilangan mereka dengan arti sebenarnya.

--

Apa yang harus kutuliskan untuk ending cerita ini?

8 September 2018

How was your days?

Cerita bulan lalu, yang tak sempat terupload - 2 minggu yang sibuk setelah liburan. Liburannya padahal tengah bulan lalu. 

----


Pagi itu aku lagi makan semangka, as usual membiasakan diri untuk makan sehat lagi setelah liburan seminggu lalu. I ate what I could eat when I traveled. Tiba tiba ada seorang rekan kerja yang memberikan komentar, kira kira begini, "rere nih udah makan sehat, makannya buah, tapi kenapa masih sering sakit ya?", saat itu memang lagi gak enak badan sampai hari ini aku menulis. Alasanku adalah karena memang kelelahan dan banyak makan sembarangan.



Bukan sekali dua kali aku sakit selama kerja ini, hampir setiap sebulan sekali. Ada aja penyebabnya, dari AC yang emang dingin banget, cuaca yang gak menentu, dan bisa jadi karena makan gak teratur lalu tidur kurang. Sudah cukup buat aku tepar keesokan harinya. Satu dua rekan kuceritakan perihal ini, mereka menerima excuse ku setiap waktu aku lagi sakit. Tapi dari setiap bulan itu, aku hanya izin sakit 2 hari. Kok bisa? Aku cerita kan sesuatu.

Jadi begini, ketika aku sakit pun aku tetap usahakan masuk kerja selama itu aku masih sanggup berjalan dan berdiri. Hari ini, aku masih sanggup berjalan tapi duduk pun aku masih sering pusing.

Sejak umur 5 tahun, aku di diagnosa punya penyakit gejala tipus. Sudah sempat masuk rumah sakit di umur 5 tahun untuk beberapa hari. Aku ingat betul saat itu, saat aku harus ke dokter dengan bujukan kaset sherina, minum air putih yang banyak sampai berbotol botol, hingga akhirnya malam itu aku menunjukkan hal yang orang tua ku tidak inginkan, dan saat itu juga aku langsung dibawa kerumah sakit. Didorong di ranjang pasien dan sesaat kemudian, tangan kiri ku disuntik jarum infus. Gede banget tuh jarum sampe kepikiran sampe sekarang. Disuntik hampir setiap beberapa jam sekali untuk cek darah, ditemani suster disaat mama papa pulang atau ada kakek ku saat itu.

Dan sejak saat itu, aku harus menjaga fisikku. Kalau sudah berasa pusing berat, keringat dingin, bawaannya kalo berdiri itu pusing banget, bed rest dirumah selama 3 hari. Itu berlangsung dari sekolah dasar sampe awal masuk sekolah menengah. Karena di sekolah menengah, dengan sistem belajar yang sedikit berbeda dan sangat disayangkan jika harus melewatkan satu hari pun, mulai menjaga kesehatan lagi. Susu menjadi penolong ketika sedang kambuhnya. Bahkan sampai sekarang.

Hmm. Kenapa gak berobat aja? I did. Sejak lima tahun itu, aku selalu berobat dan akhirnya berbagai jenis obat pun sudah di konsumsi di badan. Susah di mengerti memang kalo masalah obat, like I'm tired with them, medicine. Aku akan selalu bilang, "aku puasa obat," kecuali kalo memang sudah benar benar mulai tepar dan butuh bed rest. Sepele memang, tapi gak semua orang ngerti apa yang di rasa ketika terus terusan minum obat ketika sakit. Yang harus kita lakuin adalah mencegah untuk tidak sakit lalu minum obat.

Kebiasaan gak minum obat ini dimulai sejak kuliah, karena waktu itu belum nemu dokter yang cocok. Jadilah selalu sedia susu, dari susu UHT sampe bear brand gitu, di kosan. Sebulan itu biasa 4-6 kotak susu, buat bekal kalo males makan atau belum sempet makan karena rapat atau deadline tugas. Akhirnya? Buat badan gendut, jadinya mudah capek, pipi chubby, dan orang mulai protes kenapa jadi gendut banget. Literally sih gak masalah di aku, tapi karena itu pun lagi banyak kegiatan. So, decided to decrease what I ate and started to ate health food. Makan 2 kali sehari dan hampir tiap waktu siang, makan dikampus, memilih untuk makan lotek (sayur sayuran terus pake sambel kacang, sejenis gado gado) dan malem nya paling makan nasi telur atau nasi goreng. Untuk pagi nya makan seadanya, kalo ada buah ya buah, jus buah atau kue tradisional sih. Mengurangi makan daging dagingan, ayam, ikan, daging sapi gitu. Banyak jalan kaki juga ke kampus. The best itu. 
Alhamdulillah badan mulai sehat lagi, lebih enak, minum obat palingan juga vitamin.

Trus sekarang gimana?

Mungkin istilah, "kalo sudah kenal uang, sudah tau gimana ngehasilin uang itu susah, jadi maunya enak" itu cukup bener ya. Maunya ya makan enak, beli ini itu, nongkrong sini situ. The best way to increase your happiness but not your health body.

Lalu ada anjuran lagi selain minum obat kalo sakit yaitu "gak usah masuk kerja, surat dokter aja" atau "ya istirahat lah". Jujur, aku bukan orang yang bisa dengan enaknya untuk begitu, sudah jadi kebiasaan dari dulu. Selama sakit masih bisa ditahan, like I said before, selama masih bisa berdiri, kenapa harus izin gak masuk dan pekerjaan pun jadi terbengkalai? Tapi ini aku. Gak semua orang bisa begini, tapi ini semacam prinsip sih dan gak semua orang bisa ngerti dengan hal ini. I'll do my best to do my job but don't give your pressure to me. Just it. I'll tell you if I'm sick but I need to do my task.

Apa ya, susah gitu di cap jadi anak yang mudah sakit dan selalu mengusahakan untuk selalu hadir dengan wajah sumringah di kala attend on my job. Orang orang tuh seakan bilang "kamu tuh gak boleh sakit", ya aku maunya juga gitu. Satu yang ku khawatir kan, gejala tipus itu kambuh.

Begitu memang ceritanya dibalik sakit-gak sakit ini. I was feel better but I need more sleep, toh weekend ini.
Semoga kamu yang baca, selalu sehat ya.


Salam sehat,
Re.


----

Jadi sekarang gimana? Feel better setelah bolak balik kantor, kerjaan makin numpuk dan banyak.
sekian

23 Agustus 2018

A little thinks : I’m not supposed to be home

Jadi ini tulisan satu tahun lalu dan akhirnya aku menemukan dia dalam folder yang tak pernah kusentuh setahun terakhir. Just read and enjoy it.

---


Beberapa waktu lalu, aku teringat akan sebuah janji. Janji ini berawal dari sebuah pertanyaan seorang supir taksi yang mengantarkanku dari adisucipto menuju jalan kaliurang. Kok taksi? Sebelum muncul perkembangan ojek online, aku adalah salah satu pengguna taksi setiap 3-4 kali per tahun dengan tujuan yang selalu sama. Jalan kaliurang – Adisucipto PP. Terus pertanyaan bapak supir apa?

Waktu itu, beliau akan mengantarkanku pulang ke kosan dari bandara, “Setelah kuliahnya selesai, bakal pulang kerumah atau cari kerja di rantau mbak?” tanya beliau dengan logat jawanya. Sempat tertegun, tapi kujawab, “Kayaknya saya pulang sih pak. Karena saya anak tengah dan adek saya laki-laki. Saya pengen nemenin orang tua di rumah. Toh disana juga banyak perusahaan (related dengan jurusanku),” jawabku tegas dan yang sebenarnya tak kupikirkan setelahnya. Tapi aku lupa apa jawaban dari bapak supir, yang kuingat aku pernah berkata seperti itu.

Banyak tahun berlalu, aku kembali merantau. Kali ini untuk bekerja dan sudah berjalan satu tahun. “I’m not supposed to be home,” itu yang terlintas dibenakku ketika teringat percakapan beberapa tahun yang lalu. Mungkin orang tuaku akan sedih kalau tahu apa yang terpikirkan olehku. Tapi aku sudah mencoba untuk tetap tinggal dan menemani mereka.

Di pertengahan tahun 2016, aku resmi menjadi seorang sarjana. Sarjana Teknik Kimia, impianku sejak lama. Tidak ada yang menuntutku untuk lulus tepat waktu, 3 tahun 9 bulan waktu yang kubutuhkan untuk tutup buku dan dinyatakan lulus. Agustus 2016, tali togaku berpindah. Disaat itulah aku resmi menjadi jobseeker (re: penggangguran). Mengisi waktu luang menunggu panggilan kerja dan wisuda kala itu, aku dan seorang teman baik membangun sebuah usaha. Usaha yang kami bangun karena hobi dan seorang teman lain menyarankan kami untuk membuka usaha ini. Walau tak berjalan lama, usaha ini membuatku punya uang jajan setiap bulannya, walau tak banyak. Akan kuceritakan lain waktu untuk lengkapnya.

Lalu di pertengahan September 2016, aku mulai mendapat tuntutan untuk segera kembali ke kampung halaman. Saat itu sedang semangat-semangatnya untuk mencari pekerjaan dan membangun usaha, mencari pelanggan dan supplier terbaik. Sebulan berlalu, awal Oktober tuntutan ini mulai gencar dibangun oleh orang tuaku. Padahal saat itu, aku sudah menjelaskan apa goal dan apa yang aku kerjakan. Akhirnya aku meminta kesempatan selama 2 minggu, karena bersamaan akan diadakan jobfair di pertengahan bulan dan meminta perpanjangan 1 minggu sambil menunggu panggilan kerja. Tapi apapun yang kulakuan saat itu, aku tetap harus kembali. Dengan berderai air mata, I was back home. Pamit dengan banyak orang, teman terbaik, sahabat tercinta, dan banyak lainnya. Dengan berat hati, dengan banyak pelukan dari orang terdekat, aku kembali, tanpa senyum merekah dan dengan langkah berat. Aku sudah rindu mereka meski aku masih di kota yang sama.

Sampai dirumah, ketika kenanganlah yang hanya tertinggal di rantau, aku makan dengan tidak selera. Aku membuka koper dan tas ransel, isinya penuh dengan hadiah perpisahan. Aku lantas menangis. Short story, aku sudah kembali ke rumah untuk selama dua minggu. Mulai banyak batasan-batasan yang dulu tak pernah berlaku ketika aku merantau. Dilarang sering keluar rumah, dibatasi ketika harus cari kerja diluar kota, tidak bisa berkunjung terlalu lama kerumah keluarga, dan banyak batasan lainnya. Aku banyak menangis di rumah. Semua yang kulakukan, walaupun itu sudah sebagaimana mestinya, tetap saja itu salah. Desember 2016, kurasa itulah puncaknya. Tidak butuh waktu yang lama untuk menyadari aku kehilangan konsentrasi, aku banyak melamun, aku sering sakit, akhirnya aku jadi pelupa, dan jadi bahan cemoohan lagi. Hingga seorang teman dekat mengundangku ke nikahannya sebagai panitia kecil dinikahannya. Acara di bulan maret 2017 dan akhirnya aku bertekad untuk bisa hadir di acaranya. Aku mulai mencari pekerjaan kembali, walau harus diterima di kampung halaman, aku mencobanya. Ya, I tried many times to applied and no one accepted me at that time. Dan puncak dari segalanya terjadi ketika aku harus berhadapan dengan kenyataan, bahwa aku benar-benar susah untuk kembali hidup dirantau. Saat itu, aku dilarang untuk melamar pekerjaan, dilarang untuk sakit, dibatasi untuk bertemu teman, dibatasi untuk berpergian, dan akhirnya aku mendapat cemoohan lagi. Aku sangat kecewa saat itu, kalau itu orang lain, mungkin akan kubiarkan saja. Tapi ini dilakukan oleh orang terdekatku.

Aku lahir dan besar dilingkungan yang keras selama 18 tahun dan akhirnya berpindah selama 4 tahun ke daerah rantau, membuatku banyak belajar. Banyak sekali. Aku bukan orang yang bisa menyombongkan diri, tapi kalau kata kebanyakan dari mereka, “Berpindah membuatku jadi sok lembut dan membuat orang tuaku susah,” dan aku tak pernah tahu apa yang terjadi didalam hidupku. Februari 2017, kulewati dengan banyak harapan. Aku katakan ingin liburan sejenak ke keluargaku, aku ingin mendatangi nikahan sahabatku. “Ngapain sih? Berapa lama? Emang sepenting itu kawanmu itu? Kamu udah gak peduli......?” begitu tanggapan beberapa orang. Yang kulakukan adalah mencari alasan kembali yang masuk akal dan meyakinkan mereka kembali (yes, aku menemukan jadwal pameran lowongan kerja yang wajib untuk didatangi). Walaupun pertanyaan itu terus berulang, aku coba untuk tegar kembali meski rasanya sesak dan kala itu, aku memesan tiket pesawat tanpa melihat ke belakang. Tujuanku sudah bulat. Aku ingin mulai mencari pekerjaan kembali, mendatangi acara nikahan temanku, dan mulai bekerja.

Usaha tidak membohongi hasil.

Aku kembali ke kota rantauku, yang kurindu, bertemu banyak teman dekat, makan makanan favorit, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan. Sebuah pencapaian yang bahkan tidak pernah mendapatkan pujian selama satu tahun ke belakang. Kalau kuingat percakapan yang kulakukan setiap hari dengan orang tuaku saat aku tes kerja, yang mereka ucap tidak selalu menenangkanku. Kenapa begitu? Karena mereka tahu, aku akan berpindah lagi jika aku diterima. Di pagi hari itu, interview terakhir dengan manajemen perusahaan dan aku menjadi peserta pertama pagi itu. Apa yang aku pelajari malam harinya sudah lenyap, aku malah banyak mengobrol dengan seorang teman. Interviewku cukup lama dan akhirnya aku diterima (re: sampai sekarang, I’m still here). Pesan mereka padaku saat itu adalah, “Setelah ini kamu telpon orang tuamu dan bilang ‘ma, aku lulus. Aku diterima kerja’,” aku hampir menangis saat itu dan yang kulakukan adalah melakukan pesan beliau tadi. Guess? No one answered my phone and not replied my message at that time. Padahal aku tahu, di jam aku menelepon mereka, mereka bisa mengangkat telpon atau membalas pesanku. Jeda yang cukup lama, aku menerima pesan yang tak tepat untuk disampaikan kepada orang yang penuh penantian.

You know, I did my best to be here. Dengan perbandingan 30:2000an sekian orang, aku menjadi salah satu orang dari 30 orang tadi. Dan menjadi seperti yang sekarang adalah perjalanan yang cukup panjang bagiku. Walaupun belum pernah ada pengakuan dan selalu ada tuntutan yang tidak pernah aku mengerti. Kadang kala aku butuh seorang kawan (calon) psikolog untuk menjadi tempat curhatku, kadang kucurahkan di secangkir es kopi, atau kepada seorang kawan untuk melihat dan menenangkanku saat aku mulai berderai air mata karena kekecewaanku.

Apa keluargaku tahu tentang ini dan mengerti? Tidak semua, hingga akhirnya aku benar-benar bertahan di tempatku yang sekarang. Mama mungki pernah menangis dan kecewa karena anak perempuannya yang satu ini selalu bisa membalas perkataannya dan mungkin juga menangis dengan apa yang dihadapi dan diterima anaknya yang keras kepala ini.

“Yes, I’m not supposed to be home and I wanna have life far away from home.”

That exactly that I’m thinking now. Aku membayar untuk tinggal dirumah dengan selalu kembali setiap 3 atau 4 bulan sekali ke rumah. Aku tidak ingin kecewa dan sakit lagi. Mentality disorder terlalu jahat daripada sakit tipusku kambuh.

Semua orang punya alasan untuk tinggal dan pergi. Yang kita dibutuhkan bukanlah larangan untuk seseorang tinggal dan pergi sesuai keinginan kita tapi pasti selalu ada alasan dibalik keputusan untuk tetap tinggal dan pergi. Andai aku ingat siapa bapak taksi yang menanyakan pertanyaanku di awal paragraf, aku ingin memberikan jawaban baru, dari seorang aku yang sudah mulai dewasa.

“Pak, saya ingin membahagiakan orang tua saya dengan sepenuh hati, dengan cinta yang tulus. Bukan karena paksaan dan penuh kekecewaan. Saya ingin menunjukkan kehadiran saya dengan senyum yang merekah dan penuh cerita-cerita yang tidak pernah mereka dengar sejak saya merantau 6 tahun lalu. Kalaupun mereka rindu, saya bisa pulang ke rumah ataupun mereka bisa mengunjungi saya.”


With love,
re.

10 Desember 2017

Kita dan Nanti

Saya diam ketika hendak bicara
Kamu bicara dengan lagak kasarmu
Apa kamu marah?

Saya hanya terhenyak ketika semua itu tidak terjadi
Hanya saja, kamu terkejut ketika kamu tahu,
Saya tak akan berbicara padamu
Tapi kepada kita di masa depan.

Akankah kita masih akan bersama?

Kita dan Kata

Kita tak banyak berkata kala bertatap
Kita hanya saling bercerita tentang banyak jiwa
Jiwa yang selalu kita kagumi

Kita tak bicara tentang kita
Senyum kita tak terkendali ketika mata saling tatap
Lalu kembali berkata tentang jiwa lainnya

Kita tak rela berpisah ketika sudah waktunya
Kita hanya saling bicara dalam hati
Sudahkah saatnya?

Aku bertanya karena hatilah yang bertanya
Aku berkata karena rindulah yang berkata
Aku diam ketika mulut tak henti tersenyum
Karena aku bahagia.




10/12/17

9 Desember 2017

Diam dalam Dia

Dia bercerita dalam diamnya dia.
Dia sebuah nestapa yang hadir dalam kehangatan.
Kupikir dia hanya berkelana tanpa berniat tinggal.
Dia tinggal untuk waktu yang lama,
kemudian dia pergi berkelana kembali.

Dia bercerita dalam diamnya dia.
Dia adalah sebuah awal gejolak jiwa dalam dinginnya pagi.
Dia adalah awal dari perdebatan hati yang selalu ingin dia tinggal.
Tapi dia selalu punya jalan untuk selalu pergi
lalu kembali jika sudah saatnya.

Dia bercerita dalam diamnya dia,
dan kamu adalah yang mengerti dengan diamnya dia.
Tidak denganku.





09/12/17

15 Oktober 2017

See you, love!

Its not the story that I won't happen in my life. But, God has the plan for me in my life since I was birth yet. Before I go trough the paragraph what I wanna share, you know, I almost 23 yo and I didn't realize it till yesterday. 

November 2, I don't know what I wanna reach in my life for real. I'm doing what I have to not what I wanna do. I think, I need to be prepare again and realize if I have to do something real. I hope I can be a better person for everyone who close to me and for my God. Amen. 


------





The (real) title : See you when I can see you, love!

I wanna get a good partner so I'm trying to be a good person. Maybe not now, but someday, I hope, we will meet as good person with good personality, habit, in  good mood and best time. 

We're trying to denial what the feel right now. I hope, we will meet again in the right time with best smile and have best food ever.

You know, it was nice to met you last month. I'm happy till now and I remembered everything what we did together. Although, maybe it was wrong decision that I made but at least, I got the facts that I ever know. This is the reason why I choose the title.

Location : dialogue art space
Taken photo by : desty.permata
Date : October, 15 2017

4 April 2017

RIP

It's time to let him go for real.
I'll miss you so much, pa!

-----

My grandfather passed away this morning. I was shocked for a while. I need to yo work but I'm sad. It's totally make me sad.

I called him papa ayi cause some reason we called like that. So, I'm here and far away from my home. I called my family and I tried to get the information but I totally cried cause of it.

I wanna go there but I had class and went to company today. I joined the group and I was happy. When I'm alone, I cried myself and thought what I can't do.

He's my super grandpa btw. He would ask me about tobacco and sometime I bought for him. I wasn't meet him a long time ago. Maybe 1 months ago.

I hope, he gets a good place in heaven. Amen.

19 Januari 2017

Aku dan Logika

Aku, kamu, dan logika kita..

It's been a while since I wrote my last story. Aku pengen cerita. Cerita yang gak akan aku pernah tahu akan pada siapa aku ceritakan. 

Kamu. Kamu yang ada, pernah ada, dan sudah hilang entah kemana. Aku tidak pernah membenci seseorang, baik itu kamu ataupun dia. Kalo orang bilang aku itu terlalu baik, mungkin bukan tapi polos lebih tepatnya. Aku tak pernah bisa berkata, "what do u you want from me?" but I'll say, "it'll be okay, right?" Aku tak pernah sadar dan seakan tak sadar sampai hari ini. Hati ini masih tertutup karena bukanlah hal mudah untuk segera melupakan. Bahkan tak hanya satu, lebih. 


Ingin mengakhiri dan melupakan, but its hard to do. So, what should I do? Aku hanya selalu berpikir sendiri sampai hari ini. Sampai pada akhirnya ada yang bilang, "kamu baik-baik ya disana." tapi setelahnya pergi kemudian. Selalu begitu. And I said, "I will." by the way. 


Ini 2017, status tanpa pekerjaan, berada di rumah, yang seharusnya jadi tempat paling nyaman dan menyenangkan untuk ditinggalkan tapi itu hanya mimpi belaka, berjuang sendiri, dan terluka sendiri, dan bingung maunya apa. I ever said, "I will to do something in this year." I hope I can do that and more to do that. 


Tuhan selalu punya cara buat negur hambanya. Mungkin belum banyak yang tahu kalo aku pengen banget buat kembali ke daerah rantau. Daerah yang istimewa tapi memang begitu adanya. Sejenak cukup. Setelah tahu ada yang salah dan Tuhan kasih petunjuk, aku dapat hadiah kesempatan itu untuk kembali kesana. Semoga segera. But, I dont know when. Seperti halnya soal hati. Tuhan sudah menetapkan dengan siapa kita berjodoh. Maka menjadi seorang yang belum punya pasangan, tak menjadi perihal yang kelewat penting. Ketika kita meminta orang yang pantas dengan kriteria begini dan begitu, akan ada pertanyaan timbul : "Sudahkah aku sesuai dengan kriteria orang lain?" manusia tidak akan pernah merasa puas. Tapi memantaskan diri adalah pilihan pertama untuk dilakukan jika memang benar ingin mendapatkan pasangan yang pantas pula. Kalau menurutku, punya teman, sahabat, partner yang baik, banyak omong, dan setia adalah salah satu kesempatan yang gak akan pernah aku sia siakan. Daripada sahabat harus berakhir ke ikatan cinta terus menjalani hubungan pacaran kemudian putus? Habis sudah. Kali aja, jodoh kita diantara sahabat kita itu. Siapa tahu kan (ini mah ngarep re-).

Ingatlah satu hal, setiap orang punya cara, sifat, pikiran, kebiasaan, dan lain sebagainya berbeda beda. Jangan samakan semua, jangan saling menyalahkan, dan jangan lain menjatuhkan. Gunakan logika yang sesuai dengan fakta di lapangan. Berpikirlah sejenak sebelum logika itu diutarakan, jangan sampai menyakitkan orang lain. 

Nah, untuk kamu. Aku sudah terus memutuskan tapi ternyata keputusan itu belum mantap. But you're my best I ever had. Tawa, bicara, dan muka keselmu itu bikin rindu dan buat aku patuh. Rindu karena memang rindu dan patuh karena semua yang kamu katakan memang benar adanya. Jadi, yasudahlah. Aku cukup mundur beberapa langkah lagi dan benar-benar melupakan. 


Absurd story for first post in this year. By the way, HAPPY NEW YEAR 2017.



Love,
R

20 Desember 2016

Menulis Sajalah

Mari menulis sajalah. Tentang apa saja tidak akan masalah, buatku. Toh ini lebih baik daripada orang lain tahu tentang ini. Tapi bagaimana ya menceritakannya? Aku bertanya padamu, kamu pun bingung. Apalagi aku.

Bagaimana tentang sebuah cerita beberapa bulan lalu? Tapi aku jadi rindu. Tidak jadilah.
Lalu,
bagaimana kalau tentangmu? yang aku pun tak tahu kamu sedang apa dan dimana #janganpakejogetya.

Tentang kamu, di pulau seberang. Dulu, masih sangat mudah untuk menemuimu walau tak ada alasan untuk bertemu intens. Tapi bertemu dan mengobrol denganmu adalah hal yang paling baik, membuatku lebih baik tepatnya. Jika saja kamu menyadarinya, ya aku tertarik denganmu. Ya masih saja dengan sifatku. Semua tak mau aku paksakan, entah itu kapan dan apakah bisa, semua masih nyaman dengan hubungan sahabat seperti ini.

Aku lupakan sejenak. Seorang teman pernah bertanya, sesaat sebelum flight, "Sama dia udah ketemu mbak?". "Sudah, semalem dan itu pengen banget ketemu katanya dia," jawabku. Sesaat kemudian, kami berdua akhirnya tersenyum dan berpelukan.

Aku selalu tersanjung dengan sikap dan perkataannya. Kemungkinan karena memang umurnya yang dewasa dariku. Cause I really like to have big brother, so I decided to listen his words and followed his good habbit.


Udah ah gitu aja :)

14 Desember 2016

Celoteh Ringan

Malam ini, masih belum terbaca apa yang harus kulakukan ke depan. Kuliah lagi kah atau tetap bekerja atau ingin berwirausaha? Entahlah.
Tapi pikiranku, yang sedikit egois, membiarkan aku berceloteh ringan dan berat yang hanya berhenti dikepala dan hatiku. Aku berbicara dengan diriku sendiri. Aku sedih, marah, senang, memaki, dan menangis dengan diriku sendiri. Berbahayakah aku? Entahlah.
Mereka bilang, aku tak sendiri, selain Tuhan yang selalu ada dan ditempat-Nya. Tapi aku tak merasa begitu. Atau hanya aku saja yang menghilang dan lupa caranya kembali? Entahlah.

Malam ini, aku mengembalikan sedikit ingatan ke beberapa hari lalu. Seorang mengatakan padaku, "Nulis lagi sih, nanti aku baca," yang ia sampaikan melalui pesan singkat. Aku membalasnya, "Tentang apa?" karena aku mulai lupa bagaimana merangkai kata -ini saja mulai lelah. "Tentang keceriaan, biar kamu ceria," balasnya. Kata-katanya cukup menohok perasaanku. Tentu saja, ia tiba-tiba mengatakan itu setelah aku bilang rindu padanya. Tentu saja kami tidak bisa bertemu dalam waktu dekat, karena jarak. Ia ingin menghibur diriku dengan cara yang tentu saja bisa aku lakukan. And I'm here.

Malam ini, sudah sejak (kurang lebih) 2 jam lalu, aku berkutat dengan situs blog ini dan blog sebelah. Aku membenahi apa yang berantakan dan mengganti yang sudah usang. Aku tahu, ini tak pernah membosankan. Hehehe, untung ia mengingatkanku. Bukan hanya ia saja sebenarnya.

Malam ini pun, aku menemukan beberapa tulisan temanku yang beredar di dunia maya. Tapi jujur saja, aku tak pernah mengaksesnya. Karena aku tidak tahu. Aku tergerak membangun sisi lainku yang sudah kutinggalkan, karena banyak orang dan banyak hal. Tapi jangan samakan tulisanku dengan mereka. Karena aku lupa caranya berdialog sebaik mereka.

Aku mulai melantur, maka aku sudahi saja celoteh ini. Selamat malam.


nb: Aku tambahkan situs temanku itu :)
1. Sepantar  - tulisan seorang mantan pemimpin
2. Melawan Malas  - tulisan seorang pemimpin
3. Saratalinga  - tulisan calon pemimpin
4. En Negli Ge -  tulisan calon pemimpin

9 Desember 2016

#9 Si Pemimpi Kecil : My Back Up~













My favourite person in this world! 

Temen diskusi, temen curhat, partner kerja, partner berantem juga, pergi, jadi atasan-bawahan, temen ngopi, ah lainnya dah.

'emang reiny cewek? Bukan dia mah.'

'itu loh bajunya kok dibuka depan aku? / emang kamu peduli? Kamu juga kok yang liat ren. / iya juga sih.'

'ren, kalo ini inget gak gimana? / apa sih?'

'Jangan marah dulu ya, aku mau cerita -lalu ceritalah panjang lebar- jadi gimana ya? Berangkat gak? / ya pergilah. Kapan lagi loh / tapi yang aku tinggal gimana? Mau bantuin back up kah? / Iya mudah itu, nanti yang lain juga banyak. / -berangkat lah aku.'


dan pengen peluk mereka.

1 Desember 2016

First of December

It's been once month and I'm here again. I did everything and I really wanna tell them, 'please call me rei or re!'.  I think it will be mood booster for me. Hahaha, forget it cause it will be in my dream.

so, whats happening to me? I don't know. I didn't nothing for real. I can't find Reiny like usual. Be a busy girl, moody person or like usual Reiny till October 26th, 2016. Its real me. Can I find her again? Yes, I hope.

So sorry for my words and anything did by me and thank you so much for having me. It will be great to see you again guys. Someday and somewhere, I have to meet you guys, like usual I did.

By the way, Welcome in December guys. Hope this month make us happy till end this year!
bye guys,
love you.
Rei :)

28 Oktober 2016

#8 Pemimpi Kecil : Orang Dibalik Si Kecil

aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasihku, mengucapkan kata maaf, mengucapkan selamat tinggal, dan mengucapkan 'aku pergi' kepada mereka ini. hanya sebagian kecil orang yang mengantarkan aku menjadi sesosok reiny, rei, re, mbak rein, reni, dan apapun panggilan itu hingga sekarang.

aku bukanlah orang yang pandai bercerita indah, dengan susunan kata yang pas atau dengan sikap yang baik. aku tidak pernah memikirkan bagaimana respek yang akan orang lain berikan padaku jika aku banyak bicara karena terkadang aku hanya ingin didengarkan. jika aku dimarahi, maka aku akan ngambek dan berhenti bicara atau akan pura-pura tidak peduli padahal aku peduli. memang, penyesalan selalu datang terakhir dan aku belajar untuk tidak terus-terusan menyesal dan terlalu peduli lagi,

aku jenis orang yang mudah paham dengan karakter orang lain, apalagi jika aku harus berhadapan dengannya untuk waktu yang lama. itu untuk pertahananku, jujur saja. karena aku harus bertahan di segala jenis lingkungan. karena kebiasaan 'pemahaman' itu, maka aku punya banyak kepribadian, aku bisa menjadi pendengar saja yang baik, bisa jadi cerewet, manja atau hanya menjadi angin lalu saja. aku berusaha untuk selalu jadi orang yang baik di mata orang lain. 

maka dari itu, aku ingin menghargai diriku, orang lain, keluarga, dan banyak orang di sekitarku. Ini adalah sedikit orang yang berada disekitarku, membantuku menjadi pribadi seperti yang sekarang.








mereka banyak, ya banyak. 
they're my lovely one beside my family.
see you soon, sisters and brothers!!!

ILOVEYOU
sorry, kalo aku alay yah?


regards,
rei :)

26 Oktober 2016

#7 Pemimpi Kecil : aku pulang

Tidak ada yang patut disalahkan dengan kepulangan ini. Sebuah kewajiban? Begitu aku sampaikan alasanku kepada temanku. Ada lagi yang bilang, bener nih buat permanen pulang? Ya bisa jadi, begitu jawabku tadi dan kemarin.

Ketika tiba-tiba banyak orang mengantarkan aku, ya katanya untuk perpisahan, walau aku gak tahu apa ini benar-benar kesempatan terakhir, aku tidak pernah bisa menjamin. Hanya ada sebuah perasaan ingin kembali dan akan kembali suatu saat nanti.

Memang benar, aku bukanlah orang yang dengan mudah menyampaikan perasaanku yang sebenarnya hancur berantakan, perasaan yang sedih sangat mendalam, perasaan terharu yang sangat, dan perasaan-perasaan lain yang tidak bisa aku ungkapankan. Hanyalah setitik air mata yang keluar dan itu pun berbarengan dengan tawa dan senyum, sebut saja itu palsu. Walau tidak sepenuhnya. Aku tidak ingin menangis dan aku juga tidak ingin melihat orang menangis karena aku. Bahkan orang lain bersedih karena aku pun, aku tidak mau.

Keputusan pergi ini, bukanlah hal mudah. Berat, seperti kukatakan sebelumnya. Bahkan aku lupa dalam menulis ini, harusnya aku menggunakan sudut pandang kedua. Si pemimpi kecil yang menjadi subjek utama. Tapi biarlah.

Satu persatu kenangan memang tak bisa kutuliskan bahkan untuk disebut pun rasanya sesak. Pelukan untuk dan dari seorang sahabat, yang biasanya tidak ingin sama sekali aku peluk, akhirnya pelukan itu ada. Untuk melepas rindu dan kepergian.

Satu persatu rasa bangga, bersalah, bahagia, sedih, kesal, marah, cinta, suka, dendam dan sebagainya berkumpul menjadi satu. Jujur, tidak ada penyesalan di sini. Hanya sesal akan sedih dan marah karena aku sebagai penyebabnya. Aku terima sebuah bunga yang tidak lagi segar, sebagai ungkapan kesedihanku katanya. Tapi terima kasih banyak ya teman.

Memang, tidak banyak yang bisa aku katakan. Maafkan semua kesalahan ku yang sengaja atau tidak, apabila sudah menyinggung, maafkan lah aku. Dan terima kasih banyak untuk semua nyaaa. Banyak sekali, bahkan aku tidak pernah bisa mengingat semuanya jika diminta untuk diurutkan. Sama, aku malas. Hanya dengan susunan kata-kata ini yang sebenarnya mengisahkan apa yang sedang aku pikirkan, yang ingin aku katakan. Kalian tau kan aku banyak bicara? Ya begitulah aku. Aku masih ingin menjadi diriku sendiri.

Ketika aku pergi, bukannya tidak berniat untuk kembali. Bahkan, aku minta tunggulah aku kembali menemuimu, suatu saat nanti. Dan tidak perlulah menungguku pergi lagi karena kerumahlah tempatku akan kembali.

Maaf dan terima kasih. Sampai jumpa lagi. Tenang, zaman sudah sangat maju. Klik call, semua beres. Cukup sekian, dariku. Sampai jumpa lagi.

Dari seseorang yang menyayangi kalian dan selalu ada untuk kalian, insya allah.
Reiny :)
Ditulis di pesawat yang sedang terbang di atas awan, yang sangat cerah. 09. 35 wib. 26 oktober 2016.

*maafkan tulisan ku yang terlalu banyak pemborosan kata dan tata bahasa yang hancur. Belum masuk redaksi sih. Hehe.

#6 Pemimpi Kecil : itu aku

The truth, si pemimpi kecil adalah aku dan aku juga yang menulis ini bersama hatiku. Aku menulis tentang diriku sendiri. Terlalu selfish bukan? Sebenarnya bukan itu alasannya, aku takut lupa dengan masa laluku, takut hilang. Bagaimana bisa? Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, ia, si pemimpi kecil, pernah melupakan masa lalunya yang kelam namun masa lalu yang lain juga ikut menghilang. Bisa begitu? Bisa. Semua itu terjadi padaku. Aku bahkan hampir tidak ingat semua ceritakan semasa di sekolah menengah atas. Jika kuurut, banyak sekali kenangan disana. Tapi sayang, ada satu bagian cerita yang tidak ingin aku kenang di masa depan dan aku berusaha melupakannya saat itu. Dan kenangan lain seakan hilang. Aku sudah untuk mengingatnya.

Alasan aku menulis tentang diriku sendiri karena aku ingin menghargai diriku sendiri. Bagaimana aku menjalani diriku sendiri sampai hari ini,  saat orang lain tidak pernah sadar kehadiranku.  Perjalananku ini tidak sendiri. Sebagai harapan, aku ingin kado ulang tahun ke 22 tahun ku adalah tulisan ku makin banyak dan ceritaku tetap berlanjut. Begitu, harapakku.
Banyak lagi yang ingin aku harapkan, aku ingin mendapatkan penghasilan sendiri, pekerjaan, dan kebahagiaan orang tuaku.

Aku tak ingin banyak membahas tentang harapan itu. Aku ingin mengulang masa lalu. Menceritakan tentang masa lalu. Biar suatu hari, ketika aku sudah lupa, aku bisa membuka lembaran ini kembali sebagai pengingat. Sebagai pemimpi kecil yang dilahirkan dari seorang ibu, diberi nama Reiny Handayani Paulus.

25 Oktober 2016

#5 Pemimpi Kecil : sudahkah ia dewasa?

"Yap, I need to go home," si kecil mulai berbicara.

----

Sebenarnya ia tidak benar-benar masih kecil, sebentar lagi ia menginjak umur 22 tahun.  Bukan lagi si kecil, ia sudah dewasa. Baik usia dan sifatnya - yang sudah kelewat dewasa kadang. Jadi, si pemimpi kecil mulai menyusun rencananya lagi. Ia mengalami kesalahan dengan tidak mempersiapkan tujuannya di masa depan dengan baik. Sebut saja ia masih berada di zona nyaman. Kukatakan itu berbahaya, benar saja.

Ia, gak pernah ingin lepas dari masa lalu nya dengan semuanya. Memang tidak banyak yang ingin dia lupakan, sayangnya semua memori terasa hilang atau karena hidupnya sudah hampir melewati angka 22 tahun? Benar saja, dia tidak tahu. Saat kutanya, ia tak mampu jawab. Kebiasaan, ujarku.

Jadi semenjak ia ingin melupakan sesuatu dari masa lalu, ia mulai menyusun banyak hal untuk menyusun rencananya di masa depan meski banyak kejutan-kejutan untuk menggapai nya. Benar saja, dia menyelesaikan nya dengan baik. Itu menurutku, entah yang lain. Tapi tak banyak perjalanan yang ia inginkan untuk dilupakan, banyak hal yang ingin dia ingat selamat empat tahun terakhir. Bayangkan, satu tahun lalu ia hampir tak mengenali dirinya. Berat badannya turun, karena ia makan sehat selama satu bulan, baguslah. Pipinya masih chubby dan gemas untuk dicubit. Sayang tidak dengan hati dan pikirannya, dia hancur.

Selama dua bulan setelah 15 September 2015 tampaknya, ia hanya mengerjakan tugasnya yang sempat ia titipkan sejenak. Walau harus terserang demam dan batuk serta flu yang tak kunjung sembuh, bahkan penelitian tiap minggu yang ia kerjakan, semua dia kerjakan. Untuk melupakan kejadian itu. Dia tidak ingin kembali mengingat tapi ia sadar, jika ia ingin melupakan lagi ia akan kehilangan kenangan yang lain. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia harus dipaksa ke dokter dan menemukan sebuah keajaiban, bahwa ia bisa menangis sejadi - jadinya setelah ke dokter dan bertemu orang lain, orang baru.

Orang baru itu banyak. Aku hanya ingin menjelaskan si pemimpi kecil yang mulai kehilangan arah ini. Dia mulai semangat lagi. Setahun terakhir, mengejar targetnya untuk segera selesai penelitian, selesai magang, dan selesai mata kuliah. Dia harus menyusun tugas akhir dan menyelesaikan majalah, Deadline terbesar nya di bidang non akademik bersama lembaga yang iya ikuti.

Banyak waktu untuk penelitian, satu bulan untuk magang, dua bulan untuk tugas akhir, dan sembilan bulan untuk Majalah. Juga ditambah ia masih harus ujian, karena ia masih ada mata kuliah. Semua ia lakukan bersamaan. Hatinya yang hancur, bahkan sangat, tak bisa berpura-pura di depan orang, apalagi untuk orang terdekat. Aku lewatkan lagi bagian ini. Begitulah ia dekat dengan orang lain walaupun harus malu dan mendengarkan sahabat terdekat nya marah.

Ia tidak ingin melupakan, ia ingin mengenangnya dengan kenangan yang baik lainnya. Ia tahu apa yang butuh pengorbanan, apa yang harus diperjuangkan, dan apa yang harus ditinggalkan. Walau susah, she is trying now. Believe or not.

Lalu apa hubungannya tentang rumah? Maaf aku lupa, katanya dia harus pulang ke rumah. Aku mendukungnya walau aku tahu itu berat baginya. Begitulah dia. Tapi ia sudah siap. Semoga. Akan aku tanyakan lagi padanya. Ia terlihat tak terurus beberapa minggu ini, kurasa. Ia lelah karna kaburnya ia tak ingin pulang kerumah, waktu lalu. Besok lagi, katanya. Ia tak ingin cerita kembali, sedih dan mengantuk. Aku sudahi dulu tentang si kecil.

18 Oktober 2016

#4 Pemimpi Kecil : Ia Kuliah

Cerita di pemimpi kecil yang terlewatkan.

Setelah menjalani tugas sebagai siswa selama tiga tahun di SMA Kumbang, akhirnya dia melanjutkan kuliah di jogja - aku sudah katakan sebelumnya - di sebuah universitas islam dan swasta. Universitas Islam Indonesia dan kembali swasta. Si pemimpi kecil memutuskan ujian seleksi setelah gagal mengikuti dua ujian masuk ke dua universitas negeri dan atas tuntutan orang tua, dia tes dan lolos. Sebuah jurusan yang cukup aneh untuk seorang perempuan - tapi banyak perempuannya loh dia bilang - seperti dia, Teknik Kimia. 

Menyandang status mahasiswa, seringkali membuat dia melakukan banyak hal yang tidak pernah dilakukannya selama menjadi siswa. Apalagi berada dirantauan, seperti naik gunung, rapat dan pulang malam, naik kereta murah, dan lain sebagainya. Si pemimpi kecil menyalurkan hobinya dalam dunia tulis ke sebuah lembaga jurnalistik kampus. Sebut saja Lembaga Pers Mahasiswa PROFESI. Tetap menjadi dirinya yang apa adanya, ingin tahu banyak hal, dan peduli, ia menghabiskan hampir seluruh waktu senggangnya di lembaga itu. Tiga periode berurutan dari tahun 2013 sampai 2016, hingga ia lulus dan wisuda pun masih saja ia berkecimpung di lembaga itu karena sebuah tanggung jawab yang belum selesai. 

Terlalu banyak cerita si pemimpi di lembaga itu, bagaimana kuliahnya? Ia adalah mahasiswi yang biasa saja, kuliah ya kuliah. Mengerjakan tugas juga, ikut ujian, bukan termasuk mahasiswa cumlaude juga. Dia seseorang pemegang teguh jika ipk sudah 3 koma sekian, itu cukup. Dia tak terlalu pintar dan juga tidak terlalu bodoh juga. Si pemimpi kecil bukan siapa siapa di bagian akademik, tapi soal 'berita' perihal kampus, tanya dan diskusikan dengannya. Kenapa? Karena ia jurnalis kampus yang sah sebelum akhirnya ia resmi menjadi alumni kampus sejak 27 Agustus 2016 lalu. 

Selama kuliah juga, banyak kegiatan akademik yang menyenangkan dan juga tidak. Begitu katanya. Empat tahun tak terasa. 2012-2016, ia menepati janjinya untuk lulus tepat waktu walau tidak mencapai nilai ipk cumlaude. 

Aku ingin mengucapkan selamat untuk si pemimpi kecil, untuk kelulusannya, untuk kepribadian yang sudah lebih baik dari sebelumnya, untuk menghargai setiap cerita dalam hidupnya, dan selamat berbahagia. 


Nb: aku masih ingin menceritakan banyak hal dengan latar belakang kampus nya si pemimpi kecil. 

24 September 2016

Tentang Hati

Banyak pengertian tentang hati. Hati sebagai organ yang ada di tubuh manusia, sebagai bentuk kewaspadaan, ada juga hati sebagai tempat segala perasaan dan menyimpan perasaan itu. Ada 8 pengertian hati dari kamus besar bahasa indonesia. Yang mau ku bahas adalah hati sebagai tempat segala perasaan dan tempat menyimpannya. Ada apa dengan hati?

Begini, terlalu banyak orang di sekitar kurang pengertian dengan hati. Doi memang terlalu sensitif, tergantung sang pemilik menentukan. Bagaimana orang tersebut menyampaikan isi hatinya dengan sesama manusia maupun dengan benda mati. Aku pun sama, aku tak pernah benar-benar bisa mengungkapkan isi hati itu secara keseluruhan dengan keluarga, sahabat, maupun tuhan. Bukan aku gak mau, tapi aku gak bisa. Belum bisa. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis lagi dan lagi. Sekalian berdoa sama yang pemberi rasa dan yang penentu, untuk memberikan jalan yang terbaik.

Harusnya tulisan ini aku tuliskan semalam, sayangnya ispa kambuh kembali. Jadi ini agak melantur sedikit.

Hati lagi, sebenarnya ketika kita akan percaya dengan hati kita, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Kalau pun akan ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Hati memang sensitif sih. Seandainya doi bisa ngomong, doi pasti menunjukkan kejujuran sebenarnya. Sayang, mulut sang pemilik hati lah yang harus mengatakan ataupun menunjukkan. Tapi manusia diciptakan otak juga untuk berpikir. Kadang tidak terjadi sinkronisasi antara hati dan otak. Begitulah.

Kalau aku berbicara tentang hati, maka hati-hati lah dengan hati.
Selamat pagi, semoga segera sehat kembali.